Akurat Logo

Rupiah Jatuh 21 Poin Usai Rilis Indeks Manufaktur Dan Jasa AS

M. Rahman | 25 Oktober 2023, 16:35 WIB
Rupiah Jatuh 21 Poin Usai Rilis Indeks Manufaktur Dan Jasa AS

AKURAT.CO Rupiah turun 21 poin ke level Rp15.870 pada perdagangan Rabu, 25 Oktober 2023 usai rilis indeks sektor manufaktur dan jasa AS yang naik ke level tertinggi sejak Juli.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah diseret sentimen eksternal dan internal. 

Dari eksternal, dataindeks sektor manufaktur dan jasa AS menunjukkan berlanjutnya ketahanan perekonomian AS, yang pada gilirannya memberikan lebih banyak ruang bagi Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp15.933 Usai Mesir Kirimkan Bantuan Ke Gaza

"Pasar sekarang sebagian besar menunggu isyarat ekonomi lebih lanjut dari AS pada minggu ini, terutama data produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga yang akan dirilis pada hari Kamis," kata Ibrahim dikutip Rabu (25/20/2023).

Ditambahkan, tanda-tanda ketahanan ekonomi AS akan memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama, dan juga mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe-haven.

Pembacaan PDB tersebut juga akan diikuti oleh data inflasi PCE – ukuran inflasi pilihan The Fed pada hari Jumat. Inflasi AS yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, memberikan dorongan lebih besar bagi The Fed untuk tetap bersikap hawkish.

Bank sentral akan mengadakan pertemuan minggu depan untuk memutuskan suku bunga, meskipun pasar secara luas memperkirakan The Fed akan tetap mempertahankan kebijakannya.

"Namun, para pejabat Fed telah mengisyaratkan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini, dan suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, setidaknya hingga akhir tahun 2024," imbuh Ibrahim.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, kondisi ekonomi global tak menentu mengakibatkan harga minyak mentah terus merangkak naik dan ini akan berpengaruh terhadap kondisi dalam negeriyang sampai saat ini masih ketergantungan minyak mentah dari negara lain. Akibat dari naiknya harga minyak karena dolar menguat menjadikan bahan impor terus merangkak naik apalagi dibarengi dengan musim kemarau (Elnino) yang cukup Panjang membuat konsumsi Masyarakat mengalami penurunan.

Guna untuk membantu meningkatkan konsumsi masyarakat, Pemerintah telah menyiapkan sejumlah paket kebijakan ekonomi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, berupa berbagai insentif yang akan di gelontorkan antara lain insentifpajak pertambahan nilai (PPN) untuk properti, bantuan beras hingga bantuan langsung tunai (BLT). Untuk BLT akan diberikan pada keluarga penerima manfaat (KPM) sebesar Rp.200 ribu selama 2 bulan yaitu November dan Desember 2023.

Kemudian, Pemerintah juga akan Kembali memberikan insentif berupa  bantuan beras  kembali diberikan pada bulan Desember 2023  sebesar 10 kilogram per KPM. Bantuan ini diberikan kepada 20 juta KPM yang telah terdaftar. Sementara itu, sektor manufaktur tidak mendapat insentif lantaran dinilai masih dalam kategori baik dan ekspansif untuk Purchasing Manager's Index (PMI).

Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi  dengan semua otoritas terkait untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah tekananan ekonomi global yang terus melambat akibat dari inflasi yang tinggi disebabkan oleh krisis invasi Rusia ke Ukraina serta krisis di timur Tengah antara Israel dengan Hamas (Palestina) yang Kembali memanas, serta terus mengoptimalkan strategi bauran kebijaka, guna untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa