Akurat Logo

Utang RI Bertambah Lebih dari Rp5.000 T Sejak 2014

Demi Ermansyah | 3 Juli 2024, 11:26 WIB
Utang RI Bertambah Lebih dari Rp5.000 T Sejak 2014

AKURAT.CO Anggota Komisi XI DPR RI, Ecky Awal Mucharam menilai kondisi menurunnya penerimaan negara disebabkan anjloknya harga komoditas terus berlangsung.

Dimana, lanjut Ecky, dikhawatirkan beban utang akan terus bertambah. Sebab sampai saat ini utang pemerintah sudah mencapai di angka Rp8.262 triliun. Peningkatan tersebut, menurutnya, bahkan mencapai lebih dari Rp5.000 triliun sejak 2014.

“Jika proyek-proyek mercusuar terus jalan, dan penerimaan terus merosot karena komoditas mulai menurun, maka beban utang akan terus bertambah. Bahkan, untuk pembayaran bunga saja pada 2024 sudah mencapai 15 persen dari total belanja negara," ucapnya di Jakarta, Selasa (2/7/2024).

Baca Juga: Ada SiLPA Rp200 T, Pemerintah Jarang Tarik Utang Lewat SBN

Ecky khawatir bukan hanya soal utang yang terus meningkat, namun juga persoalan crowding out dana publik. Apalagi sentimen suku bunga the Fed akan memiliki konsekuensi pada peningkatan tingkat yield SBN. Hal ini akan berdampak pada peningkatan beban bunga pada masa yang akan datang.

Oleh karena itu, imbuh Ecky, pihaknya mendorong spending better dalam belanja negara. Pemerintah perlu menghentikan pengeluaran yang tidak perlu seperti proyek-proyek mercusuar yang bukan menjadi prioritas.

“Berikutnya, pertebal bantalan sosial bagi masyarakat miskin dan rentan. Kenaikan harga pangan, energi, dan listrik punya dampak instan dalam memukul masyarakat miskin dan mereka yang rentan untuk jatuh dalam jurang kemiskinan,” ujarnya.

Prioritas fiskal secara total, imbuh Ecky, harus dialokasikan untuk membantu masyarakat tersebut. Anggaran belanja sosial perlu ditambah, salah satu yang menjadi perhatian adalah subsidi upah dan bantuan langsung bagi buruh dan pekerja informal di sektor pertanian. Di tengah gejolak harga pangan, bantalan tersebut menjadi penting.

“Sebab, kenaikan harga yang terjadi, di satu sisi, tidak dapat diikuti oleh peningkatan pendapatan. Hasil hitungan dengan menggunakan data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan tenaga kerja tumbuh hanya sekitar 1,7 persen pada tahun. Peningkatan ini tidak mampu mengimbangi inflasi yang ada,” ucapnya

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.