Perubahan Persepsi Masyarakat Indonesia Terhadap China

AKURAT.CO Temuan dari survei ISEAS-Yusof Ishak Institute tentang Keadaan Asia Tenggara 2024 menyajikan gambaran yang berbeda tentang persepsi masyarakat Indonesia terhadap China.
Meskipun data menunjukkan adanya peningkatan yang mencolok dalam pengaruh China di seluruh Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, sentimen yang mendasarinya mencerminkan interaksi yang kompleks antara peluang ekonomi, kekhawatiran geopolitik, dan kedekatan sosial-budaya.
Menurut survei tersebut, 54% masyarakat Indonesia memandang China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh di Asia Tenggara, meskipun lebih rendah dari angka tahun sebelumnya yaitu 71,1%.
Namun, sebagian besar (46,2%) responden Indonesia menyatakan kekhawatiran mereka terhadap pengaruh ekonomi regional China yang terus meningkat, dengan 57% lainnya menyuarakan keprihatinan terhadap pengaruh politiknya.
Angka-angka ini menunjukkan sentimen yang beragam di antara para responden Indonesia, yang berasal dari kalangan akademisi, lembaga pemikir, sektor swasta, masyarakat sipil, media, pemerintah, serta organisasi regional dan internasional, yang ditandai dengan adanya perpaduan antara pengakuan terhadap kehebatan ekonomi China dan kehati-hatian terhadap pengaruhnya yang semakin meluas.
Baca Juga: PLN Gandeng China Energy Kembangkan Energi Hijau di Sulawesi
Temuan yang paling banyak dibicarakan dari laporan survei ini adalah peningkatan popularitas China di kalangan responden Asia Tenggara.
Menanggapi pertanyaan, "Jika ASEAN dipaksa untuk bersekutu dengan salah satu saingan strategisnya [yaitu Amerika Serikat atau China], mana yang harus dipilih?" Sebanyak 50,5% mengatakan bahwa mereka akan berpihak pada China, yang menandakan adanya pergeseran keberpihakan regional.
Tren ini terutama terlihat di antara responden dari Indonesia, Laos, dan Malaysia, yang telah diuntungkan oleh Belt and Road Initiative (BRI) Beijing dan memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan China.
Dampak nyata dari investasi dan proyek-proyek infrastruktur China telah berkontribusi pada pandangan yang lebih baik terhadap China di antara negara-negara ini, dengan peningkatan preferensi yang mencolok dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, hasil ini juga mungkin dipengaruhi oleh ketidaksenangan terhadap dukungan AS untuk Israel, yang telah menjadi isu yang diperdebatkan di kawasan ini, terutama di negara-negara mayoritas Muslim.
Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang lebih positif untuk China mungkin hanya mencerminkan rasa frustrasi yang semakin meningkat terhadap AS, sejalan dengan pandangan sikap ambivalen Indonesia terhadap China.
Pada saat yang sama, masyarakat Asia Tenggara semakin optimis tentang interaksi mereka di masa depan dengan China. Ketika ditanya bagaimana hubungan negara mereka dengan China akan berkembang dalam tiga tahun ke depan, lebih dari 50% dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa hubungan tersebut akan membaik, dengan Indonesia, Laos, dan Malaysia menunjukkan tingkat optimisme tertinggi di antara negara-negara ASEAN.
Khusus untuk Indonesia, persentase mereka yang mengatakan bahwa hubungan dengan Beijing akan membaik meningkat dari 33,9% tahun lalu menjadi 58,5% tahun ini.
Pandangan positif ini menunjukkan pengakuan praktis atas manfaat yang ditawarkan oleh hubungan yang diperkuat dengan China, terutama dalam hal kolaborasi ekonomi dan stabilitas regional.
Dalam hal pengaruh dan daya tariknya, hasil survei menunjukkan bahwa penyebaran inisiatif soft power China yang strategis tampaknya telah membuahkan hasil yang cukup baik, terutama terlihat dari investasi yang ditargetkan di berbagai sektor seperti pendidikan, media, dan penjangkauan diplomatik ke komunitas Muslim di negara tersebut.
China telah memposisikan dirinya sebagai tujuan yang menarik bagi pelajar Indonesia, menawarkan beasiswa dan program pertukaran yang bertujuan untuk mendorong pemahaman dan kerja sama lintas budaya. Banyak dari pelajar tersebut kini telah kembali dan berbicara secara positif tentang China di berbagai platform publik di negara ini.
Secara bersamaan, melalui investasi medianya, China telah berusaha untuk membentuk narasi dan menyebarkan konten yang menggambarkan negara ini secara positif, sambil menargetkan keterlibatannya pada komunitas Muslim di negara ini.
Meskipun banyak yang mengklaim bahwa inisiatif-inisiatif ini berfungsi sebagai penutup perlakuan kontroversial terhadap kelompok minoritas, terutama Muslim Uighur, hasil survei menunjukkan bahwa inisiatif-inisiatif ini memiliki dampak dalam mempromosikan persepsi positif terhadap China.
Perasaan positif secara umum ini juga tampaknya mengesampingkan kekhawatiran orang Indonesia mengenai ketegasan China di Laut China Selatan, dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial dari investasi China, dan meningkatnya arus masuk pekerja China ke Indonesia.
Sementara itu, survei ini menunjukkan bahwa kekhawatiran masyarakat Indonesia terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh China, terutama perlakuannya terhadap Muslim Uighur, tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan kekhawatiran terhadap konflik Israel-Palestina.
Menurut survei ISEAS-Yusof Ishak Institute, responden Indonesia memandang situasi di Gaza sebagai masalah geopolitik yang mendesak, dengan 74,7% mengatakan bahwa perang Israel-Hamas termasuk di antara tiga masalah geopolitik utama mereka, dibandingkan dengan hanya 43% untuk perilaku agresif China di Laut China Selatan.
Selain itu, hanya 27,6% yang mengatakan bahwa kebijakan Beijing terhadap Tibet, Xinjiang, dan Hong Kong merupakan salah satu faktor yang berpotensi memperburuk kesan positif mereka terhadap China.
Seperti yang telah disebutkan di atas, kemarahan masyarakat Indonesia terhadap kebijakan AS terhadap Gaza dapat menjelaskan mengapa lebih banyak responden yang menyatakan lebih memilih untuk bersekutu dengan China.
Bagi para pembuat kebijakan di Indonesia, kebijakan negara ini terhadap China membutuhkan keseimbangan antara pragmatisme dan prinsip. Hal ini berarti mengakui adanya peluang dan tantangan yang datang dengan memperdalam hubungan dengan China.
Mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kedaulatan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan hak asasi manusia sangatlah penting, sekaligus meningkatkan kerja sama ekonomi untuk mempromosikan keuntungan bersama dan stabilitas regional.
Dengan mengadopsi pendekatan tersebut, para pembuat kebijakan dapat menavigasi kompleksitas hubungan Indonesia yang terus berkembang dengan China secara efektif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









