Akurat Logo

Pembiayaan Baru Adira Finance Tumbuh 13 Persen, Tembus Rp35,1 Triliun

Idham Nur Indrajaya | 31 Oktober 2026, 06:24 WIB
Pembiayaan Baru Adira Finance Tumbuh 13 Persen, Tembus Rp35,1 Triliun
Pembiayaan baru Adira Finance tumbuh 13% menjadi Rp35,1 triliun hingga September 2026. Simak kinerja dan strategi bisnisnya. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk atau Adira Finance mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru sebesar 13% secara tahunan atau year-on-year (YoY) hingga September 2026. Nilai pembiayaan yang disalurkan perusahaan mencapai Rp35,1 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini, didukung oleh peningkatan bisnis di segmen otomotif maupun nonotomotif.

Pertumbuhan tersebut berlangsung ketika industri otomotif nasional masih menunjukkan perkembangan positif. Penjualan ritel sepeda motor dan mobil baru sama-sama mengalami peningkatan, meskipun daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah, masih menghadapi tekanan ekonomi.

Kinerja Adira Finance juga terlihat dari piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan. Hingga akhir September 2026, nilainya mencapai Rp65,8 triliun atau tumbuh 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pembiayaan Baru Adira Finance Tembus Rp35,1 Triliun hingga September 2026

Pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 13% menunjukkan aktivitas penyaluran pembiayaan Adira Finance masih berkembang di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Perusahaan mencatatkan nilai penyaluran Rp35,1 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Peningkatan tersebut ditopang oleh perkembangan bisnis di berbagai segmen, baik pembiayaan otomotif maupun nonotomotif. Dengan demikian, aktivitas usaha perusahaan tidak hanya bertumpu pada pembiayaan kendaraan, tetapi juga mencakup kebutuhan pembiayaan masyarakat di luar sektor tersebut.

Diversifikasi segmen menjadi salah satu aspek penting dalam bisnis perusahaan multifinance. Permintaan pembiayaan dapat berasal dari berbagai kebutuhan konsumen, mulai dari kepemilikan kendaraan hingga kebutuhan konsumtif dan produktif lainnya.

Di tengah perubahan kondisi ekonomi, perusahaan pembiayaan perlu menyesuaikan penyaluran kredit dengan kebutuhan pasar sekaligus mempertimbangkan kemampuan bayar konsumen. Pertumbuhan pembiayaan yang tinggi perlu diimbangi pengelolaan risiko agar ekspansi bisnis tidak mengorbankan kualitas aset.

Adira Finance juga didukung jaringan usaha yang mencapai 847 kantor cabang dan kantor satelit di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut menjadi bagian dari infrastruktur perusahaan untuk menjangkau konsumen dan mendukung kegiatan operasional.

Baca Juga: Cicilan Lunas Jadi Hadiah, Ini Cara Pelanggan Adira Finance Ikut HARCILNAS 2026

Baca Juga: HARCILNAS 2026 Adira Finance Masih Dibuka hingga Desember, Ini Syarat untuk Ikut

Penjualan Motor dan Mobil Ikut Tumbuh, Bagaimana Kaitannya dengan Pembiayaan?

Perkembangan industri otomotif menjadi salah satu konteks penting untuk membaca pertumbuhan pembiayaan Adira Finance. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penjualan ritel sepeda motor baru di Indonesia meningkat 10% secara tahunan menjadi 5,1 juta unit.

Sementara itu, penjualan ritel mobil baru tumbuh lebih tinggi, yakni 16% YoY menjadi 676.000 unit. Peningkatan tersebut memperlihatkan pasar kendaraan bermotor masih memiliki aktivitas permintaan di tengah berbagai tekanan ekonomi.

Pertumbuhan penjualan kendaraan berkaitan dengan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pembiayaan. Tidak semua konsumen membeli kendaraan menggunakan dana tunai. Sebagian memanfaatkan pembiayaan dari perusahaan multifinance untuk memperoleh kendaraan dengan pembayaran secara angsuran.

