Akurat

Mager? Relaps? Enggak Masalah! Begini Cara Balik Lagi ke Jalur Konsistensi

Eko Krisyanto | 7 Oktober 2025, 14:47 WIB
Mager? Relaps? Enggak Masalah! Begini Cara Balik Lagi ke Jalur Konsistensi

AKURAT.CO Setiap awal tahun, semangat membuat resolusi selalu membara. Mulai dari rutin olahraga, menabung, belajar hal baru, hingga tidur lebih teratur. Tapi, seiring waktu berjalan, niat baik itu perlahan memudar.

Aktivitas padat, rasa malas, dan distraksi kecil sering kali jadi alasan. Akhirnya, banyak orang kembali ke kebiasaan lama dan merasa gagal total. Padahal, kehilangan konsistensi bukan akhir dari perjalanan. Justru itu bagian dari proses membangun rutinitas yang benar-benar bertahan lama.

Baca Juga: Prabowo Serukan Aksi Nyata untuk Palestina: Cukup Resolusi, Saatnya Bertindak

Relaps Itu Normal, Asal Mau Mulai Lagi

Tidak ada manusia yang bisa selalu berada di puncak motivasi. Bahkan atlet dan profesional sukses pun mengalami fase jenuh. Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka menanggapi masa “jatuh” itu.

Ketika kebiasaan baik mulai tergelincir, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menerima kenyataan bahwa kita sedang lelah. 

Memberi jeda bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari menata ulang energi. Setelah itu, kembalilah dengan langkah kecil  sekecil apa pun itu.

Bayangkan, membangun kebiasaan seperti menanam pohon. Kadang tumbuh cepat, kadang lambat, kadang bahkan perlu disiram ulang dari awal. Yang penting, jangan berhenti menyiramnya.

Mulai Lagi dari yang Paling Ringan

Konsistensi bukan soal berapa lama kamu bisa bertahan, tapi seberapa cepat kamu bisa kembali.

Jika kamu ingin kembali berolahraga setelah libur panjang, cukup mulai dari 5 menit peregangan. Kalau ingin menulis lagi, cukup buka laptop dan tulis satu paragraf pendek. Prinsipnya sederhana, mulai kecil, tapi mulai lagi. Karena otak manusia lebih mudah menerima perubahan bertahap daripada loncatan besar yang mendadak.

Bangun Pengingat dan Ritual Kecil

Salah satu rahasia agar kebiasaan baru bertahan adalah cues, atau sinyal kecil yang memberi tanda ke otak untuk mulai bertindak. Misalnya, membuat playlist khusus “mode fokus,” menyiapkan tempat kerja yang rapi, atau sekadar membuat sticky note di meja.

Kebiasaan bukan sekadar soal niat, tapi juga lingkungan yang mendukung.

Kamu juga bisa menciptakan “ritual pembuka” sebelum melakukan kebiasaan baik. Seperti menyeduh kopi sebelum belajar, atau menyalakan lilin aroma terapi sebelum menulis. Hal-hal kecil seperti ini bisa membentuk asosiasi positif yang membuat rutinitas terasa lebih ringan.

Rayakan Kemajuan Kecil

Konsistensi tidak bisa dibangun dari paksaan, tapi bisa ditumbuhkan lewat apresiasi. Berikan penghargaan kecil untuk diri sendiri setiap kali kamu berhasil melangkah sekecil apa pun.

Menonton film favorit setelah seminggu disiplin, makan makanan kesukaan setelah berhasil olahraga rutin, atau sekadar menulis “good job today” di jurnal harianmu. Perayaan kecil ini membantu otak membangun asosiasi positif, membuat kebiasaan terasa lebih menyenangkan dan bukan beban.

Baca Juga: Doa saat Mager Melakukan Pekerjaan, Insya Allah Semangat Lagi!

Gagal Hari Ini, Bukan Berarti Gagal Selamanya

Konsistensi itu seperti perjalanan panjang. Kadang cepat, kadang lambat, dan tidak selalu mulus.

Yang penting adalah kamu tidak berhenti di tengah jalan hanya karena sempat tersandung. Hari ini boleh saja kamu merasa lelah, kehilangan arah, atau kembali ke kebiasaan lama. Tapi besok? Kamu selalu punya kesempatan baru untuk mulai lagi.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R