Tekanan Politik Memuncak, PM Jepang Dikepung Isu Ekonomi Menjelang Pemilu

AKURAT.CO Kontraksi ekonomi Jepang pada kuartal I 2025 memperkuat tekanan terhadap Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba menjelang pemilu majelis tinggi bulan depan.
Dikutip dari laman bloomberg, mengacu kepada data resmi yang dirilis Senin (9/6/2025) lalu menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) menyusut 0,2% secara tahunan, memicu kekhawatiran akan berlanjutnya pelemahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Penurunan ini memang lebih ringan dibanding estimasi awal sebesar minus 0,7%, namun tetap mencerminkan kerapuhan ekonomi domestik.
Bahkan konsumsi pribadi hanya tumbuh 0,1%, sementara ekspor neto justru menyumbang kontraksi hingga 0,8 poin persentase. Kondisi ini kian pelik akibat tarif besar-besaran dari Amerika Serikat yang membebani sektor ekspor, terutama industri otomotif.
Baca Juga: Misi Dagang RI ke Jepang 2025, Dorong Ekspor Produk Berkelanjutan dan Energi
Tentunya, krisis tersebut turut berdampak pada citra PM Ishiba, dengan tingkat elektabilitasnya yang semakin menurun. Untuk meredam ketidakpuasan publik, pemerintah menggulirkan paket bantuan seperti subsidi utilitas dan distribusi beras dari cadangan nasional. Namun, sejumlah pengamat menilai langkah ini belum cukup kuat.
Menurut Ekonom Meiji Yasuda Research Institute, Kazutaka Maeda menjelaskan bahwasanya berbagai bantuan kebijakan paket ekonomi yang sudah digulirkan oleh pemerintah masih belum memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat.
“Dibandingkan dengan oposisi, kebijakan ekonomi pemerintah tampak kurang menggigit,” ucapnya.
Di sisi lain, Jepang juga tertekan dalam diplomasi perdagangan. Negosiasi dengan AS belum menunjukkan kemajuan signifikan, meski tenggat waktu pengenaan tarif baru tinggal hitungan pekan.
Sementara itu, negara-negara lain seperti Inggris dan China telah mencapai kesepakatan awal dengan Washington.
Baca Juga: Jepang Andalkan Investasi Strategis Tekan Tarif AS Jelang Pertemuan G-7
Kepala negosiator perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, mengakui pembicaraan mengenai negosiasi tarif dengan Amerika masih berjalan lambat.
“Kami belum bisa mengumumkan kesepakatan apapun, meski pembicaraan terus dilakukan,” ucapnya.
Pelemahan ekonomi diiringi ketidakpastian perdagangan menjadi tantangan ganda bagi Ishiba. Dengan konsumsi menyumbang hampir 60% dari PDB Jepang, stagnasi permintaan domestik dan pelemahan ekspor berisiko mendorong Jepang ke dalam resesi teknis pada kuartal berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








