Akurat

Tips Hidup Bahagia dari 7 Filsuf, Mulai Aristoteles hingga Budha

Sultan Tanjung | 5 Januari 2024, 19:55 WIB
Tips Hidup Bahagia dari 7 Filsuf, Mulai Aristoteles hingga Budha

AKURAT.CO Filsuf telah memberikan berbagai pandangan tentang bagaimana mencapai kebahagiaan dalam hidup.

Pendekatan mereka bervariasi, tetapi banyak dari mereka setuju bahwa kebahagiaan seringkali terkait dengan pemahaman diri, hubungan antarmanusia, dan pencarian makna hidup.

Berikut adalah beberapa pandangan dari beberapa filsuf terkenal:

Baca Juga: Prabowo Subianto Bahagia Terima Penghargaan Sahabat Santri Indonesia, Ini Kata Kiai

  1. Epikuros: Filsuf Yunani kuno ini berpendapat bahwa kebahagiaan dapat dicapai melalui pencarian kenikmatan yang bermakna, bukan sekadar kenikmatan fisik sementara. Menurutnya, menghindari rasa sakit dan menikmati kenikmatan yang sederhana adalah kunci kebahagiaan.

  2. Aristoteles: Aristoteles mengajukan gagasan tentang "eudaimonia," yang sering diterjemahkan sebagai "kebahagiaan yang sejati" atau "kesejahteraan". Baginya, kebahagiaan terkait erat dengan praktik kebajikan dan hidup sesuai dengan nilai-nilai etika.

  3. Immanuel Kant: Kant menekankan pentingnya moralitas dan integritas pribadi dalam mencapai kebahagiaan. Baginya, orang yang hidup sesuai dengan tugas moralnya akan mengalami kebahagiaan yang sejati.

  4. Albert Camus: Camus, seorang filsuf eksistensialis, mengajukan ide "revolusi absurditas" dan menyarankan bahwa manusia dapat mencapai kebahagiaan dengan mengakui keabsurdan hidup dan tetap mencari makna dalam keberanian untuk terus hidup.

  5. Buddha: Meskipun lebih sebagai guru spiritual daripada filsuf, Buddha mengajarkan tentang kebahagiaan melalui Pencerahan dan jalan delapanfoldnya. Ini mencakup konsep pemahaman benar, pemikiran benar, niat benar, dan kebijaksanaan lainnya.

  6. Jean-Jacques Rousseau: Rousseau percaya bahwa kebahagiaan alami manusia dapat ditemukan dalam keadaan alami dan hidup sesuai dengan hukum alam.

  7. Friedrich Nietzsche: Nietzsche mengajukan gagasan "kehendak untuk kekuasaan" dan menekankan pentingnya menciptakan makna dalam hidup melalui pencarian tujuan dan nilai-nilai pribadi.

Penting untuk diingat bahwa definisi kebahagiaan dapat bervariasi dari satu filsuf ke filsuf lainnya, dan setiap individu mungkin menemukan makna hidup dan kebahagiaannya sendiri sesuai dengan kepercayaan dan nilai-nilai pribadinya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.