Akurat

Rupiah Ditutup Melemah 23 Poin Usai Tensi Perang Dagang AS-China Memanas

Arief.Permana | 5 Juli 2023, 16:42 WIB
Rupiah Ditutup Melemah 23 Poin Usai Tensi Perang Dagang AS-China Memanas

AKURAT.CO Rupiah melemah 23 poin ke level Rp15.017 pada penutupan perdagangan Rabu, 5 Juli 2023 menyusul ketegangan perdagangan AS- China.

Analis pasar uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan perdagangan AS-China meningkat setelah importir utama China memblokir ekspor beberapa produk galium dan germanium (bahan utama dalam proses pembuatan chip) ke AS.

Langkah ini merupakan pembalasan atas tindakan AS untuk memblokir akses China ke teknologi pembuatan chip utama, memicu kekhawatiran atas konflik perdagangan yang lebih besar antara ekonomi terbesar di dunia.

Secara khusus, investor rupiah mengkhawatirkan lebih banyak gangguan pada rantai pasokan global, terutama jika China memblokir ekspor mineral tanah jarang yang mana China merupakan pengekspor terbesar dunia.

"Langkah itu juga dilakukan pada saat ekonomi China berada di ujung tanduk, karena berjuang untuk pulih dari aturan anti-COVID yang ketat selama tiga tahun. Hambatan lebih lanjut terhadap ekonomi Tiongkok diperkirakan akan membebani seleranya terhadap tembaga," kata Ibrahim dikutip Rabu (5/7/2023).

Dari sisi tekanan eksternal lainnya terhadap rupiah, fokus pedagang saat ini adalah risalah pertemuan Fed bulan Juni sebagai petunjuk lebih lanjut tentang jalur suku bunga AS. Sementara bank sentral menahan suku bunga bulan lalu, bank sentral juga menandai setidaknya dua kenaikan lagi tahun ini, mengingat inflasi masih tetap tinggi.

Gubernur Fed Jerome Powell juga mengulanginya dalam serangkaian pidato selama dua minggu terakhir. Pasar memperkirakan peluangnya 88% bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin nanti di bulan Juli. Sementara data terbaru menunjukkan bahwa inflasi AS secara keseluruhan menurun, inflasi inti masih bertahan dan jauh di atas kisaran target Fed.

Selain itu, dari sisi internal penggerak rupiah, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 5,75% hingga akhir 2023 sejalan dengan tren inflasi yang semakin melandai. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni 2023 melandai ke tingkat 3,52% secara tahunan atau kembali dalam target sasaran inflasi BI 2-4%.  

Tingkat inflasi pada Juni 2023 yang tercatat lebih rendah dari perkiraan, sejalan dengan inflasi inti yang tetap terkendali serta kenaikan inflasi harga bergejolak yang cukup moderat. Inflasi inti pada Juni 2023 melandai ke tingkat 2,58% secara tahunan dari bulan sebelumnya yang tercatat 2,66% secara tahunan. Dengan perkembangan inflasi inti yang tetap terjaga di bawah 3% dan inflasi umum yang kembali ke tingkat di bawah 4%, BI dinilai memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.  

Namun BI, perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini mempertimbangkan arah kebijakan the Fed yang berpotensi kembali menaikkan suku bunga sekitar 25-50 basis poin ke depan. Selain itu, BI juga diperkirakan masih akan melihat perkembangan inflasi, mengingat ada risiko peningkatan akibat El Nino, yang juga akan menimbulkan kekeringan yang selanjutnya akan mempengaruhi produktivitas tanaman pangan.

"Dengan berbagai kondisi tersebut, BI akan mempertimbangkan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan sebesar 5,75 persen hingga akhir 2023," pungkas Ibrahim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Y