Akurat

Rupiah Terpeleset 14 Poin Usai Rilis Data Penjualan Ritel AS

M. Rahman | 18 Oktober 2023, 16:05 WIB
Rupiah Terpeleset 14 Poin Usai Rilis Data Penjualan Ritel AS

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 14 poin ke level Rp15.730 pada perdagangan Rabu, 18 Oktober 2023 usai rilis data penjualan ritel AS yang lebih tinggi dari perkiraan.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah tertekan sentimen eksternal dan internal. 

Dari eksternal, indeks dolar sedikit melemah, namun tetap mendekati puncak dalam 11 bulan setelah data ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari perkiraan pada hari Rabu serta data yang dirilis semalam menunjukkan bahwa penjualan ritel AS tumbuh lebih dari perkiraan pada bulan September, mendorong kekhawatiran terhadap inflasi yang tinggi, yang dapat membuat Federal Reserve bersikap hawkish.

Baca Juga: Rupiah Naik Tipis 5 Poin Jelang Serangkaian Pidato Pejabat Fed

Namun di sisi lain, ledakan di sebuah rumah sakit di Gaza membuat pergerakan tidak terlalu besar dan para pedagang khawatir akan kemungkinan konflik yang semakin meluas. Presiden AS Joe Biden dijadwalkan mengunjungi Israel pada hari Rabu. Shekel disematkan pada sisi yang lebih lemah yaitu 4 terhadap dolar. Hal ini juga terjadi di hadapan serangkaian pembicara The Fed minggu ini, terutama Ketua Jerome Powell pada hari Kamis.

"Pasar tetap mewaspadai sinyal hawkish dari Powell, setelah ia mengisyaratkan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama pada pertemuan The Fed di bulan September," kata Ibrahim dikutip Rabu (18/10/2023). 

Di Asia, data resmi menunjukkan perekonomian Tiongkok tumbuh 1,3% pada kuartal ketiga, meningkat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 1%. Output industri meningkat dan pengangguran menurun.

Sentimen Internal Rupiah

Para ekonom memperkirakan neraca transaksi berjalan Indonesia akan mencatat defisit sebesar 0,65% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023, dibandingkan dengan surplus 0,99% dari PDB tahun 2022.

Neraca transaksi berjalan deposit  disebabkan karena kinerja ekspor hingga akhir tahun diperkirakan akan terus menurun akibat harga komoditas yang rendah. Selain itu juga didorong oleh permintaan global yang belum kuat, di tengah inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga kebijakan yang sedang berlangsung.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor pada September 2023 sebesar USD20,76 miliar atau turun -5,63% secara bulanan (mtm), dibandingkan bulan sebelumnya pada Agustus 2023 yang sebesar USD22 miliar.

Meskipun neraca perdagangan RI mencatatkan surplus pada September 2023 sebesar USD3,42 miliar atau naik secara bulanan 0,30%, namun pertumbuhannya terus menyempit secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam mengevaluasi kinerja agregat selama delapan bulan pertama, surplus neraca perdagangan menurun dari USD39,80 miliar pada sembilan bulan pertama 2022 menjadi USD27,75 miliar sembilan bulan pertama 2023.

Selain itu, ekonom juga  memprediksi  Rapat Dewan Gubernur  Bank Indonesia (BI)  tanggal 18-19 kembali akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% bulan ini bahkan sampai akhir tahun. Namun, yang akan berbeda adalah penekanan BI untuk lebih menstabilkan nilai tukar Rupiah dan bagaimana bank sentral itu mengantisipasi dan memitigasi jika The Fed terus bersikap lebih hawkish di masa depan. 

Sedangkan dampak El Nino terhadap harga pangan global, dan risiko konflik Hamas-Israel yang mendorong kenaikan harga minyak dunia di tengah keputusan OPEC+ memangkas produksi minyak, namun resiko ini cenderung terkendali.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa