3 Macam Disiplin Dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Dalam kehidupan ini, manusia di tuntun untuk selalu bergerak, mengarahkan dirinya untuk selalu menjadi pribadi yang disiplin di setiap saat.
Minimal dalam dirinya itu ada perubahan-perubahan kecil di setiap harinya.
Dalam bahasa Yunani Kuno, manusia yang senantiasa memperbaiki dirinya untuk selalu mengarah ke arah kebaikan atau bahasa latinnya yaitu Prokopton. Sedangkan dalam perspektif Islam, hal itu disebut istiqomah.
3 macam disiplin dalam perspektif Islam
Ada beberapa hal yang harus dilatih oleh seorang Prokopton untuk membentuk kepribadian yang lebih baik lagi dalam kehidupannya, apa sajakah itu?
1. Disiplin keinginan
Bagaimana kita bisa mengendalikan keinginan kita supaya keinginan tersebut tidak menyiksa diri. Disiplin ini membentuk kita untuk bisa mengendalikan hawa nafsu yang bisa menjerumuskan kita untuk jatuh ke dalam jurang kehancuran. Kata rasullulah setelah menjalani perang Badar, beliau mengatakan bahwa perang terbesar umat islam adalah perang melawan hawa nafsu kita sendiri.
Oleh karena itu, supaya kita bisa mengendalikan nafsu, kita harus bisa mengenal diri kita sejauh mana batas kemampuan diri.
Jangan sampai batas kemampuan kita itu berbanding jauh dengan keinginan kita, apalagi kalau keinginan kita lebih tinggi dibanding kemampuan kita.
2. Disiplin Tindakan
Disiplin dalam bertingkah laku, baik itu berperilaku terhadap diri sendiri maupun berperilaku di hadapan orang lain.
Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa manusia merupakan makhluk sosial dan betapa sulit hidup kita tanpa bantuan orang lain. Artinya, kita dituntun untuk menjadi orang yang selalu peduli dan mampu mengenal diri kita, kemampuan kita apa, hobi kita apa, skil kita apa.
Setelah kita mengenal diri kita, maka perintah Rasulullah “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain” [HR. Ahmad dan Athabrani].
3. Disiplin sikap
Bagaimana kita bisa menyikapi setiap penilaian orang lain terhadap diri kita, bagaimana opini orang lain terhadap diri kita.
Jangan sampai penilaian buruk orang lain terhadap diri kita dan itu bukan sebuah kebenaran, tapi kita meresponnya seolah-olah itu benar.
Jadi kita harus bisa membentuk diri kita sebuah struktur untuk mengekspresikan perasaan.
Kali ini penulis mencoba berbagi kepada pembaca sejumlah tips dalam membentuk mental bijaksana:
- Perasaan, di sini kita harus bisa mengontrol perasaan kita, lebih-lebih perasaan emosi. Emosi jangan langsung kita ekspresikan, tapi kita harus mengirimnya terlebih dahulu ke pikiran.
- Pikiran, di sini perasaan kita akan diolah untuk mempertimbangkan kembali sebelum kita mengekspresikan perasaaan tersebut. Itulah kenapa kita itu dituntun untuk selalu menjaga pikiran kita dari hal-hal yang bisa merusak pikiran.
- Kesadaran, setelah mengolah perasaan kita melalui pikiran, maka itu akan menyadarkan kita bahwa “oh kalau kita meresponya dengan emosi, itu akan menimbulkan masalah baru.” Kita tersadarkan untuk tidak merespon sesuatu yang tidak harus kita respon.
Itulah sejumlah tips supaya kita bisa membentuk karakter dalam diri untuk menjadi pribadi yang bijak dalam merespon sebuah penilaian orang lain terhadap diri.
Kalau kita bisa melatih 3 hal tersebut dalam diri masing-masing, maka kita akan membentuk diri menjadi pribadi yang memiliki mental yang sehat, kuat dan lebih bijak lagi dalam menyikapi penilaian buruk terhadap diri kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





