Ekonom Sarankan Transformasi Ekonomi Demi Indonesia Maju 2045
Demi Ermansyah | 26 Agustus 2024, 20:21 WIB

AKURAT.CO Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Kalimantan Timur, Aji Sofyan Effendi menyatakan transformasi ekonomi nasional harus terus dilakukan, bahkan dikembangkan untuk mewujudkan Indonesia maju 2045, meski ada beberapa tantangan.
"Transformasi ekonomi Indonesia merupakan perjalanan yang kompleks dan berkelanjutan, sehingga mengharuskan negara ini terus beradaptasi dengan perubahan global dan domestik, untuk mencapai visi negara maju pada 2045," ujar Aji, dikutip Senin (26/8/2024).
Banyak tantangan yang dihadapi dalam transformasi ekonomi Indonesia, antara lain masih tingginya ketergantungan pada sumber daya alam, yakni masih bergantung pada ekspor komoditas minyak sawit, batu bara, dan minyak bumi.
Banyak tantangan yang dihadapi dalam transformasi ekonomi Indonesia, antara lain masih tingginya ketergantungan pada sumber daya alam, yakni masih bergantung pada ekspor komoditas minyak sawit, batu bara, dan minyak bumi.
Baca Juga: HUT ke-79 RI, MIND ID Pastikan Ketahanan Mineral Dukung Indonesia Maju
Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global, bahkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengurangi keberlanjutan jangka panjang.
Tantangan berikutnya, pembangunan ekonomi belum merata antar-daerah, terutama di Pulau Jawa yang sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, menyumbang sebagian besar PDB negara, sementara daerah-daerah lain seperti Papua dan Nusa Tenggara masih tertinggal.
Ketimpangan ini dapat menyebabkan ketidakpuasan sosial dan politik, termasuk menghambat potensi ekonomi daerah-daerah yang belum berkembang. Namun demikian, lanjut Aji Sofyan, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang merupakan kawasan tengah Indonesia, hal ini menjadi harapan besar masa depan bagi pemerataan pembangunan sekaligus pertumbuhan ekonomi Indonesia di berbagai penjuru.
Kemudian masalah infrastruktur, yakni masih banyak daerah yang kurang terjangkau infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih, sehingga keterbatasan ini menghambat konektivitas antar-daerah dan meningkatkan biaya logistik, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi daya saing ekonomi.
Tantangan lain adalah kualitas sumber daya manusia. Meskipun tingkat pendidikan telah meningkat, namun kualitas pendidikan dan relevansi keterampilan yang diajarkan dengan kebutuhan pasar kerja masih perlu ditingkatkan untuk bersaing di tingkat global, terutama transformasi ekonomi berbasis teknologi.
"Regulasi dan birokrasi kompleks juga menjadi tantangan karena hal ini tidak efisien bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi. Saran saya, Indonesia perlu membentuk Badan Transformasi Ekonomi untuk mengurangi semua tantangan ini sekaligus membangun jejaring di tingkat global," katanya.
Ketergantungan ini membuat perekonomian rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global, bahkan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengurangi keberlanjutan jangka panjang.
Tantangan berikutnya, pembangunan ekonomi belum merata antar-daerah, terutama di Pulau Jawa yang sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan, menyumbang sebagian besar PDB negara, sementara daerah-daerah lain seperti Papua dan Nusa Tenggara masih tertinggal.
Ketimpangan ini dapat menyebabkan ketidakpuasan sosial dan politik, termasuk menghambat potensi ekonomi daerah-daerah yang belum berkembang. Namun demikian, lanjut Aji Sofyan, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang merupakan kawasan tengah Indonesia, hal ini menjadi harapan besar masa depan bagi pemerataan pembangunan sekaligus pertumbuhan ekonomi Indonesia di berbagai penjuru.
Kemudian masalah infrastruktur, yakni masih banyak daerah yang kurang terjangkau infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih, sehingga keterbatasan ini menghambat konektivitas antar-daerah dan meningkatkan biaya logistik, sehingga pada akhirnya dapat mengurangi daya saing ekonomi.
Tantangan lain adalah kualitas sumber daya manusia. Meskipun tingkat pendidikan telah meningkat, namun kualitas pendidikan dan relevansi keterampilan yang diajarkan dengan kebutuhan pasar kerja masih perlu ditingkatkan untuk bersaing di tingkat global, terutama transformasi ekonomi berbasis teknologi.
"Regulasi dan birokrasi kompleks juga menjadi tantangan karena hal ini tidak efisien bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi. Saran saya, Indonesia perlu membentuk Badan Transformasi Ekonomi untuk mengurangi semua tantangan ini sekaligus membangun jejaring di tingkat global," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








