Akurat

Hijrah: Makna, Sejarah, Perkembangan Modern, dan Kontroversinya

Naufal Lanten | 21 November 2025, 19:23 WIB
Hijrah: Makna, Sejarah, Perkembangan Modern, dan Kontroversinya

AKURAT.CO Apa yang dimaksud dengan hijrah? Hijrah adalah istilah yang terus muncul dalam berbagai percakapan publik—mulai dari diskusi sejarah Islam, tren religius di media sosial, hingga perdebatan budaya. Meski akarnya merujuk pada sebuah peristiwa besar dalam sejarah Nabi Muhammad, makna hijrah kini melebar hingga menyentuh perubahan gaya hidup dan identitas generasi modern. Artikel ini membahas hijrah secara lengkap: dari definisi, perjalanan historis, pergeseran makna, hingga fenomenanya di era digital.


Apa Itu Hijrah? Memahami Makna Dasar dan Sejarahnya

Dalam literatur bahasa Arab, hijrah (هجرة) berarti perpindahan atau migrasi. Pengertian ini menjadi sangat penting dalam sejarah Islam karena digunakan untuk menggambarkan perjalanan Nabi Muhammad bersama para pengikutnya dari Makkah menuju Yathrib (yang kemudian dikenal sebagai Madinah) pada tahun 622 M. Peristiwa inilah yang menjadi tonggak berdirinya komunitas Muslim yang lebih aman dan terorganisasi.

Catatan klasik seperti Sirat Rasul Allah karya Ibn Ishaq—yang kemudian disempurnakan oleh Ibn Hisham—merekam kisah lengkap hijrah: penindasan terhadap Muslim awal di Makkah, undangan masyarakat Yathrib kepada Nabi, perencanaan yang matang bersama Abu Bakr, hingga perubahan sosial-politik yang terjadi setelah kedatangan Nabi. Peristiwa besar ini kemudian dijadikan acuan kalender Islam (Hijri), sebagaimana ditetapkan khalifah Umar ibn al-Khattab beberapa dekade kemudian.


Mengapa Hijrah Menjadi Titik Balik dalam Sejarah Islam?

Hijrah bukan hanya perpindahan geografis. Peristiwa ini menandai perubahan besar dalam kehidupan umat Islam generasi awal. Di Madinah, Nabi Muhammad membangun sebuah komunitas sosial-politik yang terstruktur, lengkap dengan perjanjian antar-suku dan landasan hukum yang menjadi cikal-bakal tatanan masyarakat Muslim.

Dengan adanya komunitas yang lebih stabil, perkembangan ajaran Islam berlangsung lebih sistematis. Para sejarawan memandang hijrah sebagai pergeseran dari fase bertahan hidup menuju fase konsolidasi dan pembangunan institusi. Karena besarnya pengaruh peristiwa ini, kalender Hijri pun dimulai dari tahun hijrah tersebut—sebuah penanda betapa pentingnya momen ini dalam sejarah peradaban Islam.


Hijrah di Era Modern: Dari Migrasi Fisik ke Transformasi Hidup

Seiring waktu, makna hijrah berkembang melampaui konteks historis. Di banyak negara, termasuk Indonesia, istilah hijrah kini digunakan secara kiasan untuk menggambarkan perubahan hidup menuju arah yang dianggap lebih religius atau bermakna.

Fenomena ini banyak terlihat di kalangan anak muda dan kelas menengah urban. Mereka mengekspresikan hijrah melalui perubahan gaya hidup: memperbaiki ibadah, memperketat cara berpakaian, memilih lingkungan sosial baru, mengubah pola konsumsi, hingga meninggalkan kebiasaan yang dianggap kurang cocok dengan nilai agama.

Penelitian akademik beberapa tahun terakhir menggambarkan gerakan hijrah sebagai bagian dari pergeseran identitas Muslim modern—sebuah social movement yang tumbuh cepat berkat pengaruh media sosial, komunitas daring, dan figur publik religius.


Apa yang Mendorong Fenomena Hijrah Masa Kini?

Dari berbagai studi, terdapat beberapa alasan utama mengapa gerakan hijrah berkembang luas:

Pertama, pencarian makna hidup. Banyak orang mulai membangun kembali identitas spiritualnya di tengah tekanan sosial atau krisis personal. Hijrah dianggap memberi arah baru, ketenangan, dan pegangan moral.

Kedua, peran media sosial. Konten bertema hijrah—mulai dari testimoni, video “before-after”, kajian singkat, hingga komunitas daring—menjadi katalis utama penyebarannya. Platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram mempermudah penyebaran narasi religius yang relatable dan mudah diikuti.

Ketiga, kondisi sosial-politik. Ketidakpastian, keresahan sosial, atau minimnya ruang aspirasi sering membuat individu merasa lebih nyaman berada dalam komunitas religius yang solid. Beberapa penelitian menyebut bahwa gerakan hijrah juga berinteraksi dengan situasi politik dan muncul dalam berbagai variasi, mulai dari yang moderat hingga kelompok yang lebih ideologis.


Dampak Hijrah Terhadap Budaya, Ekonomi, dan Relasi Sosial

Lonjakan minat terhadap hijrah menciptakan perubahan besar dalam budaya populer dan pola konsumsi. Pasar “halal lifestyle” berkembang pesat: busana syar’i, buku-buku spiritual populer, produk halal, hingga wisata religi kini membentuk industri komersial tersendiri. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai komodifikasi agama—baik sebagai peluang ekonomi maupun persoalan etika.

Dalam ranah keluarga dan gender, hijrah terkadang memunculkan norma baru terkait peran laki-laki dan perempuan. Beberapa pengamat menilai ada dinamika yang menarik: sebagian melihat hijrah sebagai ruang untuk memperbaiki kualitas rumah tangga, namun sebagian lain mencatat adanya praktik yang kurang ramah kesetaraan gender.

Dilihat dari aspek politik identitas, gerakan hijrah tertentu dapat memengaruhi pilihan politik, pola solidaritas, atau pembentukan kelompok sosial yang cenderung homogen. Namun dampaknya sangat bergantung pada aktor dan konteks lokal.


Kontroversi Seputar Hijrah: Antara Transformasi Positif dan Potensi Risiko

Seperti banyak gerakan sosial lainnya, hijrah membawa dua sisi yang sering diperdebatkan.

Di satu sisi, hijrah memberi ruang bagi banyak orang untuk memperbaiki diri. Banyak testimoni menyebut perubahan hidup setelah hijrah membuat mereka lebih stabil secara mental, lebih terarah, dan merasa memiliki komunitas yang suportif. Studi sosiologis pun menemukan bahwa hijrah dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan moral.

Namun, di sisi lain, ada beberapa kritik yang ikut mengemuka. Komodifikasi agama dianggap menjadikan hijrah sebatas tren penampilan. Ada pula kekhawatiran bahwa sebagian kecil kelompok hijrah mengadopsi cara pandang yang terlalu eksklusif, kaku, atau mudah terpapar narasi ekstrem. Beberapa laporan penelitian mencatat bahwa media sosial bisa menjadi pintu masuk bagi tafsir yang tidak moderat jika tidak diimbangi dengan literasi yang baik.

Aspek lain yang sering dibahas adalah isu gender. Sebagian praktik dalam komunitas hijrah dipandang mengekang ruang perempuan atau memperkuat stereotip tertentu. Diskusi ini terus bergulir seiring makin luasnya fenomena hijrah di ruang publik.


Tren Hijrah di Era Digital dan Prediksi ke Depan

Analisis terbaru dari berbagai lembaga riset mengungkap bahwa gerakan hijrah terus berkembang dan bertransformasi. Aktivitas hijrah semakin digital, semakin personal, dan semakin terhubung dengan gaya hidup urban.

Ke depan, media sosial kemungkinan tetap menjadi pusat pergerakan, dengan semakin banyak konten edukatif, tutorial, dan kisah inspiratif yang membahas perjalanan hijrah. Di sisi lain, organisasi Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah juga diperkirakan makin aktif memberikan narasi alternatif yang lebih seimbang, terutama dalam bidang literasi digital dan moderasi beragama.

Gerakan hijrah juga akan terus berada di persimpangan antara peluang dan tantangan: potensi memperkuat jaringan sosial, pasar halal, dan ruang spiritual, sekaligus risiko fragmentasi jika berkembang menjadi identitas politik yang eksklusif.


Kesimpulan: Hijrah sebagai Konsep yang Terus Berevolusi

Pada dasarnya, hijrah adalah konsep yang berlapis-lapis: ia berawal dari peristiwa sejarah yang menjadi fondasi peradaban Islam, kemudian berkembang menjadi simbol perubahan diri, pencarian makna, hingga fenomena sosial modern. Dari motivasi spiritual hingga dinamika media sosial, hijrah kini mencakup spektrum yang sangat luas.

Makna hijrah terus berubah mengikuti konteks zamannya. Karena itu, memahami hijrah tidak cukup hanya dari sisi historis atau religius semata—perlu melihat bagaimana konsep ini hidup dalam budaya, ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari masyarakat modern.

Kalau kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru soal fenomena sosial dan budaya seperti ini, pantau terus update selengkapnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: Apa yang Menyebabkan Nabi Muhammad SAW Hijrah ke Madinah? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Sejarah dan Buku PAI Kelas 4

Baca Juga: Maknai Ulang Hijrah untuk Wujudkan Masyarakat Madani dan Berbudi Pekerti Luhur

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan hijrah?

Hijrah secara bahasa berarti perpindahan atau migrasi. Dalam Islam, istilah ini merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M. Kini, maknanya berkembang menjadi perubahan diri menuju kehidupan yang lebih religius atau bermakna.

2. Mengapa hijrah dianggap sebagai peristiwa penting dalam sejarah Islam?

Hijrah menjadi titik balik karena menandai pembentukan komunitas Muslim yang lebih aman, terorganisasi, dan memiliki struktur sosial-politik yang jelas. Peristiwa ini juga menjadi dasar penanggalan kalender Hijri.

3. Apakah hijrah hanya soal perpindahan fisik?

Tidak. Di era modern, hijrah lebih sering digunakan untuk menggambarkan transformasi pribadi—misalnya memperbaiki perilaku, gaya hidup, ibadah, atau lingkungan sosial.

4. Apa yang mendorong banyak orang berhijrah saat ini?

Motivasinya beragam, mulai dari pencarian makna hidup, pengaruh media sosial, kebutuhan komunitas, hingga kondisi sosial-politik yang membuat individu mencari ruang identitas baru.

5. Bagaimana peran media sosial dalam fenomena hijrah modern?

Media sosial mempercepat penyebaran narasi hijrah melalui konten “before-after”, ceramah singkat, testimoni, dan komunitas online. Platform digital menjadi katalis besar perkembangan gerakan ini.

6. Apa dampak hijrah terhadap gaya hidup dan budaya populer?

Fenomena hijrah melahirkan industri halal lifestyle seperti busana syar’i, produk halal, buku spiritual, dan wisata religi. Perubahan ini juga memengaruhi gaya konsumsi dan preferensi budaya kelompok urban.

7. Apakah hijrah berkaitan dengan isu gender?

Beberapa pengamat menyatakan bahwa sebagian praktik hijrah berdampak pada perubahan peran gender, misalnya terkait norma berpakaian atau peran domestik. Perdebatan mengenai kesetaraan gender dalam konteks hijrah masih berlangsung.

8. Benarkah gerakan hijrah bisa mengarah pada ekstremisme?

Sebagian kecil kelompok dengan tafsir yang sangat kaku dapat bergerak ke arah eksklusivisme atau intoleransi, terutama jika mendapat pengaruh dari konten digital tanpa literasi yang memadai. Namun fenomena ini tidak mewakili keseluruhan gerakan hijrah.

9. Mengapa hijrah sering dikaitkan dengan komodifikasi agama?

Karena banyak aspek hijrah yang kemudian masuk ke ranah komersial, seperti fashion religi, konten berbayar, dan produk halal. Sebagian pihak menilai hal ini positif sebagai peluang ekonomi, sementara lainnya mengkritik karena dianggap terlalu berorientasi penampilan.

10. Bagaimana masa depan fenomena hijrah?

Trennya diperkirakan tetap kuat, terutama di ruang digital. Influencer, komunitas daring, dan lembaga keagamaan moderat akan terus berperan dalam membentuk arah gerakan hijrah di masa mendatang.


 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.