Akurat Logo

Rupiah Ambruk 14 Poin Ke Rp15.370 Di Awal Pekan Pertemuan The Fed

M. Rahman | 18 September 2023, 15:45 WIB
Rupiah Ambruk 14 Poin Ke Rp15.370 Di Awal Pekan Pertemuan The Fed

AKURAT.CO - Rupiah ditutup melemah 14,5 poin ke level Rp15.370 pada perdagangan Senin, 18 September 2023 jelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve pada hari Rabu.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah digerakan sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal. para pedagang menanti putusan The Fed selanjutnya.

"Namun The Fed juga kemungkinan akan mempertahankan sikap hawkishnya, menandakan kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan lagi pada tahun ini," kata Ibrahim dikutip Senin (18/9/2023).

Baca Juga: Rupiah Stagnan Di Rp15.355 Usai BPS Rilis Data Neraca Perdagangan Agustus 2023

Selain The Fed, Bank of England juga mengadakan pertemuan minggu ini, dan kemungkinan akan menaikkan suku bunga untuk ke-15 kalinya pada hari Kamis karena inflasi tetap tinggi bahkan ketika perekonomian Inggris sedang naik.

Meskipun demikian, prospek perekonomian secara keseluruhan terlihat cukup suram, dengan badan perdagangan manufaktur utama Inggris pada hari Senin memangkas perkiraan pertumbuhan sektor ini untuk tahun ini dan tahun depan, dengan alasan penurunan tajam dalam output pabrik dan ketidakpastian ekonomi.

"Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa BoE mungkin memberi sinyal berakhirnya siklus kenaikan suku bunga setelah perkiraan kenaikan suku bunga pada hari Kamis. Meskipun kenaikan suku bunga apa pun kemungkinan akan memberikan dukungan terhadap yen, mata uang ini masih mengalami kesulitan di tengah menurunnya minat carry trade dan semakin lebarnya kesenjangan antara suku bunga lokal dan AS," kata Ibrahim.

Sementara para pembuat kebijakan ECB, Luis de Guindos, Frank Elderson dan Fabio Panetta dijadwalkan akan berbicara pada Senin malam. Komentar mereka akan dipelajari untuk mengetahui sejauh mana perbedaan pendapat dari anggota kelompok yang lebih hawkish mengenai indikasi berakhirnya siklus kenaikan suku bunga selama setahun setelah bank sentral menaikkan suku bunga utama sebesar 25 basis poin ke rekor tertinggi, puncaknya pada minggu lalu.

Internal

  1. Bank Indonesia (BI) kembali menekankan tiga tantangan utama yang perlu dicermati oleh pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Ketiga tantangan tersebut antara lain meningkatnya fragmentasi ekonomi dan geopolitik yang bersumber tidak hanya dari konflik Rusia-Ukraina, namun juga tensi geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat serta bergesernya sumber pertumbuhan ekonomi dunia.

Lalu, menyoal pesatnya perkembangan digitalisasi yang menyasar berbagai sektor ekonomi dan keuangan salah satunya sistem pembayaran, perlu didukung dengan inovasi yang memudahkan arus tranksaksi dalam perekonomian. 

Kemudian, perubahan iklim dan demografi penduduk secara global. Sebagaimana tertuang dalam Paris Agreement, Indonesia berkomitmen untuk mereduksi emisi karbon sehingga dibutuhkan program transisi yang mampu turut menggerakkan faktor demografi demi mewujudkan ekonomi dan keuangan yang berkelanjutan.

Sedangkan, untuk menanggapi berbagai tantangan tersebut, maka BI memperkuat bauran kebijakan yang terintegrasi mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, keuangan inklusif, dan hijau. 

Kemudian, pengembangan hilirisasi bernilai tambah tinggi untuk menopang ketahanan pangan, energi maupun sumber daya alam lainnya guna mendukung ketahanan ekonomi nasional. Serta membuka kerjasama perdagangan dan investasi dengan skema yang menguntungkan, dapat mengoptimalkan hilirisasi, dan mampu memberdayakan sumber pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa