Akurat

Apa Itu Hazing? Inilah Pengertian, Contoh Praktik, dan Bahayanya

Idham Nur Indrajaya | 22 Februari 2026, 04:10 WIB
Apa Itu Hazing? Inilah Pengertian, Contoh Praktik, dan Bahayanya

AKURAT.CO Bayangkan kamu ingin bergabung dengan organisasi kampus atau tim olahraga. Alih-alih disambut hangat, kamu diminta melakukan hal memalukan, begadang berhari-hari, atau menjalani hukuman fisik yang melelahkan. Banyak orang menganggap ini “tradisi”, padahal praktik seperti ini termasuk hazing — dan risikonya bisa sangat serius.

Istilah apa itu hazing semakin sering dicari karena banyak kasus kekerasan dalam kegiatan orientasi, ekstrakurikuler, hingga komunitas tertutup. Tidak semua kegiatan pembinaan anggota baru termasuk hazing, tetapi batasnya sering kali tipis dan tidak disadari.


Apa Itu Hazing?

Hazing adalah praktik atau kegiatan yang dilakukan terhadap anggota baru suatu kelompok yang bersifat merendahkan, menyakitkan, atau membahayakan sebagai syarat keanggotaan.

Kegiatan hazing biasanya memiliki ciri-ciri:

  • Dilakukan saat proses penerimaan anggota baru

  • Mengandung unsur tekanan atau paksaan

  • Menimbulkan rasa malu atau sakit

  • Berisiko bagi kesehatan fisik atau mental

  • Disebut sebagai “tradisi” organisasi

Hazing dapat terjadi meskipun peserta terlihat setuju, karena sering kali ada tekanan sosial atau takut ditolak oleh kelompok.


Bentuk-Bentuk Hazing yang Sering Terjadi

Praktik hazing di organisasi atau kampus tidak selalu terlihat seperti kekerasan berat. Banyak yang tampak sepele tetapi sebenarnya berbahaya.

Beberapa contoh contoh hazing yang umum:

1. Hazing Fisik

Melibatkan aktivitas yang menguras tenaga atau menyakitkan, seperti:

  • Push-up atau lari berlebihan

  • Tidak boleh tidur berhari-hari

  • Dipukul atau dihukum fisik

  • Dipaksa minum alkohol atau zat tertentu

Sekitar 1 dari 5 kasus hazing menyebabkan cedera fisik yang memerlukan perawatan medis.

2. Hazing Psikologis

Jenis ini lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan luka fisik.

Contohnya:

  • Dihina atau dipermalukan di depan umum

  • Dipaksa melakukan hal memalukan

  • Dibentak atau diintimidasi

  • Dipanggil dengan nama merendahkan

Lebih dari 45% korban hazing mengalami kecemasan atau depresi setelah kejadian.

3. Hazing Sosial

Bertujuan mengendalikan kehidupan anggota baru.

Misalnya:

  • Wajib berjalan berkelompok ke kampus

  • Harus membawa barang tertentu

  • Tidak boleh bergaul dengan orang lain

  • Dipaksa mengikuti kegiatan larut malam

Jenis ini sering dianggap “normal”, padahal tetap termasuk kekerasan dalam organisasi.


Kenapa Hazing Masih Terjadi?

Meski banyak kasus berakhir buruk, tradisi hazing tetap bertahan di banyak tempat.

Beberapa penyebab utamanya:

Budaya Senioritas

Anggota lama merasa berhak menguji anggota baru karena mereka dulu mengalami hal yang sama.

Ilusi Solidaritas

Ada keyakinan bahwa penderitaan bersama akan memperkuat kebersamaan. Namun banyak penelitian menunjukkan efek ini tidak konsisten.

Tekanan Kelompok

Anggota baru sering takut menolak karena khawatir dianggap lemah atau tidak loyal.

Ironisnya, banyak organisasi yang mengaku menjunjung nilai kebersamaan justru mempertahankan praktik yang merusak kepercayaan.


Dampak Hazing bagi Korban dan Organisasi

Bahaya hazing tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga organisasi yang melakukannya.

Dampak bagi Korban

Risiko yang sering terjadi:

  • Cedera fisik serius

  • Trauma psikologis

  • Depresi dan kecemasan

  • Penurunan prestasi sekolah atau kuliah

  • Hilangnya rasa percaya diri

Dalam kasus ekstrem, hazing dapat menyebabkan keracunan alkohol bahkan kematian.

Dampak bagi Organisasi

Organisasi yang melakukan hazing dapat menghadapi:

  • Sanksi institusi

  • Pembubaran organisasi

  • Tuntutan hukum

  • Reputasi rusak

Banyak kasus menunjukkan satu insiden hazing bisa menghancurkan organisasi yang sudah berdiri puluhan tahun.


Hazing Tidak Hanya Terjadi di Kampus

Banyak orang mengira hazing hanya ada di orientasi mahasiswa. Kenyataannya jauh lebih luas.

Praktik hazing ditemukan di:

  • Organisasi mahasiswa

  • Tim olahraga

  • Sekolah berasrama

  • Militer

  • Tempat kerja

  • Komunitas tertutup

Ini menunjukkan bahwa hazing lebih berkaitan dengan pola kekuasaan dalam kelompok, bukan sekadar lingkungan pendidikan.


Tradisi atau Kekerasan yang Disamarkan?

Banyak pelaku hazing tidak menganggap diri mereka melakukan kekerasan. Mereka melihatnya sebagai proses pembentukan mental.

