Akurat Logo

Rupiah Turun 17 Poin ke Rp15.510 Usai Nada Dovish Ketua Fed

M. Rahman | 18 Desember 2023, 15:16 WIB
Rupiah Turun 17 Poin ke Rp15.510 Usai Nada Dovish Ketua Fed

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 17 poin ke Rp15.510 pada perdagangan Senin, 18 Desember 2023 usai pidato Ketua Fed Jerome Powell yang ditafsirkan memberikan nada yang lebih dovish pada akhir pertemuan dua hari bank sentral AS.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan mengatakan pidato tersebut menandakan pengetatan kebijakan moneter kemungkinan besar akan berakhir, dan diskusi mengenai pemotongan akan “diperhatikan.

Namun Gubernur Williams mengatakan pada hari Jumat bahwa "kami tidak benar-benar berbicara tentang penurunan suku bunga saat ini" di The Fed dan "terlalu dini" untuk berspekulasi mengenai hal tersebut.

Baca Juga: Rupiah Melejit 158 Poin ke Rp15.502 Usai Fed Pertahankan Suku Bunga Acuan

"Para pedagang memperkirakan ekspektasi agresif terhadap penurunan suku bunga, dengan penurunan pertama kemungkinan terjadi pada bulan Maret dan penurunan sebesar 141 basis poin pada bulan Desember," kata Ibrahim dikutip Senin (18/12/2023).

Sementara Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan pada hari Jumat bahwa bank sentral AS dapat mulai menurunkan suku bunga “sekitar kuartal ketiga” tahun 2024 jika inflasi turun seperti yang diperkirakan. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee juga mengatakan bahwa The Fed mungkin perlu segera mengalihkan fokusnya untuk mencegah peningkatan pengangguran guna memerangi inflasi.

Selain itu, data pada hari Jumat menunjukkan bahwa produksi di pabrik-pabrik AS meningkat pada bulan November, terangkat oleh rebound dalam produksi kendaraan bermotor setelah berakhirnya pemogokan, namun aktivitas lebih lemah di tempat lain karena manufaktur bergulat dengan pinjaman yang lebih tinggi dan melemahnya permintaan barang.

Sentimen Internal Rupiah

Neraca perdagangan Indonesia kembali menorehkan surplus Rp 2,41 miliar pada November 2023. Ini merupakan surplus ke-43 kalinya sejak Mei 2020. Namun, nilai surplus perdagangan Indonesia turun jika dibandingkan US$ 3,48 miliar pada Oktober 2023. Bahkan surplus ini jauh menurun, jika dibandingkan dengan dari US$ 5,10 miliar pada bulan yang sama tahun 2022.

Capaian surplus pada November ini berada di bawah perkiraan pasar. Pasar memperkirakan surplus neraca perdagangan Indonesia di bulan November sekitar US$ 3 miliar. Surplus kali ini sebenarnya lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Hal ini seiring dengan penurunan ekspor yang terjadi, imbas penurunan harga komoditas internasional.

Penurunan surplus perdagangan Indonesia di bulan November dan keungkinan Desember disebabkan oleh faKtor eksternal, yakni penurunan permintaan dunia menyebabkan penurunan Indeks Harga Perdagangan Internasional (IHPI) dan gejolak nilai tukar yang menyebabkan ketidakpastian perdagangan.

IHPI mengalami penurunan dari 175,2 pada Oktober 2023, menjadi 174,5 pada November 2023. Adapun, penguatan nilai tukar dari Rp 15.916 per dolar AS di bulan oktober 2023 menjadi Rp 15.384 per dolar AS di bulan November 2023. Selain itu, faktor geopolitik, perang Rusia dan Ukraina, Israel dan Hamas serta faktor "wait and see" dari mitra dagang Indonesia menunggu kepastian Pemilu 2024, juga mempengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.

Namun demikian, adanya pengaruh dari faktor internal pada neraca perdagangan Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbatas pada level 5%. Ini artinya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dibawah potensi optimal antara 5-6% per tahun. Hal ini tercermin dalam rasio investasi yang belum beranjak dari tingkat 30% terhadap PDB. Kemudian, dia mencatat kontribusi sektor manufaktur tahun 2022 sudah dibawah 20% dari PDB. Kontribusi manufaktur yang menurun ini diterjemahkan sebagai 'deindustrialisasi'.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa