Akurat

Memanas, AS - China Perang Tarif Semikonduktor

Demi Ermansyah | 24 Desember 2024, 23:49 WIB
Memanas, AS - China Perang Tarif Semikonduktor

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali memanas. Pemerintahan Joe Biden mengumumkan penyelidikan terhadap cip semikonduktor lawas yang diproduksi di China.

Langkah ini membuka peluang pemberlakuan tarif baru pada cip tersebut, yang digunakan dalam berbagai sektor seperti otomotif, telekomunikasi, hingga perangkat medis.

China dengan cepat merespons keras langkah AS. Juru bicara Kementerian Perdagangan China meminta AS untuk segera menghentikan penyelidikan yang dianggap salah dan mengancam akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi kepentingannya. 

Baca Juga: Prospek Industri Semikonduktor AS di Bawah Trump

Tak hanya itu saja, Beijing juga menuduh AS menggunakan dalih keamanan nasional untuk menghambat perdagangan internasional.

Dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/12/2024), dalam penyelidikan baru-baru ini, AS menggunakan Pasal 301, kerangka hukum yang sebelumnya dimanfaatkan oleh pemerintahan Trump untuk memberlakukan tarif besar-besaran pada berbagai produk impor dari China. 
 
Jika penyelidikan ini menemukan bahwa praktik perdagangan China “tidak wajar” atau “diskriminatif,” AS dapat memberlakukan tarif balasan atau membatasi impor dari China.

Langkah ini juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas dalam hubungan AS-China. Kedua negara telah terlibat dalam persaingan teknologi selama bertahun-tahun, dengan semikonduktor menjadi salah satu medan utama. 
 
China telah meningkatkan subsidinya untuk memajukan industri cip domestiknya, sementara AS mencoba mengurangi ketergantungan pada impor dengan membatasi ekspor teknologi canggih ke China.

Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara. Negara-negara Asia lainnya, seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang, yang terintegrasi dalam rantai pasokan cip global, juga menghadapi ketidakpastian.
 
Menurut analis dari Bloomberg Intelligence, peningkatan tarif cip lawas dari 25% menjadi 50% pada 2025 dapat mengganggu stabilitas pasar global, memperlambat produksi di berbagai sektor industri.

Selain itu, langkah ini juga mempengaruhi hubungan perdagangan internasional yang lebih luas. Banyak negara khawatir bahwa ketegangan ini akan memicu perlombaan proteksionisme, menghambat perdagangan bebas, dan mengancam stabilitas ekonomi global.
 
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah menyerukan dialog antara AS dan China untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai, tetapi kedua negara tampaknya lebih memilih pendekatan konfrontatif.

Di dalam negeri, AS menghadapi dilema. Sementara langkah ini dianggap penting untuk melindungi keamanan nasional, dampaknya terhadap konsumen dan perusahaan AS tidak dapat diabaikan.
 
Meningkatnya tarif dapat menyebabkan lonjakan biaya produksi dan harga barang, terutama pada produk-produk yang sangat bergantung pada cip lawas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.