Masalahnya, batas antara pelatihan dan penyiksaan sering kali kabur.

Satu generasi anggota baru bisa menghentikan tradisi hazing, tetapi sering kali justru meneruskannya karena merasa “sudah pernah merasakan”.

Akibatnya, hazing berubah menjadi siklus yang terus berulang.

Baca Juga: Waspada! Bullying di Era Digital Picu Depresi hingga Ide Bunuh Diri pada Gen Z

Baca Juga: Universitas Terkemuka di Korea Selatan Mulai Tolak Calon Mahasiswa dengan Riwayat 'Tukang Bullying


Contoh Kasus Sederhana Hazing

Seorang mahasiswa baru bergabung dengan klub olahraga kampus.

Pada minggu pertama, ia diwajibkan:

  • Datang pukul 5 pagi setiap hari

  • Membawa tas berat sepanjang hari

  • Tidak boleh duduk di depan senior

  • Dihukum lari jika salah menjawab pertanyaan

Senior menyebutnya "latihan mental". Tetapi jika kegiatan tersebut menyebabkan kelelahan ekstrem atau rasa terhina, itu sudah termasuk praktik hazing mahasiswa.

Masalahnya, banyak korban baru sadar setelah mengalami dampaknya.


Kenapa Penting Memahami Hazing?

Memahami apa itu hazing penting terutama bagi pelajar, mahasiswa, dan anggota organisasi muda.

Alasannya:

  • Banyak orang tidak sadar sedang menjadi korban

  • Tradisi bisa menyamarkan kekerasan

  • Tekanan kelompok membuat orang sulit menolak

  • Dampaknya bisa bertahan lama

Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan karena sering berada dalam fase mencari identitas dan pengakuan sosial.


Penutup

Hazing sering bersembunyi di balik kata “tradisi” dan “kebersamaan”. Padahal yang disebut tradisi belum tentu layak dipertahankan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah hazing pernah terjadi, tetapi apakah kita berani menghentikannya ketika melihatnya.

Fenomena ini akan terus muncul selama dianggap normal. Pantau terus perkembangan isu ini untuk memahami bagaimana perubahan budaya organisasi bisa membentuk lingkungan yang lebih aman.

Baca Juga: Bullying Masih Marak di Sekolah, Ini Peran Guru dalam Mencegah dan Menanganinya

Baca Juga: Apa Penyebab Orang Senang Melakukan Bully

FAQ

Apa saja contoh kegiatan hazing yang sering terjadi?

Contoh kegiatan hazing yang sering terjadi meliputi hukuman fisik berlebihan seperti push-up atau lari jarak jauh, dipaksa begadang, membawa barang tertentu sepanjang hari, atau menjalankan tugas memalukan di depan umum. Selain itu, ada juga praktik hazing mahasiswa yang melibatkan intimidasi verbal, perintah aneh dari senior, hingga paksaan konsumsi alkohol atau makanan tertentu. Kegiatan seperti ini sering disebut tradisi organisasi, padahal termasuk bentuk hazing jika merendahkan atau membahayakan peserta.

Apakah hazing sama dengan perpeloncoan atau ospek keras?

Secara umum, hazing adalah bentuk perpeloncoan yang mengandung unsur penghinaan, tekanan, atau risiko bahaya fisik dan mental. Tidak semua ospek atau orientasi termasuk hazing, tetapi kegiatan dapat disebut hazing jika melibatkan paksaan, hukuman berlebihan, atau perlakuan merendahkan anggota baru. Perbedaan utamanya terletak pada tujuan pembinaan yang sehat dibanding praktik yang menyebabkan ketakutan atau penderitaan.

Mengapa tradisi hazing masih dilakukan sampai sekarang?

Tradisi hazing masih bertahan karena banyak anggota organisasi menganggapnya sebagai bagian dari proses menjadi anggota penuh. Budaya senioritas membuat anggota lama merasa berhak menguji anggota baru karena mereka pernah mengalami hal yang sama. Selain itu, tekanan kelompok membuat peserta jarang menolak sehingga praktik hazing terus berulang dari generasi ke generasi.

Apa dampak hazing terhadap kesehatan mental korban?

Dampak hazing terhadap kesehatan mental bisa sangat serius, mulai dari stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi. Korban sering mengalami rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, dan menarik diri dari lingkungan sosial setelah mengalami hazing. Dalam beberapa kasus berat, pengalaman hazing bahkan dapat menimbulkan trauma psikologis yang bertahan lama.

Bagaimana cara mengetahui tanda-tanda hazing sedang terjadi?

Tanda-tanda hazing biasanya terlihat dari perubahan perilaku anggota baru, seperti sering kelelahan, kurang tidur, atau tampak tertekan setelah mengikuti kegiatan organisasi. Selain itu, tanda lain bisa berupa kewajiban membawa barang tertentu, mengikuti kegiatan rahasia larut malam, atau tidak boleh menceritakan kegiatan kepada orang lain. Jika kegiatan tersebut menyebabkan rasa takut atau penderitaan, besar kemungkinan itu termasuk praktik hazing.

Apakah hazing termasuk tindakan ilegal?

Di banyak negara, hazing ilegal karena dianggap sebagai bentuk kekerasan atau penganiayaan dalam organisasi. Kegiatan yang menyebabkan cedera, penghinaan, atau paksaan bisa berujung sanksi hukum maupun pembubaran organisasi. Meskipun aturan berbeda di setiap wilayah, banyak institusi pendidikan kini memiliki kebijakan tegas untuk melarang segala bentuk hazing demi melindungi anggota baru.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.