Mengenal Candi Sungkuh, Dibangun Pada Abad Ke-15

AKURAT.CO Indonesia terkenal dengan banyaknya bangunan candi yang bersejarah. Terdapat candi yang dikenal luas seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Ada juga candi yang memang tidak populer yakni seperti Candi Sungkuh.
Candi Sungkuh merupakan bangunan candi bercorak Hindu peninggalan dari era menjelang akhir Kerajaan Majapahit. Lokasi candi ini berada di Lereng Gunung Lawu.
Secara administratif, letak Candi Sukuh di wilayah Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berada di wilayah dengan ketinggian 910 mdpl, Candi Sukuh berjarak sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Surakarta (Solo).
Dikutip dari beberapa sumber, Senin (4/9/2023), berikut penjelasan mengenai Candi Sungkuh
Sejarah Candi Sungkuh
Gunung Lawu termasuk kawasan yang disucikan oleh umat Hindu di pulau Jawa pada era Majapahit. Fakta ini tercatat dalam naskah Tantu Panggelaran, teks prosa Jawa kuno yang disusun sekitar tahun 1557 Caka (1635 M).
Candi Sukuh dibangun sekitar abad 15, beberapa dasawarsa sebelum Majapahit bubar. Pembangunan candi ini kemungkinan berlangsung semasa Ratu Suhita berkuasa.
Riboet Darmosoetopo dalam laporan riset terbitan PPPT UGM tahun 1976, "Peninggalan-peninggalan Kebudayaan di Lereng Barat Gunung Lawu," mencatat sejumlah angka yang mengindikasikan tahun pendirian Candi Sukuh.
Di gerbang utama Candi Sukuh, terdapat sengkalan (perlambangan angka tahun di teks Jawa kuno) "Gapuro Bhuto Aban Wong" atau "Gapuro Yakso Mongso Jalmo" yang artinya adalah tahun 1359 Saka (1437 M).
Sengkalan berbeda ditemukan di pintu selatan Candi Sukuh, yakni "Gapuro Bhuto Anahut Buntut," yang ditafsirkan sebagai tahun 1359 Saka (1432 M).
Dua angka tahun di atas merujuk kepada era kekuasaan Ratu Suhita, perempuan yang memimpin Kerajaan Majapahit selama periode 1429-1447 M. Namun, bukan sang ratu yang menginisiasi pendirian Candi Sukuh, melainkan kubu oposisi.
Penelitian pustaka yang dikerjakan oleh Achmad Syafi’i dan diterbitkan oleh ISI Surakarta (2019) menyimpulkan, Candi Sukuh kemungkinan didirikan keturunan bangsawan Kediri, Bhre Daha yang saat itu menjadi kubu penentang rezim Ratu Suhita.
Memasuki abad 15, banyak aristokrat Kediri kecewa dengan situasi Majapahit. Pengaruh Islam dan Kekaisaran Tiongkok kala itu menguat, sementara pemerintahan Ratu Suhita dinilai kelewat lunak dalam menyikapinya.
Konteks tersebut menjelaskan alasan di balik kesederhanaan arsitektur Candi Sukuh. Para peneliti menduga pemahat candi ini bukan empu istana, melainkan tukang pahat kayu di perdesaan. Kebutuhan akan tempat pemujaan yang mendesak diduga pula menyebabkan pendirian Candi Sukuh tampak dilakukan secara tergesa-gesa.
Di sisi yang lain, arsitektur Candi Sukuh memperlihatkan pengaruh tradisi Jawa dari masa pra-Hindu/Buddha (budaya Megalitik), sementara simbol-simbolnya mencerminkan ajaran Siwaisme yang berbeda dari masa sebelumnya.
Awal abad 14 ditengarai menjadi masa kebangkitan praktik Tantrik Siwaisme di Jawa yang berujung pada kultus Bima. Nah, bangunan Candi Sukuh mengekspresikan filosofi kultus Bima tersebut, dengan simbol-simbol alat kelamin ditampilkan secara vulgar.
Sejumlah relief di Candi Sukuh menyajikan fragmen Bima Suci yang dikisahkan memiliki kehendak kuat menggapai pencerahan dan kesempurnaan rohani. Fakta ini tersirat pula di penamaan "Sukuh" yang merupakan gabungan kata "su" (baik) dan "kukuh" (kuat).
Candi Sukuh ditemukan kembali pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson yang bertugas selama era pemerintahan Thomas Stamford Raffles. Candi ini ditemukan dalam kondisi rusak.
