Akurat

Alasan China Kian Getol Dedolarisasi

Demi Ermansyah | 24 Mei 2024, 16:17 WIB
Alasan China Kian Getol Dedolarisasi

AKURAT.CO China baru-baru ini kembali melepaskan obligasi AS dalam jumlah besar di kuartal pertama tahun 2024.

Pelepasan tersebut semakin menunjukkan upaya intensif dari China untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar, atau dikenal sebagai dedolarisasi.
 
Melansir dari Bloomberg menurut laporan data terbaru dari Departemen Keuangan AS, Beijing menjual gabungan surat utang dan obligasi AS senilai USD53,3 miliar di kuartal pertama.

Usut punya usut, Investasi China di AS kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia (AS vs China).
 
Presiden AS Joe Biden mengumumkan tarif besar kepada sejumlah produk impor dari China, sementara Donald Trump berjanji akan memberlakukan tarif lebih dari 60% pada barang-barang China jika terpilih kembali.
 

Menurut Stephen Chiu selaku kepala ahli strategi valuta asing dan suku bunga Asia mengatakan kepada Bloomberg, meskipun mendekati siklus penurunan suku bunga The Fed, penjualan obligasi oleh China menunjukkan niat yang jelas untuk mendiversifikasi dari kepemilikan dolar AS.
 
"Penjualan sekuritas AS oleh China dapat meningkat jika perang dagang AS-China berlanjut, terutama jika Trump kembali menjadi presiden," ucapnya.

Sebelumnya diketahui China menjual Surat Utang AS senilai USD 300 miliar antara 2021 dan pertengahan 2023, dimana hal tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan kenaikan imbal hasil.
 
China tampaknya mempercepat langkah mundur dari aset AS karena hubungan perdagangan dengan AS diperkirakan tidak akan membaik.

Tahun lalu, China menjual utang AS untuk menopang posisi yuan yang melemah terhadap dolar. Hal ini mungkin terjadi lagi karena greenback mengalami kenaikan besar akibat kebijakan moneter AS yang ketat.
 
Faktanya, indeks dolar AS naik 4,9% tahun ini sementara yuan melemah, membuat impor menjadi mahal dan memperburuk tren ini di tengah proteksionisme AS yang mendukung penguatan dolar.

Untuk diversifikasi dari dolar, Beijing juga meningkatkan pembelian emas, yang kini mencapai 4,9% dari cadangan China, tertinggi sejak 2015. Tren ini diikuti oleh bank sentral lain yang membeli emas dengan cepat.

Namun, kekuatan dolar bukan satu-satunya alasan tersebut. China juga mendiversifikasi cadangan devisanya sebagai bagian dari gerakan global yang lebih luas untuk mengurangi dominasi dolar. 
 
Ketakutan akan sanksi AS, yang pertama kali muncul setelah negara-negara Barat memberlakukan pembatasan dolar terhadap Rusia pada 2022, memicu pola ini di kalangan bank sentral.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.