Akurat Logo

Akhir Pekan, Rupiah Nanjak 104 Poin ke Rp15.660 Usai Fed Tahan Suku Bunga

M. Rahman | 2 Februari 2024, 15:56 WIB
Akhir Pekan, Rupiah Nanjak 104 Poin ke Rp15.660 Usai Fed Tahan Suku Bunga

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 104 poin ke Rp15.660 pada perdagangan Jumat, 2 Februari 2024 usai The Fed menahan suku bunganya.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap stabil dan menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Maret.

Baca Juga: Rupiah Turun Tipis 2 Poin Jelang Putusan Rapat Gubernur Bank Sentral AS Nanti Malam

Namun Ketua Fed Jerome Powell memberikan catatan yang agak optimis terhadap perekonomian AS, yang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang berbasis risiko meskipun ada prospek suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

"Pasar menantikan penurunan suku bunga pada bulan Mei seiring pendekatan nonfarm payrolls Setelah The Fed meremehkan perkiraan penurunan suku bunga di bulan Maret, para pedagang mulai memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan Mei," ujarnya dikutip Jumat (2/2/2024).

Alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang penurunan suku bunga di bulan Mei lebih dari 60%, dan analis juga memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga setidaknya empat kali lagi setelah bulan Mei.

Meskipun skenario seperti ini menjadi pertanda baik bagi mata uang Asia yang didorong oleh risiko, The Fed belum memberikan indikasi bahwa mereka akan memangkas suku bunga secara besar-besaran pada tahun 2024.

Bank sentral menegaskan kembali bahwa rencana mereka untuk menurunkan suku bunga sebagian besar akan ditentukan oleh jalur inflasi, yang sejauh ini masih melekat. Data nonfarm payrolls diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai pasar tenaga kerja. The Fed juga menyebutkan melemahnya pasar tenaga kerja sebagai salah satu faktor utama yang mendorong penurunan suku bunga.

Sentimen Internal

Dari internal, Bank Indonesia menyatakan bahwa ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang terbaik di dunia pada 2023 dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%. Hal itu disertai dengan inflasi sebesar 2,61% atau salah satu yang terendah di dunia. 

Pencapaian tersebut merupakan prestasi yang membanggakan jika melihat pertumbuhan ekonomi dan inflasi negara-negara maju yang mengalami tekanan. Misal ekonomi AS yang hanya mencapai 3% pada tahun lalu, China tahun lalu lima persen, tahun ini 4,6%.

BI memprediksi gelombang ekonomi global pada 2024 dan 2025 akan lebih rendah dari 2023 atau 2022. Salah satu faktor yang dapat mendorong dinamika ekonomi global tahun ini ialah kontestasi pemilihan umum (pemilu) yang terjadi di 54 negara pada 2024. 

Selain itu, BI juga optimis Fed Fund Rate akan mulai mengalami penurunan sebesar 75 basis poin pada semester kedua 2024. Begitu pun dengan melemahnya dolar AS yang juga akan mulai terjadi saat memasuki semester II-2024. 

Guna untuk menjaga tren positif maka pemerintah memiliki lima sinergi kebijakan ekonomi nasional. Hal ini meliputi kebijakan fiskal moneter, kebijakan SSK dan akselerasi transformasi sektor keuangan, akselerasi digitalisasi ekonomi keuangan nasional, hilirisasi minerba dan nonminerba, serta kebijakan perdagangan investasi dan infrastruktur.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa