Akurat

Apa Itu Denial? Mekanisme Psikologis yang Membuat Seseorang Menolak Kenyataan

Idham Nur Indrajaya | 22 Februari 2026, 04:20 WIB
Apa Itu Denial? Mekanisme Psikologis yang Membuat Seseorang Menolak Kenyataan

AKURAT.CO Pernah melihat seseorang yang jelas-jelas punya masalah, tapi bersikeras mengatakan semuanya baik-baik saja? Atau mungkin Anda sendiri pernah merasa situasi buruk “tidak mungkin terjadi”? Kondisi seperti ini sering disebut denial, sebuah reaksi psikologis yang sebenarnya jauh lebih umum daripada yang kita kira.

Banyak orang menganggap denial sebagai kebohongan atau keras kepala. Padahal dalam psikologi, denial adalah mekanisme mental yang bekerja tanpa disadari untuk melindungi diri dari kenyataan yang terasa terlalu menyakitkan atau mengancam.

Memahami apa itu denial penting karena mekanisme ini bisa membantu seseorang bertahan dalam situasi sulit — tetapi juga bisa menjadi penghambat jika berlangsung terlalu lama.


Jawaban Cepat: Apa Itu Denial?

Denial adalah mekanisme pertahanan psikologis ketika seseorang menolak mengakui kenyataan, fakta, atau emosi yang terasa terlalu berat untuk diterima.

Denial biasanya terjadi secara tidak sadar dan bertujuan melindungi individu dari stres atau kecemasan berlebihan.

Denial bisa terlihat dalam berbagai bentuk seperti:

  • Menolak fakta yang jelas

  • Menganggap masalah tidak serius

  • Menyalahkan keadaan atau orang lain

  • Menghindari pembicaraan tentang masalah

  • Berpura-pura semuanya baik-baik saja

Dalam jangka pendek, denial bisa membantu seseorang tetap stabil secara emosional. Namun jika berlangsung lama, mekanisme ini bisa merusak hubungan dan menghambat perkembangan diri.


Mengapa Denial Terjadi dalam Psikologi?

Dalam teori psikologi klasik, denial dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri yang melindungi pikiran dari tekanan emosional.

Ketika kenyataan terasa terlalu berat, otak secara otomatis mencoba "menyaring" informasi yang menyakitkan agar tidak langsung dirasakan sepenuhnya.

Denial biasanya muncul saat seseorang menghadapi:

  • Diagnosis penyakit serius

  • Kegagalan besar

  • Kehilangan orang terdekat

  • Konflik hubungan

  • Masalah keuangan

  • Trauma emosional

Secara psikologis, denial memberi waktu bagi seseorang untuk menyesuaikan diri sebelum benar-benar menerima kenyataan.

Itulah sebabnya denial tidak selalu buruk.


Bentuk-Bentuk Denial yang Sering Terjadi

Denial tidak selalu terlihat sebagai penolakan terang-terangan. Banyak orang mengalami denial dalam bentuk yang lebih halus.

Beberapa bentuk mekanisme denial yang umum antara lain:

1. Penyangkalan langsung

Seseorang benar-benar menolak fakta yang jelas.

Contoh:
Orang yang sudah mendapat diagnosis penyakit tetapi berkata dirinya sehat-sehat saja.

2. Minimisasi masalah

Seseorang mengakui masalah tetapi menganggapnya tidak penting.

Contoh:

  • "Cuma stres biasa kok."

  • "Nggak separah itu."

3. Rasionalisasi

Seseorang mencari alasan agar tetap merasa nyaman.

Contoh:

  • "Saya gagal karena situasinya memang tidak adil."

  • "Semua orang juga melakukan hal yang sama."

4. Menghindari kenyataan

Seseorang menghindari topik atau situasi tertentu.

Contoh:

  • Tidak mau memeriksa kesehatan

  • Menghindari diskusi serius

  • Terus menyibukkan diri agar tidak berpikir


Kapan Denial Masih Normal dan Kapan Berbahaya?

Denial sebenarnya adalah reaksi yang normal, terutama dalam situasi mengejutkan.

Dalam jangka pendek, denial bisa membantu:

  • Mengurangi stres mendadak

  • Menstabilkan emosi

  • Memberi waktu untuk berpikir

  • Menjaga rasa percaya diri

Namun denial menjadi masalah jika berlangsung terlalu lama.

Denial berbahaya ketika:

  • Mengganggu aktivitas sehari-hari

  • Membuat seseorang menolak bantuan

  • Menghambat penyelesaian masalah

  • Merusak hubungan

  • Menghalangi pengobatan medis

Orang dewasa yang terlalu sering menggunakan denial biasanya kesulitan menghadapi emosi yang tidak nyaman.


Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Denial

Denial sering sulit dikenali karena terjadi tanpa disadari.

Beberapa ciri yang sering muncul:

  • Selalu mengatakan "tidak ada masalah"

  • Sulit menerima kritik

  • Menyalahkan orang lain

  • Menghindari pembicaraan serius

  • Reaksi emosional tidak sesuai situasi

  • Terlihat tenang padahal masalah besar terjadi

Denial juga bisa terlihat dari perilaku yang tidak konsisten dengan kenyataan.

Misalnya seseorang yang kehilangan pekerjaan tetapi tetap hidup seolah semuanya normal tanpa mencari solusi.


Denial Bukan Kebohongan, Tapi Alarm Psikologis

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap denial sebagai sikap tidak jujur.

Padahal denial justru menunjukkan bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan emosional yang cukup besar.

