7 Perbedaan Valentine’s Day dan White Day: Sejarah, Tradisi, hingga Fakta Uniknya

AKURAT.CO Perbedaan Valentine’s Day dan White Day sering bikin penasaran, terutama karena keduanya sama-sama identik dengan cokelat dan hadiah romantis. Valentine dirayakan setiap 14 Februari di berbagai negara, sementara White Day jatuh sebulan setelahnya, 14 Maret, dan lebih populer di Asia Timur. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan keduanya dari sisi sejarah, budaya, hingga dampak ekonominya?
Bukan cuma soal tanggal, perbedaan Valentine dan White Day menyentuh akar sejarah, sistem pemberian hadiah, hingga isu sosial yang berkembang di masyarakat modern. Berikut penjelasan lengkapnya.
Asal-Usul Sejarah: Tradisi Kuno vs Strategi Marketing Modern
Valentine’s Day dan Jejak Santo Valentinus
Valentine’s Day berakar dari peringatan terhadap Santo Valentinus, seorang martir Kristen abad ke-3 pada masa Kekaisaran Romawi. Dalam kisah yang paling populer, ia dihukum mati karena menikahkan pasangan secara diam-diam ketika kaisar melarang prajurit untuk menikah.
Tanggal 14 Februari kemudian diperingati sebagai hari mengenang pengorbanannya. Seiring waktu, tradisi ini berkembang di Inggris dan Prancis pada abad pertengahan. Kepercayaan bahwa pertengahan Februari adalah musim kawin burung ikut menguatkan asosiasi romantis pada tanggal tersebut.
Penyair seperti Geoffrey Chaucer turut memperkuat citra romantis Valentine lewat karya sastra. Memasuki abad ke-19, kartu ucapan mulai diproduksi massal, diikuti industri cokelat dan bunga. Dari sinilah Valentine bertransformasi dari tradisi religius menjadi fenomena budaya global.
White Day: Lahir dari Industri Permen Jepang
Berbeda jauh dari Valentine, White Day tidak berasal dari legenda atau tradisi keagamaan. White Day pertama kali muncul di Jepang pada akhir 1970-an.
Awalnya, toko manisan Ishimura Manseido mempromosikan “Marshmallow Day” pada 1977. Setahun kemudian, Asosiasi Industri Permen Jepang memformalkannya menjadi White Day pada 14 Maret.
Tujuannya sederhana: memberi kesempatan kepada pria untuk membalas hadiah yang mereka terima saat Valentine. Dari sinilah White Day berkembang sebagai momen “balasan” dalam sistem perayaan cinta di Jepang dan kemudian menyebar ke Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok.
Perbedaan Konsep: Ekspresi Bebas vs Balasan Terstruktur
Jika Valentine identik dengan ungkapan cinta yang fleksibel, White Day cenderung lebih terstruktur.
Pada Valentine di banyak negara, siapa pun bisa memberi hadiah kepada siapa pun. Tidak ada aturan baku soal gender. Hadiahnya pun beragam, mulai dari bunga, kartu, cokelat, hingga makan malam romantis.
Sementara di Jepang dan beberapa negara Asia Timur, Valentine justru lebih sering diasosiasikan dengan perempuan yang memberi hadiah kepada pria. Ada beberapa istilah populer:
-
Honmei-choco: cokelat untuk pasangan atau orang yang benar-benar disukai.
-
Giri-choco: cokelat “kewajiban” untuk rekan kerja atau atasan.
-
Tomo-choco: cokelat untuk teman.
-
Jibun-choco: cokelat untuk diri sendiri.
Sebulan kemudian, pada White Day, pria diharapkan membalas hadiah tersebut. Bahkan ada konsep “sanbai gaeshi” atau balasan tiga kali lipat, yang berarti nilai hadiah pada White Day idealnya lebih tinggi dari yang diterima saat Valentine.
Inilah salah satu perbedaan Valentine dan White Day yang paling mencolok: Valentine cenderung sukarela dan dua arah, sedangkan White Day berbasis sistem timbal balik.
Cakupan Perayaan: Global vs Regional
Valentine’s Day telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Negara-negara di Eropa, Amerika, Asia Tenggara, hingga sebagian Timur Tengah mengenalnya sebagai hari kasih sayang.
Di Indonesia sendiri, Valentine sering dirayakan dalam berbagai bentuk, baik untuk pasangan, sahabat, maupun keluarga.
White Day, sebaliknya, lebih terbatas secara geografis. Jepang menjadi pusat perayaannya, diikuti Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok. Di luar kawasan tersebut, White Day relatif kurang dikenal dan sering dianggap bagian dari Valentine biasa.
Hal ini menegaskan bahwa Valentine adalah budaya global, sedangkan White Day merupakan adaptasi regional yang lahir dari konteks sosial dan ekonomi Jepang.
Dampak Ekonomi: Industri Cinta yang Menguntungkan
Valentine’s Day memiliki dampak ekonomi yang sangat besar. Industri bunga, cokelat, restoran, perhiasan, hingga hotel menikmati lonjakan penjualan setiap Februari.
White Day pun tidak kalah strategis. Dengan hadir sebulan setelah Valentine, perayaan ini memperpanjang “musim belanja cinta” hingga Maret. Produk yang paling laris biasanya cokelat putih, marshmallow, permen premium, hingga aksesori dan parfum.
Secara tidak langsung, White Day menciptakan siklus konsumsi dua bulan berturut-turut. Inilah alasan mengapa banyak pihak menilai White Day sebagai bentuk inovasi pemasaran yang sangat efektif.
Kontroversi dan Isu Sosial
Meski identik dengan romantisme, kedua perayaan ini juga menuai kritik.
Di Jepang, tradisi giri-choco sering dianggap sebagai tekanan sosial bagi perempuan, terutama di lingkungan kerja. Memberi cokelat bukan lagi soal perasaan, tetapi kewajiban. Hal ini memicu perdebatan tentang peran gender dan beban finansial yang tidak kecil.
Generasi muda kini mulai mengurangi praktik tersebut. Banyak yang memilih jibun-choco atau sekadar merayakan tanpa tekanan balas-membalas.
Valentine sendiri juga kerap dikritik karena terlalu komersial dan menciptakan tekanan sosial bagi mereka yang belum memiliki pasangan. Namun dibanding White Day, Valentine dinilai lebih fleksibel karena tidak terikat aturan timbal balik tertentu.
Ringkasan Perbedaan Valentine dan White Day
Secara garis besar, perbedaan keduanya bisa dilihat dari beberapa aspek utama:
-
Sejarah: Valentine berakar dari tradisi Kristen dan berkembang selama berabad-abad, sedangkan White Day lahir dari strategi industri permen Jepang pada 1978.
-
Sistem pemberian hadiah: Valentine bersifat bebas dan dua arah; White Day adalah momen balasan dari pria kepada wanita.
-
Cakupan wilayah: Valentine dirayakan secara global, White Day lebih populer di Asia Timur.
-
Orientasi budaya: Valentine menekankan ekspresi cinta, White Day menonjolkan konsep timbal balik.
Mana yang Lebih Relevan Saat Ini?
Tren terbaru menunjukkan pergeseran makna di kedua perayaan. Hadiah tidak lagi terbatas pada cokelat atau bunga, tetapi juga pengalaman seperti makan malam, perjalanan singkat, hingga hadiah digital.
White Day pun mulai lebih fleksibel dan tidak selalu berbasis gender. Sementara itu, Valentine tetap menjadi simbol global tentang cinta dalam berbagai bentuk.
Pada akhirnya, baik Valentine’s Day maupun White Day adalah refleksi bagaimana budaya dan industri membentuk cara manusia mengekspresikan kasih sayang.
Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang sejarah perayaan unik lainnya dan tren budaya populer terbaru, pantau terus update artikel di AKURAT.CO.
Baca Juga: 22 Rekomendasi Tempat Dinner Romantis di Jakarta untuk Rayakan Valentine 2026
Baca Juga: Sejarah Hari Valentine: Dari Ritual Romawi, Legenda Santo, hingga Jadi Perayaan Cinta Global
FAQ
1. Apa perbedaan utama Valentine’s Day dan White Day?
Perbedaan Valentine’s Day dan White Day terletak pada sejarah dan konsep pemberian hadiahnya. Valentine’s Day berakar dari tradisi Barat yang memperingati Santo Valentinus dan dirayakan secara global setiap 14 Februari. Sementara White Day lahir di Jepang pada 1978 sebagai hari balasan hadiah yang jatuh pada 14 Maret.
2. Kenapa White Day dirayakan satu bulan setelah Valentine?
White Day sengaja ditempatkan pada 14 Maret agar menjadi momen bagi pria untuk membalas hadiah yang diterima saat Valentine. Konsep ini awalnya dikembangkan oleh industri permen Jepang untuk memperpanjang musim penjualan setelah 14 Februari.
3. Apakah Valentine’s Day hanya dirayakan oleh pasangan?
Tidak. Di banyak negara, Valentine tidak hanya untuk pasangan romantis. Perayaan ini juga menjadi momen untuk menunjukkan kasih sayang kepada sahabat, keluarga, bahkan diri sendiri.
4. Apa itu honmei-choco dan giri-choco?
Dalam tradisi Jepang saat Valentine:
-
Honmei-choco adalah cokelat yang diberikan kepada orang yang benar-benar disukai atau pasangan.
-
Giri-choco adalah cokelat yang diberikan sebagai bentuk kewajiban sosial, misalnya kepada rekan kerja atau atasan.
Ada juga istilah tomo-choco (untuk teman) dan jibun-choco (untuk diri sendiri).
5. Benarkah ada aturan balasan tiga kali lipat di White Day?
Ya, dalam budaya Jepang dikenal konsep sanbai gaeshi, yaitu balasan hadiah pada White Day sebaiknya bernilai sekitar tiga kali lipat dari hadiah yang diterima saat Valentine. Namun, praktik ini kini mulai lebih fleksibel.
6. Negara mana saja yang merayakan White Day?
White Day paling populer di Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Tiongkok. Di luar Asia Timur, perayaan ini relatif kurang dikenal dan tidak sepopuler Valentine.
7. Mengapa White Day sering dikritik?
White Day kerap dikritik karena dianggap menciptakan tekanan sosial berbasis gender. Tradisi seperti giri-choco membuat sebagian perempuan merasa wajib memberi hadiah, sementara pria diharapkan membalasnya sebulan kemudian.
8. Apakah Valentine’s Day juga menuai kontroversi?
Ya. Valentine sering dianggap terlalu komersial karena mendorong konsumsi besar-besaran untuk bunga, cokelat, dan hadiah. Namun dibanding White Day, Valentine dinilai lebih fleksibel karena tidak terikat sistem balasan tertentu.
9. Mana yang lebih populer secara global?
Valentine’s Day jauh lebih populer secara global dan dirayakan di berbagai benua. White Day lebih bersifat regional dan kuat di kawasan Asia Timur.
10. Apakah tren Valentine dan White Day berubah di era modern?
Ya. Kini hadiah tidak lagi terbatas pada cokelat atau bunga. Banyak orang memilih pengalaman seperti makan malam, liburan singkat, hingga hadiah digital. Selain itu, peran gender dalam kedua perayaan ini juga semakin cair dan tidak seketat dulu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








