Bagaimana Peluang BI Rate Turun Usai The Fed Tahan Suku Bunga?

AKURAT.CO Bank sentral AS, The Fed, menahan tingkat suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR) di rentang 5,25–5,5%, sesuai ekspektasi konsensus. Lalu bagaimana peluang BI rate turun ke depan?
Dalam pernyataannya di sela FOMC atau Rapat Komite Pasar Terbuka Gubernur Fed, Kepala The Fed, Jerome Powell mengatakan bahwa keputusan tersebut didasarkan oleh tingkat inflasi di AS yang masih tinggi.
Powell bilang pemangkasan suku bunga baru akan dilakukan jika The Fed yakin inflasi bergerak turun menuju target 2%. Per Desember 2023, inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) di AS, yang menjadi metrik inflasi pilihan The Fed, berada di level 2,6%.
Baca Juga: BI Tahan BI Rate di 6 Persen dan Jalankan 5 Kebijakan
Meski belum memangkas suku bunga, Powell menekankan bahwa ekonomi AS saat ini masih baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan tingkat pengangguran rendah di level 3,7%. Pasar saat ini memperkirakan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dalam pertemuan pada Mei 2024, menurut analisis probabilitas dari CME Group.
Bagaimana dengan BI rate? Tingkat inflasi di Indonesia saat ini terus melandai dari 2,61% di Desember 2023 menjadi 2,57% di Januari 2024. Hal ini memperlebar gap suku bunga riil (real yield) antara obligasi pemerintah Indonesia dan AS, sehingga berdampak positif bagi nilai tukar rupiah yang menjadi salah satu metrik utama BI dalam menentukan stance moneternya.
"Dengan meningkatnya kestabilan nilai tukar rupiah, BI akan memiliki ruang yang lebih besar untuk mulai memangkas suku bunga, mengikuti The Fed. Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, BI diperkirakan akan mulai memangkas suku bunga pada kuartal III-2024," tulis analisa Stockbit dikutip Jumat (2/2/2024).
Diketahui, rupiah sepanjanga tahun 2024 (1 Januari 2024 - 2 Februari 2024) pukul 14.19 WIB terdepresiasi 1,72% dari Rp15.390 menjadi Rp15.656, berdasarkan pantauan Google Finance.
Adapun inflasi Januari 2024 sebesar 2,57% terjadi karena adanya kenaikan harga sebagian besar indeks kelompok pengeluaran yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,84% dengan andil inflasi 1,63% terhadap inflasi umum.
Komoditas yang berkontribusi ke inflasi kelompok ini antara lain adalah beras, sigaret kretek mesin atau SKM, bawang putih, dan tomat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