Dalam konteks tersebut, peningkatan penjualan kendaraan dapat menjadi peluang bagi perusahaan pembiayaan untuk memperluas penyaluran kredit otomotif. Namun, pertumbuhan pembiayaan Adira Finance tidak dapat hanya dikaitkan dengan pasar kendaraan karena perusahaan juga mencatat perkembangan pada segmen nonotomotif.

Diversifikasi tersebut penting untuk menjaga sumber pertumbuhan bisnis. Ketika permintaan kendaraan mengalami perlambatan, segmen pembiayaan lain berpotensi menjadi alternatif untuk mempertahankan aktivitas penyaluran pembiayaan.

Meski demikian, perusahaan tetap perlu memperhatikan kondisi daya beli masyarakat. Tekanan terhadap pendapatan rumah tangga dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk mengambil pembiayaan baru, terutama untuk kebutuhan yang bersifat tidak mendesak.

Piutang Pembiayaan Adira Finance Naik 7% Menjadi Rp65,8 Triliun

Selain mencatatkan pertumbuhan pembiayaan baru, Adira Finance membukukan piutang pembiayaan yang dikelola sebesar Rp65,8 triliun pada akhir September 2026. Angka tersebut meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pembiayaan baru dan piutang pembiayaan merupakan dua indikator berbeda dalam membaca kinerja perusahaan multifinance.

Pembiayaan baru menggambarkan nilai penyaluran pembiayaan selama periode tertentu. Dalam hal ini, Rp35,1 triliun merupakan total pembiayaan baru yang disalurkan Adira Finance sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Sementara itu, piutang pembiayaan yang dikelola menggambarkan portofolio pembiayaan yang masih tercatat dan dikelola perusahaan pada suatu titik waktu. Nilainya dipengaruhi oleh penyaluran pembiayaan baru, pembayaran angsuran konsumen, pelunasan, serta faktor lain yang memengaruhi saldo piutang.

Karena itu, pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 13% tidak harus diikuti peningkatan piutang dengan persentase yang sama. Keduanya memiliki dasar pengukuran dan periode pencatatan yang berbeda.

Kombinasi pertumbuhan pembiayaan baru dan piutang yang dikelola menunjukkan perkembangan aktivitas bisnis perusahaan. Namun, besarnya portofolio pembiayaan juga perlu dilihat bersama kualitas aset agar pertumbuhan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan.

NPF Adira Finance Turun Menjadi 1,8%, Bagaimana Kualitas Pembiayaannya?

Di tengah peningkatan penyaluran pembiayaan, Adira Finance juga mencatatkan perbaikan kualitas pembiayaan. Rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) gross konsolidasian berada di level 1,8% pada September 2026.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,1%.

Penurunan rasio NPF menjadi salah satu indikator positif karena menunjukkan porsi pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan mengalami perbaikan. Meski demikian, rasio tersebut tidak serta-merta membuktikan nominal pembiayaan bermasalah ikut turun. Untuk memastikan hal itu, diperlukan data nominal pembiayaan bermasalah pada masing-masing periode.

Kualitas pembiayaan menjadi perhatian penting bagi perusahaan multifinance karena bisnisnya berkaitan langsung dengan kemampuan konsumen memenuhi kewajiban pembayaran angsuran.

Ketika perusahaan memperluas penyaluran pembiayaan, potensi risiko kredit juga perlu dikelola secara cermat. Seleksi konsumen, penilaian kemampuan membayar, pemantauan portofolio, dan proses penagihan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas aset.

Adira Finance menyatakan akan terus menjaga kualitas pembiayaan melalui penerapan prinsip kehati-hatian dalam proses penyaluran, penguatan pemantauan portofolio, serta aktivitas penagihan.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan risiko pembiayaan bermasalah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.