Akurat Logo

Rupiah Ambruk 97 Poin Terimbas Sentimen Inflasi AS Yang Masih Jauh Dari Target The Fed

M. Rahman | 7 November 2023, 15:45 WIB
Rupiah Ambruk 97 Poin Terimbas Sentimen Inflasi AS Yang Masih Jauh Dari Target The Fed

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 97 poin ke level Rp15.636 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 7 November 2023 menyusul inflasi AS yang masih jauh dari target 2%.

Pengamat Pasar Uang Dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal. 

 

Dari eksternal, fakta bawha inflasi AS per September 2023 yang masih sebesar 3,7% dan jauh dibawah target The Fed 2% menjadi sebuah tren yang dapat menarik lebih banyak kenaikan suku bunga.

 

"Perekonomian AS secara tak terduga terbukti tangguh, yang pada gilirannya dapat menjaga inflasi dalam beberapa bulan mendatang. Sebelumnya oasar memperkirakan kemungkinan hampir 100% bahwa The Fed telah menyelesaikan siklus kenaikan suku bunganya, terutama menyusul lemahnya data gaji minggu lalu. Namun para pedagang kini mengurangi taruhan terhadap jeda The Fed pada hari Selasa," kata Ibrahim dikutip Selasa (7/11/2023).

Baca Juga: Tak Selalu Buruk, Pelemahan Rupiah Justru Untungkan Pengusaha Ini

Sentimen eksternal lainnya yakni data perdagangan China yang mengecewakan, dimana ekspor mereka menyusut lebih dari yang diperkirakan pada bulan Oktober, sementara surplus perdagangan negara tersebut menyempit ke level terendah dalam 17 bulan. Meskipun impor meningkat secara tak terduga, pelemahan ekspor menandakan berlanjutnya penurunan mesin ekonomi terbesar China, yaitu eksportirnya.

"Sebagian besar penurunan ini disebabkan oleh memburuknya permintaan di negara tujuan ekspor terbesar negara tersebut di wilayah Barat. Pelemahan di China menjadi pertanda buruk bagi pasar Asia yang lebih luas, yang bergantung pada negara tersebut sebagai pusat perdagangan," kata Ibrahim.

Data inflasi China akan dirilis akhir pekan ini, dan diharapkan dapat memberikan lebih banyak petunjuk terhadap raksasa Asia tersebut.

Sentimen Internal Rupiah

Di luar prediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2023 mencapai 4,94% secara year on year (yoy). Hal tersebut sangat berbeda dengan prediksi pemerintah dan para ekonom sebesar 5,17%. Namun pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara di dunia.

Hal ini ditopang oleh solidnya permintaan domestik yang dicerminkan oleh konsumsi rumah tangga dan pmtb dan kuatnya konsumsi domestik, juga kita lihat dari indeks keyakinan konsumen yang masih di 121,7 pada november. Kemudian, dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga jadi kontributor tertinggi 52,62% terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023. Sedangkan, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) berkontribusi sebesar 29,68%.

Dari hasil PDB kuartal ketiga 2023 yang rendah, akan berdampak terhadap perekonomian tahun depan. Mengutip Dana Moneter Internasional atau IMF, pelemahannya akan lebih rendah lagi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun ini. Pelemahan ekonomi itu sejalan dengan tingkat inflasi global yang juga diperkirakan masih tinggi di tahun depan, maka prediksinya nilai tukar maupun suku bunga AS masih relatifly higher for longer.

"Jika nilai tukar mata uang maupun suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, maka akan mempengaruhi banyak negara. Bahkan akibat dari hal ini, banyak negara yang kemudian merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2024 mendatang," papar Ibrahim.

Sebelumnya, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% di tahun depan. Proyeksi ini turun 0,1% dibandingkan proyeksi yang diterbitkan pada April 2023 sebesar 5,1%. IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2024 menjadi 2,9%. Padahal sebelumnya proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi 2024 ini adalah 3%.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa