Akurat

Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual yang Wajib Kamu Ketahui: Penjelasan Berdasarkan Studi Ilmiah

Idham Nur Indrajaya | 18 Agustus 2025, 19:21 WIB
Bentuk-bentuk Pelecehan Seksual yang Wajib Kamu Ketahui: Penjelasan Berdasarkan Studi Ilmiah


AKURAT.CO Pelecehan seksual bukan cuma isu hukum atau moral, tapi juga persoalan kesehatan mental dan sosial yang masih sering diremehkan. Menurut WHO dan UN Women, pelecehan seksual adalah bentuk kekerasan berbasis gender yang dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau latar belakang. Sayangnya, banyak orang masih mengira pelecehan seksual hanya sebatas “sentuhan fisik”, padahal bentuknya jauh lebih beragam dan bisa terjadi di ruang publik, tempat kerja, sekolah, bahkan dunia maya.

Lalu, apa saja bentuk pelecehan seksual yang perlu kita ketahui berdasarkan riset ilmiah dan sumber otentik? Berikut penjelasan lengkapnya.


Apa Itu Pelecehan Seksual?

Secara sederhana, pelecehan seksual adalah perilaku bernuansa seksual yang tidak diinginkan dan menimbulkan rasa tidak nyaman, takut, atau terintimidasi bagi korbannya. Bentuknya bisa berupa ucapan, gestur, kontak fisik, hingga ancaman psikologis. Intinya, pelecehan seksual terjadi ketika tidak ada persetujuan (non-consensual).

WHO menegaskan bahwa pelecehan seksual berdampak besar terhadap korban, mulai dari trauma psikologis, penurunan kepercayaan diri, hingga masalah kesehatan fisik.


1. Pelecehan Seksual Verbal

Pernah mendengar istilah catcalling? Itu termasuk pelecehan seksual verbal. Bentuk ini melibatkan kata-kata atau komentar yang bernuansa seksual, baik secara langsung maupun terselubung.

Contohnya bisa berupa siulan di jalan, komentar tentang tubuh atau pakaian, lelucon bernada seksual, hingga pertanyaan pribadi yang menyinggung kehidupan intim seseorang. Walaupun sebagian orang menganggapnya “candaan”, nyatanya pelecehan verbal bisa meninggalkan luka psikologis yang dalam.


2. Pelecehan Seksual Non-Verbal

Kalau kamu pernah merasa risih karena ada orang yang menatap tubuhmu secara berlebihan atau menunjukkan gestur bernada seksual, itu termasuk pelecehan non-verbal. Bentuk ini tidak melibatkan kata-kata atau sentuhan, tapi tetap membuat korban merasa dilecehkan.

Contohnya meliputi tatapan nakal yang mengobjektifikasi tubuh, gerakan tangan yang melecehkan, hingga memperlihatkan gambar atau video porno tanpa izin. Menurut ILO, tindakan seperti ini sangat umum terjadi di ruang kerja maupun ruang publik.


3. Pelecehan Seksual Fisik

Inilah bentuk pelecehan yang paling mudah dikenali karena melibatkan sentuhan langsung. Mulai dari meraba, memeluk tanpa izin, mencium secara paksa, hingga menggesekkan tubuh di keramaian, semuanya termasuk kategori pelecehan fisik.

Jika dilakukan dengan unsur paksaan, bentuk ini bisa meningkat menjadi sexual assault atau serangan seksual. Riset dari NSVRC (National Sexual Violence Resource Center) menunjukkan pelecehan fisik sering terjadi di transportasi umum dan ruang kerja yang tidak memiliki regulasi ketat.


4. Pelecehan Seksual Berbasis Kuasa

Pelecehan seksual juga bisa terjadi ketika ada relasi kuasa yang timpang. Misalnya, atasan yang memberikan syarat “imbalan” seksual agar karyawan bisa naik jabatan, atau dosen yang memberi tekanan kepada mahasiswa untuk melayani kebutuhan pribadinya.

Dalam terminologi hukum internasional, hal ini dikenal sebagai quid pro quo harassment. Menurut EEOC (Equal Employment Opportunity Commission) di Amerika Serikat, pelecehan berbasis kuasa ini sangat berbahaya karena membuat korban sulit melawan akibat adanya ketergantungan posisi.


5. Pelecehan Seksual Digital

Seiring perkembangan teknologi, pelecehan seksual juga merambah dunia digital. Bentuknya bisa berupa pengiriman gambar atau video bernuansa seksual tanpa diminta, pelecehan lewat komentar di media sosial, hingga penyebaran foto atau video intim tanpa izin (revenge porn).

Menurut Pew Research Center, lebih dari 40% pengguna internet muda pernah mengalami pelecehan berbasis gender di platform online. Fenomena ini sering kali membuat korban merasa tidak aman bahkan di ruang digital yang seharusnya bebas berekspresi.


6. Pelecehan Seksual di Ruang Publik dan Kerja

Riset ILO menekankan pentingnya konteks. Di ruang publik, pelecehan sering muncul dalam bentuk catcalling, gesekan di transportasi umum, atau tatapan yang melecehkan. Sementara di dunia kerja, pelecehan bisa berupa diskriminasi gender, komentar merendahkan, atau bahkan ancaman karier.

Di sekolah dan kampus, kasusnya bisa berupa perundungan seksual yang menyasar siswa atau mahasiswa dengan dalih “candaan” dari teman sebaya. Padahal, semua ini meninggalkan dampak psikologis yang serius.


7. Pelecehan Seksual Terselubung

Bentuk terakhir yang jarang disadari adalah pelecehan terselubung. Biasanya muncul dalam interaksi sehari-hari yang dikemas sebagai “pujian” atau “guyonan”. Misalnya, komentar berlebihan tentang tubuh, panggilan bernuansa seksual, atau memaksakan kedekatan fisik seperti duduk terlalu dekat.

Karena sering dianggap normal, pelecehan jenis ini berbahaya karena bisa melanggengkan budaya patriarki yang meremehkan kenyamanan korban. American Sociological Review menyebutnya sebagai bentuk pelecehan yang “terinstitusionalisasi” karena sudah dianggap biasa dalam budaya tertentu.


Kenapa Penting untuk Mengenali Bentuk Pelecehan Seksual?

Mengenali bentuk pelecehan seksual adalah langkah awal untuk mencegah dan melawannya. Banyak korban tidak berani bersuara karena takut disalahkan atau tidak tahu bahwa yang mereka alami termasuk pelecehan.

Dengan pemahaman yang lebih baik, kita bisa:

  • Lebih cepat mengidentifikasi tindakan yang tidak pantas.

  • Mendukung korban untuk berani melapor.

  • Mendorong lingkungan yang lebih aman di ruang publik, kerja, sekolah, maupun dunia digital.


Kesimpulan

Pelecehan seksual bukan hanya tentang sentuhan fisik, tapi juga bisa berupa ucapan, tatapan, tekanan psikologis, hingga pelecehan digital. Berdasarkan riset dari WHO, UN Women, ILO, hingga Pew Research Center, setidaknya ada tujuh bentuk utama pelecehan seksual yang perlu diketahui semua orang: verbal, non-verbal, fisik, berbasis kuasa, digital, kontekstual, dan terselubung.

Makin cepat kita mengenali bentuk-bentuknya, makin besar pula peluang kita untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari pelecehan.

Baca Juga: 7 Kelebihan Perempuan di Dunia Kerja Menurut Riset, Bukan Sekadar Stereotip

Baca Juga: Perempuan Harus Jadi Pemain Utama di Ekosistem Keuangan Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.