Akurat

Trump Sebut Bank Sentral AS Tak Punya Visi

Demi Ermansyah | 20 Agustus 2024, 15:23 WIB
Trump Sebut Bank Sentral AS Tak Punya Visi

AKURAT.CO Donald Trump menanggapi kritik bahwa dirinya dianggap telah melemahkan independensi Federal Reserve (The Fed) dengan menyatakan bahwa dirinya memiliki hak untuk menyampaikan pandangan tentang kebijakan suku bunga.

"Saya pikir sah-sah saja bagi seorang presiden untuk berbicara. Itu tidak berarti bahwa mereka [bank sentral] harus menuruti," ujar Trump dalam wawancaranya dengan Bloomberg News.

Trump mengungkapkan bahwa selama menjabat di Gedung Putih, dirinya sering berdebat tentang suku bunga dengan Gubernur The Fed Jerome Powell. Trump mengakui bahwa perdebatan ini mungkin berpengaruh, mungkin juga tidak terhadap kebijakan moneter.

"Presiden tentu bisa berbicara soal suku bunga karena saya merasa memiliki insting yang baik, tentunya hal ini bukan berarti saya yang memutuskan, tetapi yang saya rasa, ya saya berhak membicarakannya seperti orang lain," ucapnya kembali.

Seperti yang diketahui, kenaikan suku bunga akhir-akhir ini telah meningkatkan perhatian publik terhadap keputusan-keputusan The Fed, sebab biaya hipotek yang semakin meninggi menjadi hambatan bagi para calon pemilik rumah.

Bahkan dilaporoan pekan lalu, Wakil Presiden Kamala Harris mengumumkan rencana untuk membuat perumahan lebih terjangkau dengan memberikan bantuan uang muka sebesar USD25.000 kepada pembeli rumah pertama.

Baca Juga: Rupiah Turun Tipis 2 Poin Jelang Putusan Rapat Gubernur Bank Sentral AS Nanti Malam

Tak menunggu lama, Trump pun mengkritik gagasan yang dikeluarkan oleh Harris sebagai salah satu gagasan terburuk yang pernah ada, bahkan trump memperingatkan bahwa kebijakan tersebut akan memperburuk kekurangan perumahan dan malah hanya akan menaikkan harga rumah.

Namun, ketika ditanya apakah dia akan menawarkan bantuan serupa kepada calon pembeli rumah yang kesulitan membayar uang muka, Trump berkata, "Saya mungkin akan melakukannya."

Kembali ke konteks The Fed, memberikan lebih banyak masukan kepada eksekutif akan menantang tradisi lama yang memungkinkan bank sentral AS menjalankan kebijakan moneter termasuk penetapan suku bunga secara independen dari tekanan politik.

Sejak era pemerintahan Clinton, Presiden dari kedua partai di AS cenderung menahan diri dari mengomentari keputusan The Fed dan kebijakan suku bunga untuk menghindari kesan bahwa mereka berusaha memengaruhi bank sentral.

Oleh karena itu, penampilan Trump pada hari Senin lalu merupakan bagian dari strategi kampanye yang lebih luas untuk menyaingi program penobatan Harris sebagai calon presiden sekaligus memperkuat dukungan di negara bagian utama.

Fokus utama strategi Trump lagi-lagi adalah isu ekonomi, yang menurut jajak pendapat menjadi perhatian utama pemilih, di mana Trump memiliki keunggulan dibandingkan Presiden Joe Biden dan Harris selama sebagian besar siklus 2024.

Jajak pendapat menunjukkan Harris bersaing ketat atau bahkan melebihi Trump. Sebelum Harris menggantikan Biden sebagai kandidat utama Demokrat, strategi kampanye Trump banyak mengandalkan nostalgia pemilih terhadap kondisi ekonomi sebelum Covid-19 di bawah kepemimpinannya.

Pada konferensi pers awal bulan ini, Trump menyatakan bahwa The Fed tergesa-gesa dalam mengatur suku bunga.Oleh karena itu, Trump yang notabene sebagai seorang pengusaha juga merasa memiliki insting yang lebih baik dibandingkan, dalam banyak kasus, orang-orang di Federal Reserve atau ketua mereka (Jerome Powell)

Sebagai Informasi, sebelumnya pada hari Senin lalu Trump menolak untuk mengungkap siapa yang akan ia pilih sebagai gubernur The Fed, dengan mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk dibocorkan.

Usut punya usut, Trump sebelumnya telah menyatakan bahwa ia tak akan memperpanjang masa jabatan Powell, yang berakhir pada 2026. Trump telah mengkritik Powell di masa lalu dengan menyebut bahwa bank sentral beserta pemimpinnya tidak punya keberanian, tidak punya akal sehat, tidak punya visi.

Sedangkan di sisi lain, Harris memiliki perbedaan pandangannya dengan Trump mengenai otonomi bank sentral, dengan menyatakan bahwa dia sangat tidak setuju dengan pandangan Trump tentang independensi The Fed, dan bahwa jika dia menjadi presiden, dia tidak akan ikut campur dalam keputusan The Fed.

Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang memungkinkan politisi mengendalikan kebijakan moneter cenderung menghadapi inflasi yang lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.