Konflik Iran-Isreal, Menko Airlangga: Potensi Disrupsi Logistik Supply Chain

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan perkembangan terkini terkait situasi geopolitik.
Airlangga menegaskan, potensi eskalasi konflik Iran dan Israel belum bisa diketahui. Meski sudah ada beberapa negara Barat yang menyatakan tidak mau terlibat.
Bahkan negara tetangga Israel seperti Yordania, Mesir, maupun Arab Saudi menekankan adanya deeskalasi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sudah meminta semua pihak menahan diri sekaligus berusaha mengendalikan eskalasi situasi.
"Sebelumnya Iran juga menyatakan masih menunggu statement PBB. Para pemimpin relatif statement-nya sama, menghindari eskalasi dan potensi disrupsi yang kita lihat yang terkait dengan logistik supply chain dan kepentingan di Selat Hormuz," tuturnya di Jakarta, Kamis (18/4/2024).
Baca Juga: Dampak Konflik Iran-Israel, Menko Airlangga: Indonesia Punya Resiliensi
Meski demikian, terkait dampaknya ke perkonomian Indonesia, Airlangga menyebutkan saat ini investor semakin yakin terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Diprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan mencapai sekitar 5,1%. Angka ini jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2%.
Menurutnya, beberapa negara emerging market memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 4,2%. Dia juga menyoroti peringkat yang diberikan oleh berbagai lembaga pemeringkat.
"Peringkat Moody menunjukkan stabilitas ekonomi Indonesia di BAA2, sementara Fitch memberikan peringkat BBB, dan rating JCR mencapai BBB+ atau stabil yang diumumkan pada 20 Maret," ujarnya.
Kemudian, Airlangga menambahkan bahwa Moody menilai ketahanan ekonomi nasional terjaga dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil, serta keberadaan kebijakan yang kokoh dalam menghadapi ketidakpastian global.
Menurut Airlangga, berdasarkan penilaian Fitch dan JCR pun, inflasi Indonesia terkendali. Kemudian rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) rendah serta terkendali dan menjelaskan pasar saham masih positif sampai hari ini.
"Di atas pasar modal Indonesia, lanjutnya, kini ada AS karena ekonominya lagi kuat sendiri, pasar modalnya lagi kuat sendiri. Tapi mereka masih belum mau menurunkan tingkat suku bunganya. Jadi sekali lagi higher for longer strategi mereka jadi tentu kita harus jaga kepercayaan investor di dalam negeri terutama agar tidak terjadi capital outflow," tutur dia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









