Akurat Logo

Uang Rp158,8 T Berputar Selama Mudik Lebaran 2024, Daerah Anda Kecipratan?

Silvia Nur Fajri | 5 April 2024, 12:08 WIB
Uang Rp158,8 T Berputar Selama Mudik Lebaran 2024, Daerah Anda Kecipratan?

AKURAT.CO Mudik Lebaran 1445 H atau 2024 ditaksir membawa berkah tersendiri bagi masyarakat di daerah. Diperkirakan, setidaknya Rp158,8 triliun uang bakal menggerakkan perekonomian Tanah Air.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan perhituangan nominal tersebut berdasarkan data Kementerian Perhubungan jumlah pemudik tahun ini naik menjadi 198,5 juta orang, dengan perkiraan per KK atau kartu keluarga (4 orang) menghabiskan Rp3,2 juta.

Realisasinya nanti menurut Sarman bisa lebih, mengingat simulasi tersebut berdasarkan asumsi minimal atau moderat serta animo masyarakat untuk mudik tahun ini juga jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Diminta Beri Diskon Tarif Tol Mudik Lebaran 2024 50 Persen oleh DPR, Begini Tanggapan Pemerintah

Kemudian, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, uang yang digunakan oleh para pekerja di perkotaan cenderung mengalir ke desa-desa, memberikan dukungan vital bagi banyak lapangan pekerjaan, terutama di sektor UMKM.

"Uang yang dipergunakan oleh para pekerja di perkotaan cenderung mengalir ke desa-desa, menyokong banyak lapangan pekerjaan terutama di sektor UMKM," kata Bhima kepada Akurat.co, Jumat (5/4/2024).

Selanjutnya, Bhima menyoroti pentingnya momen Lebaran dalam menggerakkan perekonomian, meskipun sifatnya bersifat temporer. 

"Momen Lebaran memiliki andil besar terhadap pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun, terutama di tengah kondisi saat ini di mana ekspor maupun investasi belum bisa diandalkan sepenuhnya," jelas Bhima.

Ditambahkannya bahwa kondisi lambatnya pertumbuhan ekonomi di mitra dagang serta bayang-bayang resesi yang mengintai, serta suku bunga yang masih tinggi, membuat konsumsi rumah tangga menjadi satu-satunya tumpuan untuk menjaga Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB).

"Kuartal kedua masih memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang terjaga di kisaran 4,9-5% year on year," imbuhnya.

Senada, Chief Economist PermataBank, Josua Pardede menaksir dengan adanya tradisi mudik Lebaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat. Secara umum, Josua memperkirakan dampak Ramadan dan Lebaran terhadap ekonomi dapat mendorong pertumbuhan sebesar 0,14-0,25% poin.

Menurut Josua biasanya perputaran uang akan meningkat cepat, baik di kota maupun daerah, namun menjelang Lebaran sejalan dengan adanya mudik, perputaran uang di daerah akan cenderung lebih cepat.

Kemudian perputaran uang yang lebih cepat akan menggerakkan roda perekonomian karena aktivitas transaksi perdagangan barang dan jasa akan meningkat

Ditambahkan, di kuartal I-2024 pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup berpeluang untuk tumbuh di kisaran 5-5,1%. Salah satu faktornya yaitu meningkatnya belanja pemerintah terutama terkait bantuan sosial dan pelaksanaan Pemilu.

Menurut Josua hal tersebut tercermin dari belanja negara sampai dengan 15 Maret 2024 naik 18,1% secara tahunan atau year on year (yoy), dan adanya low-base effect dari kuartal I-2023 karena periode terlama Ramadan bergeser dari April pada tahun lalu (kuartal II-2023) menjadi Maret pada tahun ini (kuartal I-2024).

Konsumsi Rumah Tangga Melaju

Sementara Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menyatakan bahwa meskipun ada asumsi tentang pengeluaran pemudik, mudik tetap meningkatkan konsumsi secara keseluruhan, memberikan dampak positif pada ekonomi.

"Terlepas dari asumsi yang dibuat mengenai pengeluaran pemudik tersebut, mudik tentu akan meningkatkan laju konsumsi secara keseluruhan," kata Eko kepada Akurat.co, Jumat (5/4/2024).

Selanjutnya,ia menambahkan bahwa laju konsumsi rumah tangga diperkirakan mampu tumbuh sekitar 5% sebagai hasil dari aktivitas mudik.

Namun, Eko juga memberikan catatan penting bahwa dampak mudik terhadap ekonomi tahun ini mungkin tidak sebesar tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan kenaikan harga-harga yang telah menggerus daya beli masyarakat. 

"Kemungkinan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama, yang bersamaan dengan bulan Ramadan dan puasa, diperkirakan hanya akan mencapai 5 persen," jelasnya.

Analisis ini menyoroti kompleksitas yang terkait dengan dampak mudik terhadap perekonomian, di mana sementara konsumsi meningkat, tantangan ekonomi seperti kenaikan harga masih mempengaruhi daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.