Akurat

Tarif Dagang Tinggi Ala Trump, Genjot Pendapatan Atau Beban?

Demi Ermansyah | 16 Januari 2025, 07:53 WIB
Tarif Dagang Tinggi Ala Trump, Genjot Pendapatan Atau Beban?

AKURAT.CO Donald Trump kembali jadi sorotan dengan rencana kebijakan tarif impor yang ambisius. Presiden terpilih AS ini mengumumkan pembentukan External Revenue Service (ERS), sebuah badan baru untuk mengelola tarif dan bea masuk.

Menurutnya, langkah ini akan mendatangkan lebih banyak pendapatan bagi AS, sekaligus memastikan bahwa mitra dagang "membayar bagian yang adil." Namun, para pakar menilai bahwa janji tersebut tidak sesederhana kelihatannya.

Dilansir Bloomberg, Kamis (16/1/2025), ERS dirancang untuk mengambil alih tugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) yang selama ini sudah mengelola pendapatan tarif. Namun, banyak yang mempertanyakan keefektifan ide ini.

Baca Juga: Genjot Pendapatan dari Aktivitas Impor, Trump Bakal Bentuk ERS

"Ini seperti menduplikasi pekerjaan yang sudah ada," ujar Brian Riedl dari Manhattan Institute.

Selain itu, mayoritas tarif sebenarnya dibayar oleh konsumen domestik. Artinya, kenaikan tarif justru berpotensi membebani masyarakat AS sendiri, bukan negara-negara mitra dagang seperti yang diharapkan Trump.

Trump sebelumnya menjanjikan tarif impor minimum 10% hingga 20% untuk semua barang, dan hingga 60% untuk produk dari China. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi defisit perdagangan dan mengembalikan pekerjaan manufaktur ke AS.

Namun, para ekonom memperingatkan bahwa tarif tinggi dapat memicu inflasi dan menaikkan harga barang kebutuhan pokok.

"Tarif itu seperti pajak tambahan untuk konsumen," kata Ernie Tedeschi dari Yale University Budget Lab. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga bisa memperburuk daya beli masyarakat di tengah ekonomi yang masih rentan.

Kebijakan tarif Trump juga memicu reaksi beragam dari kalangan bisnis dan investor. Ketidakpastian terkait penerapan tarif ini telah mengguncang pasar, meskipun Trump didukung oleh beberapa eksekutif Wall Street.

Tim ekonomi Trump kabarnya tengah membahas strategi kenaikan tarif bertahap untuk meminimalkan dampak inflasi. Namun, pendekatan ini masih dalam tahap awal dan belum disetujui oleh Trump.

Terlepas dari risiko dan kontroversi, tarif tetap menjadi alat favorit Trump untuk menekan mitra dagang. Selain mendatangkan pendapatan, tarif juga digunakan sebagai senjata diplomasi, seperti untuk menekan Kanada dan Meksiko agar membantu AS mengatasi migrasi ilegal dan perdagangan narkoba.

Namun, analis skeptis apakah strategi ini benar-benar efektif. "Tarif tinggi bisa mengurangi arus perdagangan, tetapi dampak ekonominya lebih besar bagi masyarakat AS sendiri," kata Ried.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.