BI Perlu Tahan Suku Bunga demi Jaga Stabilitas dan Kepercayaan Pasar

AKURAT.CO Tekanan terhadap perekonomian Indonesia di awal 2026 semakin nyata. Inflasi melonjak, arus modal asing keluar, hingga nilai tukar rupiah tertekan.
Dalam situasi ini, Bank Indonesia dinilai perlu bersikap hati-hati.
Peneliti Makroekonomi dan Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, Bank Indonesia sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Februari 2026.
“Dalam kondisi tekanan inflasi dan keluarnya modal asing, menahan suku bunga adalah langkah paling rasional. Pemangkasan suku bunga berisiko memperparah arus modal keluar, sementara kenaikan suku bunga bisa menekan permintaan domestik,” ujar Riefky dalam kajian terbarunya, Rabu (18/2/2026).
Inflasi Tembus 3,55 Persen
Berdasarkan data Januari 2026, inflasi tahunan melonjak ke 3,55 persen (yoy), naik dari 2,92 persen pada Desember 2025 dan menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.
Angka ini sedikit melampaui batas atas target inflasi Bank Indonesia.
Lonjakan terutama dipicu oleh low-base effect akibat diskon tarif listrik 50 persen pada awal 2025.
Selain itu, kenaikan harga emas global turut mendorong inflasi inti yang naik menjadi 2,45 persen (yoy).
“Ke depan tekanan masih akan berlanjut menjelang Ramadan dan Idulfitri karena faktor musiman,” kata Riefky.
Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal dan Daftar 3 Kluster Tujuan
Krisis Kepercayaan dan Arus Modal Keluar
Dari sisi pasar keuangan, tekanan datang dari luar dan dalam negeri. Pengumuman MSCI terkait isu kelayakan investasi Indonesia serta perubahan outlook Moody’s menjadi negatif memicu aksi jual besar-besaran.
Sejak pengumuman tersebut, arus modal keluar dari pasar saham mencapai sekitar USD1 miliar, sementara pasar obligasi juga mencatat tekanan.
Imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun naik dari 6,31 persen menjadi 6,40 persen.
“Isu kredibilitas kebijakan dan kapasitas institusi menjadi sorotan. Pasar merespons sangat cepat terhadap persepsi risiko,” jelasnya.
Rupiah memang relatif tertahan berkat intervensi Bank Indonesia, namun secara tahunan tetap terdepresiasi dibanding mayoritas mata uang negara berkembang lainnya.
Cadangan devisa pada Januari 2026 tercatat turun menjadi USD154,6 miliar.
BI Perlu Jaga Independensi
Menurut Riefky, dalam kondisi seperti ini stabilitas menjadi prioritas utama.
Menahan suku bunga di 4,75 persen dinilai sebagai kompromi terbaik antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pemulihan ekonomi.
“Yang juga tidak kalah penting, Bank Indonesia perlu terus menunjukkan bahwa independensinya tetap terjaga untuk memulihkan kepercayaan investor,” tegasnya.
Baca Juga: Satpol PP Siagakan 1.900 Personel, Petakan 43 Titik Rawan Tawuran Saat Ramadan
Ia menilai kombinasi tekanan inflasi, risiko eksternal, dan sentimen domestik membuat kebijakan moneter harus difokuskan pada stabilitas, bukan ekspansi.
“2026 dimulai dengan tekanan. Respons kebijakan yang kredibel akan menentukan arah kepercayaan pasar ke depan,” tutup Riefky.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









