Pemerintah Baru Thailand Kebut Restruturisasi Utang Rumah Tangga USD474 Juta
Demi Ermansyah | 10 September 2024, 14:52 WIB

AKURAT.CO Pemerintah baru Thailand berencana untuk mempercepat restrukturisasi utang sebagai upaya menangani utang rumah tangga yang mencapai USD474 juta (Rp7,3 triliun). Dimana otoritas baru negara tersebut akan memberikan bantuan keuangan untuk UMKM dan mempercepat stimulus fiskal demi mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dilansir Reuters, rencana kebijakan yang akan digodok oleh pemerintahan baru Thailand menyebutkan akan ada upaya penanganan utang rumah tangga mencakup seluruh sistem, dengan fokus khusus pada warga yang memiliki kredit rumah dan mobil.
Perdana Menteri baru Thailand, Paetongtarn Shinawatra akan memaparkan rencana restrukturisasi utang ini di hadapan parlemen pada 12 September 2024 mendatang. Di mana kebijakan tersebut juga akan mencakup sektor informal, dan akan dilaksanakan melalui lembaga keuangan milik pemerintah, bank komersial, serta perusahaan manajemen aset.
Baca Juga: Malaysia dan Thailand Pepet BRICS, RI Ikut?
PM Paetongtarn akan menyampaikan kekhawatirannya tentang utang rumah tangga yang sudah mencapai lebih dari USD474 miliar, setara dengan lebih dari 90% PDB Thailand, serta meningkatnya kredit macet. Menurutnya, utang ini telah memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin, terutama karena pembangunan yang terpusat di Bangkok dan kota besar lainnya.
Pernyataan kebijakan ini akan menegaskan prioritas dari koalisi pemerintahan yang dipimpin Partai Pheu Thai, yang juga didukung oleh kelompok pro-kemapanan dan pendukung kerajaan. Sebagai informasi, Paetongtarn selaku putri bungsu mantan pemimpin berpengaruh Thaksin Shinawatra, diangkat sebagai perdana menteri bulan lalu setelah pendahulunya dicopot karena pelanggaran etika.
Ia menghadapi tantangan besar untuk memacu ekonomi Thailand yang bernilai USD500 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan hanya 1,9% selama pemerintahan sebelumnya yang didukung militer, jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga.
Selain itu, ia juga harus meyakinkan investor asing bahwa ia dapat memimpin pemerintahan yang stabil, tanpa konflik dengan bank sentral, serta membuat kebijakan untuk menghidupkan kembali sektor manufaktur dan mempertahankan kinerja sektor pariwisata yang positif.
Paetongtarn akan menyatakan bahwa tanpa langkah keuangan dan fiskal yang tepat untuk mendukung ekspansi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan tidak akan melebihi 3% per tahun. Hal ini akan membuat utang rumah tangga mencapai batas yang diizinkan undang-undang, yakni 70% dari PDB pada tahun 2027. "Tantangan terbesar bagi pemerintah adalah segera memperbaiki ekonomi agar dapat tumbuh lebih kuat," katanya.
Meski akan melanjutkan beberapa kebijakan mantan PM Srettha, pemerintah Paetongtarn juga akan meminjam beberapa langkah dari peta jalan pembangunan Thailand baru yang diumumkan oleh Thaksin bulan lalu. Pernyataan kebijakan ini menekankan pentingnya mempercepat stimulus ekonomi, tetapi tidak merinci soal rencana pembagian uang tunai yang diusulkan oleh perdana menteri sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja








