Makna Kebahagiaan Menurut Pandangan Protestan

AKURAT.CO Kebahagiaan kerap dipahami sebagai perasaan senang, keberhasilan hidup, atau kondisi tanpa beban persoalan.
Namun, dalam pandangan iman Protestan, kebahagiaan memiliki makna yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kepuasan duniawi.
Ajaran Protestan menekankan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari iman kepada Tuhan, bukan dari hal-hal duniawi yang bersifat sementara.
Kekayaan, jabatan, dan kesenangan hidup tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana yang tidak menjamin kedamaian batin.
Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Protestan memaknai kebahagiaan? Berikut penjelasannya.
Arti dan Makna Kebahagiaan dalam Perspektif Protestan
Dalam Alkitab, kebahagiaan kerap diterjemahkan dari kata makarios (Yunani) atau ’asrê (Ibrani), yang maknanya lebih dekat pada kondisi “diberkati” atau “hidup dalam perkenanan Allah”.
Yesus sendiri menyebut orang yang miskin di hadapan Allah, lemah lembut, dan haus akan kebenaran sebagai “berbahagia”, karena mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan akan menerima janji-Nya.
Pemikiran ini juga diperdalam oleh Agustinus, salah satu tokoh penting yang banyak memengaruhi teologi Kristen, termasuk tradisi Protestan.
Menurut Agustinus, kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan ketika manusia mengenal, mengasihi, dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Ia menegaskan bahwa harta, jabatan, dan kenikmatan duniawi bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan yang berasal dari Tuhan bersifat kekal dan membawa kedamaian sejati bagi jiwa.
Dengan demikian, kebahagiaan bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan anugerah Allah bagi mereka yang beriman.
Baca Juga: Pejabat OJK dan BEI Mundur di Tengah Gejolak Pasar, Hasto: Ini Teladan Kepemimpinan
Iman sebagai Dasar Kebahagiaan Sejati
Agustinus menjelaskan kebahagiaan sejati dalam kaitannya dengan iman kepada Tuhan melalui beberapa pemikiran utama berikut.
1. Iman sebagai sumber kebahagiaan sejati
Menurut Agustinus, setiap manusia secara kodrati mendambakan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kekayaan, jabatan, atau kenikmatan dunia yang bersifat sementara.
Iman menjadi dasar kebahagiaan sejati karena melalui iman manusia dapat mengenal dan mengalami kasih Tuhan. Hanya dalam relasi yang benar dengan Tuhan, manusia menemukan kedamaian batin dan makna hidup yang sesungguhnya.
2. Iman membawa manusia pada kebahagiaan rohani
Agustinus memandang kebahagiaan sebagai kondisi spiritual ketika jiwa manusia bersatu dengan Tuhan.
Ia menyatakan bahwa “jiwa yang sempurna tidak memiliki kebutuhan apa pun,” sebab telah dipenuhi oleh kebenaran dan hikmat yang berasal dari Allah.
Dalam iman, manusia memperoleh kebahagiaan yang bersifat rohani, bukan jasmani, karena kebahagiaan sejati berarti menikmati kehadiran Tuhan sepenuhnya.
3. Iman melampaui kebahagiaan duniawi
Agustinus menolak anggapan bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam harta atau kenikmatan dunia.
Ia pernah menceritakan pengalamannya bertemu seorang pengemis di Milan yang tampak bahagia meskipun hidup dalam kekurangan, sementara dirinya sendiri—yang sukses secara duniawi—justru diliputi kegelisahan.
Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh keadaan lahiriah, melainkan oleh hati yang percaya dan berserah kepada Tuhan.
4. Iman mengarahkan manusia pada kehidupan kekal
Dalam karya-karyanya seperti Confessions dan The City of God, Agustinus menegaskan bahwa kebahagiaan sejati berkaitan erat dengan kehidupan kekal bersama Tuhan.
Ia menyatakan bahwa hati manusia akan selalu gelisah sampai menemukan ketenangan di dalam Tuhan.
Kebahagiaan sejati tidak berhenti pada kehidupan dunia, melainkan mencapai kesempurnaannya dalam persekutuan abadi dengan Sang Pencipta, tempat tidak ada lagi penderitaan dan ketidaksempurnaan.
Baca Juga: Restaurant Kelapa Gading London Catat Pertumbuhan Positif, Siap Tingkatkan Kapasitas Dine-In
Kesimpulan
Dalam pandangan Protestan, kebahagiaan bukanlah kesenangan sementara, melainkan kedamaian batin yang lahir dari iman dan hubungan yang benar dengan Tuhan.
Kebahagiaan sejati tercapai ketika manusia hidup sesuai dengan kehendak-Nya, mengalami kasih-Nya, dan menemukan arti serta tujuan hidup yang sesungguhnya—baik di dunia ini maupun dalam kehidupan kekal.
Laporan: Lilis Anggraeni/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini







