Ekonom Ungkap Biang Kerok Pertumbuhan Ekonomi Melambat ke 5,05 Persen di 2023

AKURAT.CO Ekonom menilai ada dua penyebab utama perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 lalu, ke level 5,05% dari tahun sebelumnya 5,31%.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara membeberkan. Faktor utama yang menyebabkan penurunan ini adalah kelesuan dalam harga komoditas yang sebelumnya menjadi motor penggerak ekonomi.
Lalu, tekanan pada ekspor juga terasa, terutama karena China, mitra dagang utama, mengalami pertumbuhan yang lebih rendah.
Baca Juga: Bahlil Klaim Realisasi Investasi Jadi Salah Satu Pendorong Terbesar Pertumbuhan Ekonomi 2023
Menurutnya, kedua faktor tersebut menyebabkan tidak hanya di Indonesia, tetapi secara global pertumbuhan ekonomi mulai melambat.
"Pertumbuhan ekonomi mulai kehabisan tenaga. Motor utama yang mengandalkan booming harga komoditas mulai melandai. Situasi ekspor sedang hadapi berbagai tekanan terutama sejak China sebagai mitra dagang utama mengalami fase pertumbuhan yang lebih rendah," kata Bhima kepada Akurat.co, Selasa (6/2/2024).
Di sisi lain, Bhima menyoroti konsumsi domestik juga sedang bermasalah terutama di kelompok menengah kebawah akibat naiknya harga pangan, dan kesempatan kerja yang terbatas di sektor formal.
Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi agar lebih tinggi, dia menekankan pentingnya melakukan transformasi sektoral.
Menurut perhitungan Celios, transisi ke ekonomi hijau dapat memberikan manfaat sebesar Rp2.943 triliun dalam 10 tahun mendatang, setara dengan 14,3% dari PDB Indonesia pada tahun 2024.
"Untuk dorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi kunci nya adalah segera lakukan transformasi sektoral. Celios menghitung manfaat transisi ke ekonomi hijau sebesar Rp 2.943 triliun dalam 10 tahun ke depan, atau setara 14,3% PDB Indonesia pada tahun 2024," terangnya.
Selain manfaat ekonomi, transisi ke ekonomi hijau juga berpotensi menciptakan 19,4 juta lapangan kerja baru, meliputi berbagai sektor seperti energi, ekonomi circular, dan ekonomi restoratif.
Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam transisi ke ekonomi hijau tidak hanya berdampak positif secara ekonomi, tetapi juga sosial dengan menciptakan lapangan kerja baru.
"Selain itu terdapat 19,4 juta lapangan kerja yang muncul dari transisi ke ekonomi hijau yang meliputi transisi energi, ekonomi circular hingga ekonomi restoratif," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