Denial bisa dianggap sebagai mode darurat psikologis. Otak mencoba menunda rasa sakit agar seseorang tidak langsung kewalahan.

Masalahnya, banyak orang terjebak terlalu lama di fase ini.

Semakin lama denial berlangsung, semakin sulit seseorang menerima kenyataan.

Dan di era media sosial, denial sering terlihat sebagai "toxic positivity" — sikap memaksakan pikiran positif meski kenyataan sebenarnya buruk.

Baca Juga: Apa Itu NPD? Kenali Narcissistic Personality Disorder dan Dampaknya pada Kehidupan

Baca Juga: Ciri-Ciri Bipolar yang Sering Terabaikan: Apakah Kamu Mengalaminya?


Contoh Denial dalam Kehidupan Sehari-hari

Seorang karyawan merasa pekerjaannya tidak stabil karena perusahaan sedang bermasalah.

Namun ia berkata:

"Perusahaan pasti baik-baik saja. Saya tidak perlu cari kerja lain."

Beberapa bulan kemudian perusahaan tutup dan ia kehilangan pekerjaan tanpa persiapan.

Ini contoh denial yang terlihat kecil tetapi berdampak besar.

Contoh lain:

  • Mahasiswa yang terus menunda skripsi tetapi yakin bisa selesai cepat

  • Orang yang memiliki utang besar tetapi menganggapnya normal

  • Pasangan yang melihat hubungan bermasalah tetapi tetap mengatakan semuanya baik

Denial sering terlihat biasa sampai konsekuensinya muncul.


Kenapa Memahami Denial Itu Penting?

Memahami denial membantu seseorang mengenali kondisi mentalnya sendiri.

Tanpa kesadaran ini, seseorang bisa:

  • Terjebak masalah lebih lama

  • Mengulang kesalahan yang sama

  • Kehilangan kesempatan memperbaiki hidup

  • Menolak bantuan yang sebenarnya dibutuhkan

Generasi muda terutama rentan mengalami denial karena tekanan sosial sering membuat orang ingin terlihat baik-baik saja.

Padahal menerima kenyataan justru langkah pertama menuju perubahan.


Penutup: Antara Bertahan dan Menghindar

Denial bukan tanda kelemahan, melainkan cara pikiran bertahan dari tekanan.

Namun ada garis tipis antara bertahan dan menghindar.

Pertanyaannya bukan apakah kita pernah mengalami denial — hampir semua orang pernah.

Pertanyaannya adalah: kapan kita siap melihat kenyataan apa adanya?

Kesadaran kecil seperti itu sering menjadi titik awal perubahan besar.

Baca Juga: Apa Itu Backburner? Tanda Kamu Hanya Jadi Pilihan Cadangan dalam Hubungan

Baca Juga: Apa Itu Avoidant? Berikut Penjelasan Lengkap Menurut Ilmu Psikologi

FAQ

Apa arti denial dalam psikologi?
Denial dalam psikologi adalah mekanisme pertahanan mental ketika seseorang secara tidak sadar menolak kenyataan yang terasa menyakitkan atau mengancam. Orang yang mengalami denial biasanya tidak merasa sedang berbohong, tetapi pikirannya mencoba melindungi diri dari stres atau kecemasan. Karena itu, denial sering muncul saat seseorang menghadapi kegagalan, konflik hubungan, atau masalah kesehatan.

Mengapa seseorang bisa mengalami denial?
Seseorang bisa mengalami denial karena kenyataan yang dihadapi terasa terlalu berat secara emosional. Otak menggunakan mekanisme penyangkalan sebagai cara untuk mengurangi tekanan mental sementara waktu. Denial biasanya muncul saat seseorang belum siap menerima perubahan besar seperti kehilangan pekerjaan, putus hubungan, atau masalah keuangan.

Apa perbedaan denial dan berbohong?
Perbedaan denial dan berbohong terletak pada kesadaran pelakunya. Berbohong dilakukan secara sadar untuk menyembunyikan fakta dari orang lain, sedangkan denial terjadi tanpa disadari karena seseorang benar-benar merasa kenyataan tersebut tidak terjadi atau tidak serius. Dalam denial, individu sebenarnya sedang melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit emosional.

Apa saja tanda-tanda orang mengalami denial?
Tanda denial pada seseorang biasanya terlihat dari kebiasaan menolak fakta, mengecilkan masalah, atau menghindari pembicaraan serius. Orang yang denial juga sering menyalahkan keadaan atau orang lain ketika menghadapi kesulitan. Selain itu, mereka bisa terlihat tenang atau tidak peduli meskipun sedang menghadapi masalah besar.

Apakah denial selalu berdampak buruk?
Denial tidak selalu berdampak buruk karena dalam jangka pendek bisa membantu seseorang menenangkan emosi dan menyesuaikan diri dengan situasi sulit. Namun jika denial berlangsung lama, mekanisme ini bisa menghambat penyelesaian masalah dan membuat kondisi semakin buruk. Denial yang berlebihan juga dapat merusak hubungan dan menghalangi seseorang mencari bantuan.

Bagaimana cara mengenali denial pada diri sendiri?
Cara mengenali denial pada diri sendiri bisa dimulai dengan refleksi terhadap reaksi saat menghadapi masalah. Jika Anda sering mengatakan tidak ada masalah padahal situasi jelas sulit, atau selalu mencari alasan untuk menghindari kenyataan, itu bisa menjadi tanda denial. Kesadaran terhadap pola pikir sendiri adalah langkah awal untuk mengurangi penyangkalan dan mulai menghadapi realitas secara lebih sehat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.