3 Fakta CBDC (Rupiah Digital)

AKURAT.CO Sejak diperkenalkan di 2022 sebagai pelengkap sistem pembayaran Indonesia di masa depan, Rupiah Digital semakin menarik perhatian. Meskipun begitu, masih banyak pihak yang belum mengetahui lebih dalam tentang kegunaan dan manfaat dari Rupiah Digital yang akan diterbitkan oleh bank sentral, Bank Indonesia.
Secara lebih luas, negara-negara di dunia lebih mengenal mata uang digital sebagai Central Bank Digital Currency atau CBDC. Lalu apa dan bagaimana penerapan CBDC secara global? Simak 3 fakta berikut.
98 Persen Bank Sentral Dunia Anggap Serius CBDC
Menurut ICAEW Director for China and South-East Asia, Elaine Hong FCA, lebih dari 98 persen bank sentral sedang melakukan riset, eksperimen, menguji coba ataupun meluncurkan Central Bank Digital Currency (CBDC) untuk melihat kapabilitas dan meningkatkan akses kepada uang sentral, termasuk Indonesia, berdasarkan laporan terbaru World Economic Forum.
Baca Juga: Rupiah Digital Tak Sekedar Alat Pembayaran
Pelaku sektor keuangan tentu sangat antusias menyambut terobosan baru ini, termasuk di ICAEW. ICAEW sangat meyakini bahwa peran seorang akuntan sangat krusial dalam perubahan besar ini nantinya.
"Kami memiliki visi bahwa kami menjadi pemimpin dalam pemanfaatan teknologi baru dan data nantinya. Kehadiran CBDC tentu mewakili perubahan besar dalam lanskap keuangan, dan tentunya pemahaman mengenai implikasinya sangat penting bagi profesi kami," ujarnya dikutip Selasa (28/5/2024).
Tidak dapat dielakkan, bahwa perubahan digital dan industri keuangan akan terus bersinggungan kedepannya. Dengan kehadiran Rupiah Digital, perubahan dapat terjadi di banyak aspek di sektor keuangan. Karena itulah peran institusi seperti ICAEW yang menaungi para akuntan profesional bisa menjadi medium yang positif untuk mengedukasi dan memperbarui pengetahuan.
Karena sebagai akuntan, mereka dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dan kemampuan terhadap metode-metode baru. Sebagaimana Rupiah Digital adalah bentuk teknologi baru yang akan sangat berdampak pada profesi di sektor keuangan, akuntan juga diharapkan dapat menjadi garda terdepan perubahan.
CBDC Bukan Uang Kripto
Menurut Presiden Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Dr. Ardan Adiperdana, CBDC merepresentasikan pergeseran paradigma dalam evolusi uang dan keuangan, tidak seperti uang kripto. CBDC juga berfungsi sebagai bentuk digital dari uang fisik yang dikeluarkan oleh pemerintah, dengan keamanan dan stabilitas aset digital bagi konsumen.
"Karena itu, saya juga mengajak para akuntan agar lebih ahli dan fleksibel untuk kebaruan ini. Dampak CBDC kepada kebijakan moneter dan kestabilan finansial tidak dapat dielakkan karena uang digital menawarkan efisiensi dan transparansi," ujarnya.
Kehadiran Rupiah Digital nantinya tidak akan melepaskan fungsinya sebagai alat tukar, penyimpanan dan satuan hitung. Bedanya, Rupiah Digital akan membuat transaksi di era digital menjadi lebih fleksibel dan efisien karena ada faktor perbedaan ongkos pembuatan, jika dibandingkan dengan uang kertas yang harus dicetak terlebih dahulu.
Mengulik sisi keamanan, di era di mana perkembangan aset kripto sebagai alat tukar kerap tidak stabil dan dikendalikan oleh entitas yang tidak dikenal, kehadiran Rupiah Digital terbitan Bank Indonesia bisa memperkuat ekosistem keuangan digital. Selain itu juga bisa menjaga stabilitas sistem keuangan dari ancaman eksternal, seperti penyalahgunaan mata uang kripto.
BI Siap Luncurkan CBDC
Menurut Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ryan Rizaldy, CBDC tidak menciptakan uang baru sehingga tidak akan mengubah uang. Saat ini, Bank Indonesia masih di tahap penelitian dan akan menuju fase menengah. Belum ada waktu pasti kapan Rupiah Digital akan diluncurkan.
"Saat ini kami belum melihat urgensi untuk meluncurkan secepatnya. Namun, kami sudah mempersiapkan diri agar bisa diluncurkan saat dibutuhkan. Lain dari uang digital pihak swasta, bank sentral tidak memiliki ekosistem tersendiri. Maka dari itu, bank sentral harus bekerja sama dengan industri, bank komersial dan nonbank untuk mengeluarkan CBDC," ujarnya.
Rupiah Digital didesain melalui inisiatif Proyek Garuda sebagai upaya mengintegrasikan ekonomi dan keuangan digital secara end-to-end dalam agenda transformasi digital nasional. Meskipun pihak swasta atau lembaga non perbankan dapat menerbitkan uang elektronik mereka sendiri, Rupiah Digital diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku otoritas moneter sebagai pelengkap pilihan alat pembayaran.
Ketika nanti resmi diterbitkan, Rupiah Digital dapat menjadi kompetitor e-wallet lainnya yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat. Namun jika dibandingkan dengan uang elektronik pihak swasta, basis blockchain dan akun perorangannya menjadikan Digital Rupiah lebih aman dan mudah dilacak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










