Akurat

Defisit APBN Capai 2,02 Persen PDB di Oktober 2025

Hefriday | 20 November 2025, 19:46 WIB
Defisit APBN Capai 2,02 Persen PDB di Oktober 2025

AKURAT.CO Defisit APBN mencapai Rp479,7 triliun setara 2,02% PDB per 31 Oktober 2025. Hal ini dicapai berkat pendapatan sebesar RpRp2.113,3 triliun dan belanja sebesar RpRp2.593 triliun.

Menkeu Purbaya merinci, pendapatan yang setara 73,7% dari target APBN 2025 itu terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.708,3 triliun serta PNBP yang mencapai Rp402,4 triliun.

Sementara belanja yang setara 73,5 persen dari target APBN 2025 ini mengalir ke program prioritas pemerintah, termasuk belanja pusat, transfer ke daerah, serta dukungan terhadap daya beli dan pembangunan infrastruktur.

Menurut Menkeu, dinamika perekonomian global mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah tekanan dari konflik geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter mereda. Penurunan suku bunga acuan Federal Reserve dan meredanya ketegangan Amerika Serikat–China memberikan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi dunia.

Baca Juga: APBN 2026 Patok Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen, Indef: 5 Persen Realistis

"Indikator manufaktur global pada Oktober 2025 tercatat tetap berada pada zona ekspansi dengan indeks PMI 50,8," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA, di gedung Kemenkeu Jakarta, Kamis (20/11/2025).

Indonesia bahkan mencatat angka lebih tinggi, yakni 51,2, menandakan pemulihan permintaan dan peningkatan produksi di dalam negeri tetap kuat. Pemerintah menilai capaian ini menjadi dasar optimisme terhadap prospek ekonomi jangka pendek.

Meski demikian, perlambatan ekonomi China menjadi salah satu faktor risiko di kawasan. Pemerintah mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi negara tersebut masih melemah pada kuartal ketiga. Namun, Asia Tenggara termasuk Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif baik.

"Pergerakan harga komoditas global juga masih berfluktuasi. Batu bara, minyak, dan nikel mengalami pelemahan secara tahunan, sementara tembaga dan minyak sawit mentah (CPO) bergerak menguat," jelas Purbaya.

Perubahan harga komoditas ini memberi dampak langsung terhadap performa ekspor Indonesia dan penerimaan APBN. Secara bulanan, harga batu bara kembali terkerek naik menjadi sekitar USD109,5 per ton akibat meningkatnya permintaan dari sejumlah negara importir utama.

Harga minyak dunia juga mengalami kenaikan tipis meski secara tahunan masih turun. Pemerintah menilai dinamika geopolitik dan surplus produksi OPEC+ menjadi faktor utama pelemahan harga minyak.

Sentimen positif juga terlihat pada pasar keuangan global. Mayoritas mata uang negara berkembang mengalami apresiasi terhadap dolar AS, meski rupiah masih terdepresiasi 3,7% secara year-to-date.

Menteri Keuangan menyebut pelemahan rupiah masih tergolong moderat jika dibandingkan Turki dan Argentina yang depresiasinya melampaui 19% dan 36%.

"Di pasar saham, indeks global tumbuh solid dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan hingga 18,2 persen sepanjang tahun," ujarnya.

Arus masuk dana investor asing sepanjang November mencapai Rp7,3 triliun, menjadi salah satu penopang penguatan pasar domestik.

Sementara itu, pasar obligasi masih dibayangi reposisi investor asing. Namun, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menurun 85,6 basis poin, menunjukkan kepercayaan investor domestik tetap kuat. Pemerintah menilai pendalaman pasar keuangan menjadi faktor penguat stabilitas investasi.

Purbaya juga mengatakan, neraca perdagangan Indonesia hingga September 2025 tetap mencatat surplus dengan nilai kumulatif USD33,48 miliar.

"Ekspor tumbuh 11,4 persen, sementara impor naik 7,2 persen, menunjukkan aktivitas industri dalam negeri tetap meningkat di tengah permintaan global yang stabil," katanya.

Dengan membaiknya sentimen global serta kuatnya permintaan domestik, pemerintah menegaskan perekonomian Indonesia masih berada pada jalur pemulihan yang kokoh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa