Kerap Tertukar, Berikut Beda Jin Dan Setan Dalam Al-Quran

AKURAT.CO Makhluk gaib ciptaan Allah SWT yang bertugas mengganggu manusia kerap disebut dengan jin atau setan. Meski kerap disamakan, faktanya kedua kata tersebut memiliki makna tersendiri yang membedakannya antara satu sama lain. Berikut penjelasannya dalam ayat Al-Quran:
1. Jin (جن)
Kata Jin berasal dari janna (جن) yang berasal dari kosakata Bahasa Arab yang berarti tersembunyi atau tertutup. Jin merupakan makhluk gaib yang diciptakan dari api, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Ar-Rahman ayat 15:
وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
Wa khalaqal-jānna mim mārijim min nār
Artinya: "Dan Dia menciptakan jin dari nyala api." (QS Ar-Rahman: 15).
Baca Juga: Jin Khanzab, Suka Ganggu Sholat Manusia Dan Cara Menghindarinya
Selain itu, jin juga diciptakan Allah SWT dengan sejumlah sifat menyerupai manusia, dimana jin memiliki akal, mampu membedakan yang baik dan buruk, memiliki pengetahuan, bahkan dapat bersifat kafir dan muslim selayaknya manusia.
Allah SWT pun menciptakan jin dengan perintah yang sama, yakni menyembah Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya'budụn
Artinya: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS Adz-Dzariyat: 56).
Meski terkesan sama, penciptaan manusia dan jin sebagai makhluk Allah SWT terletak pada materi penciptaannya, dimana jin dibuat dari api dan manusia dari tanah, serta wujud jin yang dapat berubah-ubah dan tak kasat mata.
2. Setan (شيطان)
Setan berasal kosa kata Bahasa Arab, yakni syathana (شَطَنَ), yang bermakna jauh. Dalam Islam, setan dimaknai sebagai sesuatu yang jauh dari rahmat Allah SWT ataupun kebenaran dan kebaikan. Setan juga digunakan untuk menyebut makhluk yang jahat, membangkang, tidak taat, dan lain sebagainya.
Berdasarkan pengertian tersebut, setan lebih tertuju sebagai sifat dan perilaku. Maka dari itu, pemaknaannya dapat dijatuhkan kepada seluruh makhluk, baik jin, manusia, hingga hewan. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-An'am ayat 112:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
Wa każālika ja'alnā likulli nabiyyin 'aduwwan syayāṭīnal-insi wal-jinni yụḥī ba'ḍuhum ilā ba'ḍin zukhrufal-qauli gurụrā, walau syā`a rabbuka mā fa'alụhu fa żar-hum wa mā yaftarụn
Artinya: ”Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)”. (QS. Al-An'am: 112).
Baca Juga: 7 Tanda Salat Diganggu Setan, Salah Satunya Lupa Rakaat
Begitu pula dijelaskan dalam sebuah hadis musnad Imam Ahmad:
“Dari Abu Dzar RA, ia mengatakan: “Rasulullah SAW bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِالله مِنْ شَيَاطِيْنِ الإِنْسِ وَالجِنِّ ، فَقُلْتُ : أَوْ لِلْإِنْسَانِ شَيَاطِنُ ؟ قَالَ : نَعَمْ
(artinya): “Wahai Abu Dzar berlindunglah kepada Allah dari setan-setan manusia dan jin”. Aku bertanya: “Apakah syaitan ada yang berasal dari golongan manusia?” Beliau menjawab: “Ya.” (HR. Ahmad: 5/178).
Penjelasan setan yang berasal dari hewan juga dijelaskan dalam sebuah hadis:
“Dari Abu Dzar RA, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda:
يَقْطَعُ الصَّلَاةَ المَرْأَةُ وَالحِمَارُ وَالكَلْبُ الأَسْوَدُ ، قُلْتُ : يَا رَسُوْلُ الله، مَا بَالُ الكَلْبِ الأَسْوَدِ مِنَ الأَحْمَرِ وَالأَصْفَرِ؟ فَقَالَ : الكَلْبُ الأَسْوَدُ شَيْطَانٌ
(artinya): “Yang dapat memutus sholat adalah wanita, keledai, dan anjing hitam,”. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apa bedanya anjing hitam dengan anjing merah (cokelat) dan anjing kuning?” Rasulullah SAW bersabda: “Anjing hitam adalah setan.” (HR. Muslim: 265).
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa jin merupakan makhluk gaib yang terbuat dari api dan tak kasat mata, sedangkan setan lebih tertuju pada sifat durhaka dan membangkang. Maka dari itu, jin dapat menjadi setan bila ia membangkang kepada Allah SWT. (Yasmina Nuha)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









