Ini Hubungan Kebijakan Politik dan Moneter AS dengan BI Rate

AKURAT.CO Keterkaitan antara peta politik Amerika Serikat (AS) dan suku bunga Indonesia mungkin terdengar seperti dua hal yang terpisah jauh.
Namun, dalam dunia ekonomi global yang saling terhubung, keputusan politik di Washington dapat mempengaruhi kebijakan moneter di Jakarta.
Disaat The Fed menaikkan suku bunga, hal ini biasanya dilakukan untuk menekan inflasi domestik AS. Namun, dampaknya tidak berhenti di sana. Kenaikan suku bunga AS membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Di sisi lain, ketika politik AS berada dalam ketidakpastian seperti saat terjadi pergantian presiden atau kebuntuan legislatif di Kongres hal ini juga dapat mempengaruhi kebijakan ekonomi secara keseluruhan, termasuk keputusan The Fed.
Misalnya, pemerintahan yang condong pada kebijakan fiskal ekspansif dapat mendorong The Fed untuk bertindak lebih agresif menaikkan suku bunga guna menghindari overheating ekonomi.
Dampak FFR pada Suku Bunga Indonesia
Indonesia, sebagai bagian dari pasar negara berkembang, tidak dapat menghindari efek domino dari keputusan The Fed. Bahkan Bank Indonesia (BI) sering kali harus menyesuaikan suku bunga acuannya untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Meskipun begitu, dengan menjaga stabilitas rupiah, BI juga dapat mengontrol inflasi. Pelemahan rupiah biasanya menyebabkan kenaikan harga barang impor, yang berdampak pada meningkatnya inflasi. Oleh karena itu, penyesuaian suku bunga menjadi alat penting untuk menjaga harga tetap stabil.
Pengaruh Politik AS ke Kebijakan BI
Peta politik AS memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan ekonomi negara tersebut. Sebagai contoh, saat Donald Trump menjabat, kebijakan perdagangan proteksionis dan pengurangan pajak besar-besaran memicu ketidakpastian global.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memprediksi ketidakpastian global yang bersumber dari kebijakan inward-looking AS di bawah pemerintahan Donald Trump, kemungkinan besar akan terus berlanjut.
“Sehingga hal tersebut akan membatasi fleksibilitas Fed untuk menurunkan Federal Funds Rate (FFR), sehingga membatasi kemampuan BI untuk menurunkan suku bunga acuan lebih awal,” ucapnya.
Sejalan dengan itu, Josua juga memperkirakan tingkat inflasi Indonesia bisa melonjak lebih dari 3%, disebabkan berbagai penyesuaian tarif pajak dan cukai, dan defisit neraca transaksi berjalan (CAD) dapat melebar di tahun 2025 di tengah kemungkinan Perang Dagang 2.0, sehingga menimbulkan tantangan yang signifikan.
“CAD yang melebar meningkatkan risiko twin deficit, terutama karena kebijakan fiskal 'pro-pertumbuhan' di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, yang selanjutnya membatasi sejauh mana BI dapat menurunkan suku bunga acuan,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini






