Perbedaan Mandi Wajib Dengan Junub, Muslim Harus Tahu
| 10 September 2023, 10:00 WIB

AKURAT.CO Mandi junub dan mandi wajib adalah dua istilah yang sering digunakan dalam syariat Islam untuk membersihkan diri dari hadats besar. Meskipun sering dianggap sama, sebenarnya ada beberapa perbedaan di antara keduanya.
Mandi junub adalah mandi wajib yang dipicu oleh keadaan junub, sedangkan mandi wajib bisa timbul karena berbagai sebab, tidak hanya junub.
Dalam buku Al-Fiqh 'ala al-madzahib al-khamsah oleh Muhammad Jawab Mughniyah, dijelaskan bahwa mandi wajib dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti junub, haid, nifas, atau kematian seorang Muslim.
Perbedaan Mandi Junub dengan Mandi Wajib
Mandi junub adalah mandi yang dilakukan setelah seseorang mengalami hadats besar, seperti hubungan intim atau mimpi basah. Mandi junub adalah upaya untuk membersihkan diri dari hadats besar dan mengembalikan kebersihan ritual. Ini adalah mandi yang dilakukan karena situasi tertentu.
Sementara itu, mandi wajib adalah mandi yang diwajibkan dalam situasi-situasi tertentu, misalnya setelah menstruasi atau nifas. Mandi wajib adalah bagian dari kewajiban agama dan dilakukan sebagai bagian dari rutinitas ibadah.
Sementara itu, mandi wajib adalah mandi yang diwajibkan dalam situasi-situasi tertentu, misalnya setelah menstruasi atau nifas. Mandi wajib adalah bagian dari kewajiban agama dan dilakukan sebagai bagian dari rutinitas ibadah.
Ini adalah mandi yang menjadi bagian dari tindakan agama yang harus dilakukan oleh seorang Muslim dalam situasi tertentu.
Penyebab Mandi Junub
1. Ada ejakulasi mani
Adanya ejakulasi mani baik itu terjadi saat tidur atau dalam keadaan terjaga. Menurut pandangan Mazhab Syafi'i, jika ada ejakulasi mani, maka wajib mandi, entah itu terjadi karena gairah atau tanpa gairah.
2. Berhubungan seksual
Semua ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa mandi junub diperlukan setelah berhubungan seks, bahkan jika ejakulasi mani belum terjadi.
Penyebab Mandi Wajib
1. Berhubungan suami istri
Setelah berhubungan badan dengan pasangan, maka kedua suami istri tersebut diwajibkan untuk melakukan mandi junub. Walaupun dalam prosesnya tidak mengeluarkan mani sekalipun.
Sesuai dengan hadits Nabi yang berarti, "Apabila dua yang dikhitan bertemu, sesungguhnya telah diwajibkan mandi meskipun tidak keluar mani." (HR. Muslim)
2. Suci dari haid
Ketika haid, wanita dilarang untuk melakukan ibadah-ibadah termasuk salat dan puasa.
Darah nifas juga digolongkan sebagai hadas besar. Oleh karena itu, seorang ibu yang sudah selesai masa nifasnya diwajibkan bersuci dengan cara mandi besar.
4. Keluar air mani
Jika seorang pria mengeluarkan mani, baik disengaja maupun tidak disengaja, maka diwajibkan baginya untuk bersuci dari hadas besar tersebut dengan mandi wajib.
5. Meninggal dunia
Hukum untuk melakukan mandi wajib setelah meninggal adalah fardu kifayah.
Ketika haid, wanita dilarang untuk melakukan ibadah-ibadah termasuk salat dan puasa.
Setiap wanita yang sudah selesai haid, dirinya wajib untuk membersihkan dari hadas besar tersebut dengan mandi janabah dan kembali menjalankan kewajiban salat dan lainnya.
3. Setelah bersih dari nifas
3. Setelah bersih dari nifas
Darah nifas juga digolongkan sebagai hadas besar. Oleh karena itu, seorang ibu yang sudah selesai masa nifasnya diwajibkan bersuci dengan cara mandi besar.
4. Keluar air mani
Jika seorang pria mengeluarkan mani, baik disengaja maupun tidak disengaja, maka diwajibkan baginya untuk bersuci dari hadas besar tersebut dengan mandi wajib.
5. Meninggal dunia
Hukum untuk melakukan mandi wajib setelah meninggal adalah fardu kifayah.
Artinya, orang yang meninggal bukan mandi sendiri, namun orang yang masih hidup wajib memandikannya. Kecuali mayit meninggal dalam keadaan syahid.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor
Herry Supriyatna





