IMF Kritik Perang Dagang AS-China yang Kembali Memanas
Demi Ermansyah | 17 Mei 2024, 18:43 WIB

AKURAT.CO Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa Amerika Serikat akan lebih diuntungkan jika mempertahankan sistem perdagangan terbuka daripada menerapkan tarif baru yang bersifat sanksi.
Dilansir oleh Reuters, IMF juga menyarankan agar Washington dan Beijing untuk dapat bekerja sama dalam upaya menyelesaikan ketegangan perdagangan antara mereka.
Sebab menurut Juru Bicara IMF, Julie Kozack menyampaikan bahwa pembatasan perdagangan (sanksi ekonomi) yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Biden dapat mengganggu perdagangan dan investasi, memecah rantai pasok bahkan skenario paling buruk yakni memicu adanya tindakan saling membalas sanksi ekonomi.
"Hal-hal seperti sangat bisa sekali merugikan perekonomian global," katanya dikutip Jumat (17/5/2024).
"Mengenai tarif, pandangan kami adalah bahwa AS akan lebih diuntungkan dengan mempertahankan kebijakan perdagangan terbuka yang penting bagi kinerja ekonominya," kata Kozack.
Tak hanya itu saja, tambah Kozack, IMF juga mendorong AS dan China untuk bekerja sama untuk mengatasi kekhawatiran mendasar yang memperburuk ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu Washington telah menetapkan tarif yang jauh lebih tinggi terhadap kendaraan listrik, produk tenaga surya, semikonduktor, pasokan medis, dan barang-barang China lainnya.
Langkah tersebut diambil AS sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi industri dalam negerinya dari kebijakan ekonomi China yang telah mendorong investasi berlebih dan produksi berlebih di sektor-sektor tersebut sehingga diperkirakan akan memicu banjir ekspor ke pasar global.
Beijing berjanji akan membalas kebijakan baru tersebut dan menuduh beberapa pejabat AS telah kehilangan akal sehat.
Lebih lanjut Kozack menyebutkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi sekitar 3.000 pembatasan perdagangan global pada tahun 2023, meningkat dari 1.000 pembatasan pada tahun 2019.
Dalam skenario terburuk, jika fragmentasi parah berubah menjadi blok-blok geopolitik, hal ini dapat mengurangi output ekonomi global sekitar 7%, setara dengan PDB gabungan Jepang dan Jerman.
"Mengenai tarif, pandangan kami adalah bahwa AS akan lebih diuntungkan dengan mempertahankan kebijakan perdagangan terbuka yang penting bagi kinerja ekonominya," kata Kozack.
Tak hanya itu saja, tambah Kozack, IMF juga mendorong AS dan China untuk bekerja sama untuk mengatasi kekhawatiran mendasar yang memperburuk ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Seperti yang diketahui, beberapa waktu lalu Washington telah menetapkan tarif yang jauh lebih tinggi terhadap kendaraan listrik, produk tenaga surya, semikonduktor, pasokan medis, dan barang-barang China lainnya.
Langkah tersebut diambil AS sebagai tindakan pencegahan untuk melindungi industri dalam negerinya dari kebijakan ekonomi China yang telah mendorong investasi berlebih dan produksi berlebih di sektor-sektor tersebut sehingga diperkirakan akan memicu banjir ekspor ke pasar global.
Beijing berjanji akan membalas kebijakan baru tersebut dan menuduh beberapa pejabat AS telah kehilangan akal sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










