Maulid Nabi, Mengapa Harus Ada Perayaan Kelahiran Rasulullah SAW?

AKURAT.CO Umat Islam di Indonesia tentunya sudah tidak asing dengan Maulid Nabi, peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilakukan setiap tahunnya, yakni pada 12 Rabiul Awal tahun Hijriah.
Namun, tahukah kamu mengapa ada perayaan Maulid Nabi? Apa sebenarnya alasan di balik perayaan hari kelahiran Sang Baginda Muhammad SAW? Bukankah Islam melarang perayaan hari ulang tahun?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, simak ulasan berikut mengenai alasan di balik perayaan Maulid Nabi.
Baca Juga: Rekomendasi Film Sejarah Nabi Muhammad SAW, Cocok Ditonton Saat Maulid Nabi
Alasan pentingnya memperingati Maulid Nabi
Menurut Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitab Syarh Maulid ad-Diba’i, menyatakan setidaknya ada lima alasan mengapa perayaan Maulid Nabi itu menjadi penting, diantaranya yaitu:
-
Sebagai wujud rasa bahagia dan gembira
Merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu wujud dari rasa bahagia dan gembira atas kelahiran beliau. Melalui perasaan bahagia dan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad, tentu akan mendatangkan banyak berkah bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Bukan tanpa alasan, Abu Lahab, paman Rasulullah yang dikenal membenci dakwah Rasulullah saja diringankan siksanya di neraka setiap hari Senin.
Hal ini karena Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Rasulullah yang jatuh pada hari Senin. Bahkan saking gembiranya Abu Lahab, ia membebaskan budaknya yang bernama Tsuwaibah.
Baca Juga: Doa Khusus Saat Menghadiri Acara Maulid Nabi, Agar Dapat Berkah Dan Kemuliaan
-
Nabi Muhammad berpuasa di hari Senin sebagai bentuk syukur atas kelahirannya.
Jika Nabi Muhammad saja ‘merayakan’ hari kelahirannya dengan berpuasa di hari Senin sebagai bentuk rasa syukur, tentu kita sebagai umatnya harus merasa bersyukur pula dengan kelahiran Nabi Muhammad. Salah satu bentuk rasa syukur itu bisa dilakukan melalui Maulid Nabi.
-
Allah memerintahkan kita untuk berbahagia dengan rahmat dan pertolongan yang diberikan.
Rahmat terbesar yang Allah berikan kepada umat manusia yaitu lahirnya Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an telah menegaskan jika diutusnya Rasulullah adalah bentuk kasih sayang Allah bagi alam semesta.
-
Menambah rasa cinta pada Nabi Muhammad SAW
Perayaan Maulid Nabi biasanya diwarnai dengan tausiyah mengenai sejarah atau cerita kehidupan beliau. Mulai dari kelahiran, budi pekerti, ciri fisik, kemuliaan, serta mukjizat yang diberikan Allah pada Nabi.
Tentu tausiyah seputar kehidupan Nabi Muhammad akan menggugah dan menambah rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad. Selain itu, perayaan Maulid Nabi juga sebagai wadah untuk mengajak umat Islam membaca selawat pada Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Maulid Nabi, Lengkap Dan Praktis
-
Perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah (baik)
Perayaan Maulid Nabi dinilai sebagai bid’ah hasanah karena dilakukan dengan hal-hal baik pula di dalamnya seperti ceramah agama dan nasihat yang bermanfaat, serta suguhan makanan untuk para peserta Maulid.
Kemudian jika kaitannya dengan perayaan ulang tahun dalam Islam, sebenarnya Islam sendiri tidak melarang perayaan ulang tahun, seperti dilansir melalui laman website NU Online.
Hukum merayakan ulang tahun diperbolehkan, selama dilakukan dengan tujuan bersyukur dan sebagai momentum untuk mengintropeksi diri serta dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan syariat, yakni yang mengandung unsur maksiat.
Para ulama sendiri mengatakan Maulid Nabi sebagai bid’ah hasanah melalui nasihat Sahabat, Abdullah bin Mas’ud:
قال عبد الله بن مسعود ما رأى المسلمون حسنا فهو عند الله حسن و ما رآه المسلمون سيئا فهو عند الله سيىء
Artinya: Abdullah bin Mas’ud mengatakan, bahwa perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang baik maka perkara tersebut baik di sisi Allah, dan perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang buruk maka perkara tersebut buruk disisi Allah (HR Ahmad).
Di sisi yang lain, para ulama fiqih menetapkan kaidah,
للوسائل حكم المقاصد
Artinya: Setiap wasilah perbuatan dihukumi sesuai dengan tujuannya.
Perayaan Maulid Nabi memang memiliki pro dan kontra tersendiri. Ada masyarakat yang tidak setuju dengan perayaan Maulid Nabi karena dinilai bid’ah, tidak diajarkan oleh rasulullah. Namun biar perbedaan ini menjadi keragaman tersendiri di tengah umat Islam, untuk saling menghargai, tanpa menimbulkan perpecahan.[] (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










