Isu Prabowo Mau Naikkan Rasio Utang terhadap PDB ke 50 Persen, Warek Paramadina: Hati-hati!

AKURAT.CO Pemerintahan Prabowo-Gibran kembali dikabarkan bakal mengerek rasio utang terhadap PDB ke kisaran 50%, dari saat ini di kisaran 38%. Dilansir Financial Times, Adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo sudah berkonsultasi langsung dengan World Bank perihal rencana tersebut.
"Idenya adalah untuk meningkatkan pendapatan dan menaikkan tingkat utang. Saya telah berbicara dengan Bank Dunia dan mereka berpendapat bahwa 50 persen adalah angka yang prudent. Kami tidak ingin menaikkan tingkat utang tanpa meningkatkan pendapatan," ujar Hasyim merujuk pada pajak, cukai, royalti dari pertambangan dan bea masuk sebagaimana dilansir Financial Times, Kamis (11/7/2024).
Merespons isu tersebut, Warek Universitas Paramadina bidang Sumber Daya, Handi Risza mengatakan tim Prabowo perlu lebih berhati-hati dalam mengomunikasikan dan merumuskan kebijakan terkait utang pemerintah. Pasalnya, kemampuan Indonesia dalam membayar utang saat ini juga tak kunjung membaik.
Baca Juga: Tim Prabowo Bantah Isu Kenaikan Rasio Utang Hingga 50 Persen PDB
"Kabar seperti itu wajar direspons negatif karena begitu menjanjikannya (program-program Prabowo) sampai-sampai tidak melihat lagi kondisi internal. Dan ini sebelumnya juga diklarifikasi oleh tim Prabowo. Perlu kehati-hatian saat berbicara target yang di atas atau di luar ambang batas (60% PDB). Kalau tidak hati-hati ini akan berdampak negatif ke kita karena kan kondisi ekonomi Indonesia akan selalu dipantau dan ketika memang tidak ada triger untuk mencapai ke arah sana pasti akan menjadi bulan-bulanan saja. Kehati-hatian perlu," paparnya di sela Diskusi Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Besar," Kamis (11/7/2024).
Ditambahkan, pemerintahan yang baru justru perlu fokus untuk memperbaiki kemampuan dalam membayar utang. Pasalnya utang saat Covid-19 saja sudah hampir jatuh tempo, tepatnya sebesar Rp800 triliunan akan jatuh tempo di tahun 2025.
Utang jangka menengah (jatuh tempo di 2027 dan 2028) juga nilainya juga tak kalah besar, terutama karena beban bunga utang. Bunga utang terus menguras anggaran publik pajak dan jauh lebih besar dari mata anggaran kementerian mana pun. Parahnya juga, bunga utang dengan yield tinggi hanya dinikmati oleh investor golongan atas, yang terefleksi dari besaran yield SBN Indonesia di kisaran 7,2% jauh dari pasar Jepang misalnya yang hanya 0,7-0,9%.
"Utang kita bunganya saja itu angkanya di APBN sudah di atas Rp400 triliun, lebih besar dari belanja pegawai, barang dan modal. Kita hari ini berutang untuk menutup utang kira-kira gambarannya seperti itu. Kemampuan kita untuk membayar utang juga tidak meningkat. Untuk itu kehati-hatian ini sangat penting sekali, jangan sampai terjebak utang yang jumlahnya fantastis," tegas Handi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