Relief Candi Sungkuh dan Maknanya
Kompleks Candi Sukuh menempati area seluas kurang lebih 5.500 meter persegi, terdiri dari 3 teras berundak. Di teras ketiga, terdapat monumen utama candi ini yang berbentuk trapesium.
Banyak relief menarik dan arca unik di Candi Sukuh. Beberapa arca di candi ini bahkan menampilkan alat kelamin secara vulgar. Meskipun demikian, arca dan relief di Candi Sukuh menyimpan makna filosofis terkait keyakinan para resi yang membangunnya.
Relief-relief Candi Sukuh menampilkan sejumlah fragmen yang menarik untuk dipahami. Dalam laporan penelitian bertajuk "Simbolisme Relief Candi Sukuh" karya Achmad Syafi’i yang diterbitkan ISI Surakarta (2019), dijelaskan ada 6 fragmen cerita di candi tersebut.
Berikut penjelasan singkat 6 fragmen di Candi Sungkuh
1. Relief Garudeya
Berada di depan bangunan utama Candi Sukuh, relief Garudeya memuat prasasti bahasa kawi yang disertai sengkalan berbunyi "padamel rikang buku tirta sunya," dengan maksud 1361 Saka (1439 M).
Fragmen relief Garudeya bersumber dari bagian pertama Kitab Mahabharata (Adiparwa). Fragmen ini menceritakan kisah Sang Winata dan Dewi Kadru (istri Bagawan Kasyapa), serta perjalanan Garuda mencari tirta amerta.
Relief ini mencakup pula arca Garuda dengan kepak sayap seolah terbang, sementara kedua kakinya mencengkeram seekor gajah dan kura-kura.
2. Relief Sudhamala
Relief Sudhamala bertempat di bagian selatan halaman teras ketiga Candi Sukuh. Cerita dalam relief ini dibuat berdasarkan Kidung Sudhamala. Relief tersebut menceritakan kisah ksatria Pandawa, yakni Sadhewa melenyapkan kutukan dalam diri Dewi Uma, istri dari Bathara Guru.
Alkisah, Dewi Uma dikutuk jadi raksasa bernama Bathari Durga dan terbuang ke hutan Setra Gandamayit. Kutukan itu berasal dari suaminya sendiri, Bathara Guru yang murka karena sang istri menolak melayaninya. Bathara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi Bathari Durga yang berkuasa di hutan Gandamayit selama 12 tahun.
Sosok yang bisa melenyapkan kutukan ini adalah anak bungsu Pandudewata, Sadhewa. Namun, bukan perkara mudah untuk meminta Sadewa mengubah kembali Dewi Uma menjadi bidadari cantik jelita.
3. Relief Bima Bungkus
Relief Bima Bungkus di Candi Sukuh mengisahkan fase kelahiran Bima. Salah satu ksatria Pandawa itu lahir dari rahim Dewi Kunti dalam kondisi terbungkus kulit ari luar biasa kuat, liat, dan tak bisa disobek.
Kondisi Bima itu membuat resah sang ayah, Pandu dan segenap keluarganya. Apalagi, semua alat dan senjata tidak dapat digunakan untuk menyobek kulit ari pembungkus bayi bima. Mendengar kabar itu, Bathara Guru lantas mengutus Dewi Uma, Bethara Narada, Bethara Bayu, dan Gajahsena untuk membantu menyobek kulit ari Bima.
4. Relief Nawaruci
Relief Nawaruci di Candi Sukuh memuat cerita yang bersumber dari Kitab Sang Hyang Tattwajnana (Kitab Nawaruci). Karya Empu Siwamurti itu ditulis antara tahun 1500 hingga 1619 M.
Fragmen di relief Nawaruci di Candi Sukuh mengisahkan upaya Bima pada saat menjalankan saran Durna untuk mencari tirta pawitra sari (air suci). Bima mencari air suci tersebut agar bisa menyatu kembali kepada asalnya (Moksa). Kisah di relief ini secara garis besar mengggambarkan perjalanan spiritual Bima untuk mencapai kesucian dan menyatu dengan sang pencipta.
5. Relief Samuderamanta
Relief Samuderamantana di Candi Sukuh mencakup arca kura-kura yang memuat cerita terkait pengadukan samudra susu untuk mencari air abadi atau tirta amerta.
6. Relief Pandai Besi
Relief ini menunjukkan adegan pandai besi tetapi belum bisa dipahami arti maupun kategori ceritanya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






