Apa Itu Hazing? Inilah Pengertian, Contoh Praktik, dan Bahayanya

AKURAT.CO Bayangkan kamu ingin bergabung dengan organisasi kampus atau tim olahraga. Alih-alih disambut hangat, kamu diminta melakukan hal memalukan, begadang berhari-hari, atau menjalani hukuman fisik yang melelahkan. Banyak orang menganggap ini “tradisi”, padahal praktik seperti ini termasuk hazing — dan risikonya bisa sangat serius.
Istilah apa itu hazing semakin sering dicari karena banyak kasus kekerasan dalam kegiatan orientasi, ekstrakurikuler, hingga komunitas tertutup. Tidak semua kegiatan pembinaan anggota baru termasuk hazing, tetapi batasnya sering kali tipis dan tidak disadari.
Apa Itu Hazing?
Hazing adalah praktik atau kegiatan yang dilakukan terhadap anggota baru suatu kelompok yang bersifat merendahkan, menyakitkan, atau membahayakan sebagai syarat keanggotaan.
Kegiatan hazing biasanya memiliki ciri-ciri:
-
Dilakukan saat proses penerimaan anggota baru
-
Mengandung unsur tekanan atau paksaan
-
Menimbulkan rasa malu atau sakit
-
Berisiko bagi kesehatan fisik atau mental
-
Disebut sebagai “tradisi” organisasi
Hazing dapat terjadi meskipun peserta terlihat setuju, karena sering kali ada tekanan sosial atau takut ditolak oleh kelompok.
Bentuk-Bentuk Hazing yang Sering Terjadi
Praktik hazing di organisasi atau kampus tidak selalu terlihat seperti kekerasan berat. Banyak yang tampak sepele tetapi sebenarnya berbahaya.
Beberapa contoh contoh hazing yang umum:
1. Hazing Fisik
Melibatkan aktivitas yang menguras tenaga atau menyakitkan, seperti:
-
Push-up atau lari berlebihan
-
Tidak boleh tidur berhari-hari
-
Dipukul atau dihukum fisik
-
Dipaksa minum alkohol atau zat tertentu
Sekitar 1 dari 5 kasus hazing menyebabkan cedera fisik yang memerlukan perawatan medis.
2. Hazing Psikologis
Jenis ini lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan luka fisik.
Contohnya:
-
Dihina atau dipermalukan di depan umum
-
Dipaksa melakukan hal memalukan
-
Dibentak atau diintimidasi
-
Dipanggil dengan nama merendahkan
Lebih dari 45% korban hazing mengalami kecemasan atau depresi setelah kejadian.
3. Hazing Sosial
Bertujuan mengendalikan kehidupan anggota baru.
Misalnya:
-
Wajib berjalan berkelompok ke kampus
-
Harus membawa barang tertentu
-
Tidak boleh bergaul dengan orang lain
-
Dipaksa mengikuti kegiatan larut malam
Jenis ini sering dianggap “normal”, padahal tetap termasuk kekerasan dalam organisasi.
Kenapa Hazing Masih Terjadi?
Meski banyak kasus berakhir buruk, tradisi hazing tetap bertahan di banyak tempat.
Beberapa penyebab utamanya:
Budaya Senioritas
Anggota lama merasa berhak menguji anggota baru karena mereka dulu mengalami hal yang sama.
Ilusi Solidaritas
Ada keyakinan bahwa penderitaan bersama akan memperkuat kebersamaan. Namun banyak penelitian menunjukkan efek ini tidak konsisten.
Tekanan Kelompok
Anggota baru sering takut menolak karena khawatir dianggap lemah atau tidak loyal.
Ironisnya, banyak organisasi yang mengaku menjunjung nilai kebersamaan justru mempertahankan praktik yang merusak kepercayaan.
Dampak Hazing bagi Korban dan Organisasi
Bahaya hazing tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga organisasi yang melakukannya.
Dampak bagi Korban
Risiko yang sering terjadi:
-
Cedera fisik serius
-
Trauma psikologis
-
Depresi dan kecemasan
-
Penurunan prestasi sekolah atau kuliah
-
Hilangnya rasa percaya diri
Dalam kasus ekstrem, hazing dapat menyebabkan keracunan alkohol bahkan kematian.
Dampak bagi Organisasi
Organisasi yang melakukan hazing dapat menghadapi:
-
Sanksi institusi
-
Pembubaran organisasi
-
Tuntutan hukum
-
Reputasi rusak
Banyak kasus menunjukkan satu insiden hazing bisa menghancurkan organisasi yang sudah berdiri puluhan tahun.
Hazing Tidak Hanya Terjadi di Kampus
Banyak orang mengira hazing hanya ada di orientasi mahasiswa. Kenyataannya jauh lebih luas.
Praktik hazing ditemukan di:
-
Organisasi mahasiswa
-
Tim olahraga
-
Sekolah berasrama
-
Militer
-
Tempat kerja
-
Komunitas tertutup
Ini menunjukkan bahwa hazing lebih berkaitan dengan pola kekuasaan dalam kelompok, bukan sekadar lingkungan pendidikan.
Tradisi atau Kekerasan yang Disamarkan?
Banyak pelaku hazing tidak menganggap diri mereka melakukan kekerasan. Mereka melihatnya sebagai proses pembentukan mental.
Masalahnya, batas antara pelatihan dan penyiksaan sering kali kabur.
Satu generasi anggota baru bisa menghentikan tradisi hazing, tetapi sering kali justru meneruskannya karena merasa “sudah pernah merasakan”.
Akibatnya, hazing berubah menjadi siklus yang terus berulang.
Baca Juga: Waspada! Bullying di Era Digital Picu Depresi hingga Ide Bunuh Diri pada Gen Z
Baca Juga: Universitas Terkemuka di Korea Selatan Mulai Tolak Calon Mahasiswa dengan Riwayat 'Tukang Bullying
Contoh Kasus Sederhana Hazing
Seorang mahasiswa baru bergabung dengan klub olahraga kampus.
Pada minggu pertama, ia diwajibkan:
-
Datang pukul 5 pagi setiap hari
-
Membawa tas berat sepanjang hari
-
Tidak boleh duduk di depan senior
-
Dihukum lari jika salah menjawab pertanyaan
Senior menyebutnya "latihan mental". Tetapi jika kegiatan tersebut menyebabkan kelelahan ekstrem atau rasa terhina, itu sudah termasuk praktik hazing mahasiswa.
Masalahnya, banyak korban baru sadar setelah mengalami dampaknya.
Kenapa Penting Memahami Hazing?
Memahami apa itu hazing penting terutama bagi pelajar, mahasiswa, dan anggota organisasi muda.
Alasannya:
-
Banyak orang tidak sadar sedang menjadi korban
-
Tradisi bisa menyamarkan kekerasan
-
Tekanan kelompok membuat orang sulit menolak
-
Dampaknya bisa bertahan lama
Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan karena sering berada dalam fase mencari identitas dan pengakuan sosial.
Penutup
Hazing sering bersembunyi di balik kata “tradisi” dan “kebersamaan”. Padahal yang disebut tradisi belum tentu layak dipertahankan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah hazing pernah terjadi, tetapi apakah kita berani menghentikannya ketika melihatnya.
Fenomena ini akan terus muncul selama dianggap normal. Pantau terus perkembangan isu ini untuk memahami bagaimana perubahan budaya organisasi bisa membentuk lingkungan yang lebih aman.
Baca Juga: Bullying Masih Marak di Sekolah, Ini Peran Guru dalam Mencegah dan Menanganinya
Baca Juga: Apa Penyebab Orang Senang Melakukan Bully
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





