Deflasi Mei-September 2024 Sinyal Krisis atau Ekspansi Ekonomi?
Demi Ermansyah | 2 Oktober 2024, 22:08 WIB

AKURAT.CO Deflasi yang terjadi di Indonesia sejak Mei hingga September 2024 nampaknya telah menimbulkan berbagai reaksi dan analisis dari para ekonom.
Di mana banyak pihak mengkhawatirkan bahwa deflasi ini bukanlah indikator keberhasilan pengendalian inflasi, melainkan gejala dari melemahnya ekonomi dan daya beli masyarakat.
Sehingga secara tidak langsung tren ini menunjukkan bahwasanya harus dicermati lebih dalam sebelum menjadi ancaman nyata bagi pertumbuhan ekonomi.
Menurut Ekonom Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, deflasi dapat berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama karena kontribusi konsumsi rumah tangga yang sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Sebab dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB, penurunan daya beli masyarakat menjadi ancaman nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan tetap di angka 5 persen. Oleh karena itu, kalau gak ada intervensi kebijakan, target ekonomi tentu bisa meleset, hati-hati," ucapnya ketika dikonfirmasi Akurat.co di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Tak hanya itu saja, dirinya juga menyoroti penurunan konsumsi dari kelas menengah sebagai faktor utama dalam tren deflasi tersebut, sebab tekanan biaya hidup yang meningkat, serta pengurangan jumlah kelas menengah, telah memicu penurunan permintaan barang dan jasa.
Situasi ini pula diperparah oleh stabilnya pasokan barang kebutuhan pokok, sehingga harga tidak naik, tetapi justru memicu deflasi. Oleh karena itu, menurut Ronny, pemerintah harus segera meningkatkan belanja sosial dan produktif untuk menjaga daya beli dan mendorong lapangan kerja agar ekonomi tetap bertahan.
Senada, Direktur Ekonomi Digital dari Celios Nailul Huda melihat deflasi sebagai tanda melemahnya sektor ekonomi di Indonesia. Dirinya menyatakan bahwa deflasi lima bulan berturut-turut adalah bukti bahwa kebijakan pemerintah tidak tepat. Kebijakan yang diterapkan saat ini, menurut Nailul, telah memperburuk daya beli masyarakat, terutama dengan turunnya disposable income.
Nailul menganggap target pertumbuhan ekonomi 5% pada 2024 realistis, namun pencapaian lebih dari itu akan sangat sulit dengan situasi sekarang. "Secara tidak langsung, kebijakan pemerintah tidak berhasil dalam menjaga pendapatan masyarakat. Tanpa pendapatan yang cukup, masyarakat cenderung menahan belanja, dan ini berdampak pada sektor-sektor penting dalam perekonomian, seperti makanan, tekstil, hingga properti," paparnya.
Nailul menyarankan perlunya perbaikan kebijakan yang lebih berorientasi pada peningkatan daya beli masyarakat dan investasi sektor riil.
Sementara Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudistira juga menjelaskan bahwa dibalik tren deflasi adanya peringatan yang lebih serius bagi ekonomi Indonesia. Menurutnya, deflasi yang berkepanjangan di negara berkembang seperti Indonesia, yang tengah menikmati bonus demografi, adalah sebuah anomali.
Sisi permintaan yang terus melemah menunjukkan bahwa masyarakat sudah tidak lagi sekadar menahan belanja, melainkan uang yang mereka miliki pun semakin sedikit. "Ini adalah gejala yang lebih mengkhawatirkan, terutama bagi kelas menengah yang rentan. Tak hanya itu saja, deflasi juga memengaruhi rencana bisnis pelaku usaha, terutama di sektor-sektor yang terkait dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti makanan dan minuman, pakaian, serta properti," ucapnya.
Ketika indeks PMI manufaktur berada di bawah angka 50, ini menandakan bahwa sektor industri sedang mengalami kontraksi, dengan penurunan pembelian bahan baku yang berkelanjutan. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, Indonesia dapat mengalami perlambatan ekonomi yang lebih serius.
Intervensi Fiskal dan Peningkatan Produktivitas
Adapun Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede menambahkan bahwa pemerintah perlu segera mendorong peningkatan pendapatan masyarakat untuk mengatasi tren deflasi ini. Menurut Josua, deflasi lima bulan berturut-turut dapat diatasi dengan meningkatkan belanja produktif yang memiliki multiplier effect terhadap perekonomian.
"Meskipun angka deflasi ini dipengaruhi oleh komponen harga bergejolak (volatile food), indikasi penurunan daya beli masyarakat tetap tidak bisa diabaikan," imbuhnya.
Lebih jauh, Josua menyarankan agar pemerintah menjaga stabilitas harga pangan dan komoditas penting lainnya. "Hal ini penting agar masyarakat tidak semakin tertekan oleh harga yang bergejolak, sementara pendapatan riil mereka cenderung menurun. Kebijakan yang tepat harus segera dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 4Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 5Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Hasil dan Klasemen Liga Champions: Como Tenggelamkan MU, Real Madrid Merangsek ke 3 Besar
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot






