Akurat

Malaysia dan Thailand Pepet BRICS, RI Ikut?

Demi Ermansyah | 26 Agustus 2024, 18:00 WIB
Malaysia dan Thailand Pepet BRICS, RI Ikut?

AKURAT.CO BRICS, yang pada awalnya hanya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, tampaknya perlu mempertimbangkan nama baru.

Setelah tidak menambah anggota selama 13 tahun, aliansi internasional non-Barat ini menyambut anggota baru seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab pada bulan Agustus lalu.

Sejak saat itu, pintu keanggotaan terbuka lebar. Bahkan pada bulan Februari, Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Naledi Pandor mengungkapkan bahwa lebih dari 30 negara kini berminat untuk bergabung dengan aliansi tersebut.

Dilansir Fortune, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim sangat bersemangat untuk bergabung dengan blok tersebut. Anwar Ibrahim telah melobi pejabat Rusia, China, dan baru-baru ini India untuk memperkuat peluang Malaysia menjadi anggota BRICS.

Tak hanya Malaysia, Thailand juga secara resmi mengajukan aplikasi untuk bergabung pada bulan Juni lalu, dan para pejabat memperkirakan bahwa negara Asia Tenggara ini mungkin akan diterima pada pertemuan puncak BRICS di Rusia pada bulan Oktober.

Baca Juga: BRICS Pay dan Dedolarisasi

Nama BRICS sendiri berasal dari laporan Goldman Sachs pada tahun 2001, dan selama ini aliansi tersebut menghadapi tantangan dalam menemukan tujuan ekonomi atau geopolitik yang jelas, mengingat negara-negara anggotanya tidak memiliki banyak kesamaan selain status mereka sebagai negara besar non-Barat.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, blok ini semakin aktif memposisikan diri sebagai representasi dari Global South, istilah yang merujuk pada negara-negara berkembang pascakolonial. Argumen ini semakin menguat setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, yang mengangkat kembali isu geopolitik dan menyoroti dominasi AS dalam sistem ekonomi global.

"Bagi beberapa negara, BRICS bisa menjadi kekuatan penyeimbang terhadap dominasi ekonomi AS," ujar Rahman Yaacob selaku peneliti di program Asia Tenggara di Lowy Institute.

Oleh karena itu, bergabung dengan BRICS juga bisa menjadi cara untuk melindungi diri secara politis, terutama karena persaingan yang semakin tajam antara Washington dan Beijing bisa memecah dunia menjadi dua blok yang berlawanan.

"Jika dunia terpecah menjadi blok-blok, lebih baik berada di dalamnya daripada di luar," kata Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation.

Lalu apa yang mendorong Malaysia dan Thailand untuk bergabung dengan BRICS? Menurut Rahman, China telah menjadi mitra dagang terbesar bagi Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, serta merupakan sumber bantuan pembangunan terbesar bagi beberapa negara di kawasan ini.

Bagi Anwar Ibrahim, bergabung dengan BRICS bisa menjadi strategi untuk mengamankan kesepakatan perdagangan atau investasi bagi Malaysia. "Keinginan untuk bergabung dengan BRICS bisa mendorong negara-negara Barat untuk meningkatkan investasi di Malaysia, atau bahkan memotivasi Malaysia untuk mempertimbangkan keanggotaan dalam aliansi pro-Barat, seperti OECD," jelas Wen Chong Cheah, analis Asia-Pasifik di Economist Intelligence Unit.

Indonesia bagaimana? Pemerintah menyatakan masih terus mengkaji peluang buat bergabung dengan organisasi antarpemerintah BRICS yang digawangi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menyatakan pemerintah sedang mempelajari keuntungan yang bisa diperoleh jika bergabung dengan organisasi itu. Menurut Retno, Indonesia tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan karena kebijakan luar negeri Indonesia akan diperhitungkan dengan matang.

"Politik luar negeri kita selalu diperhitungkan dengan matang, tidak ada keputusan yang begitu saja dikeluarkan. Jadi untuk saat ini Indonesia masih terus mempelajari keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan bergabung dalam BRICS," lanjut Retno.

Retno menyampaikan, Indonesia terbuka bekerja sama dengan pihak mana pun selama bersifat saling menguntungkan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.