Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Pantau AS-Iran dan The Fed

Esha Tri Wahyuni | 1 Oktober 2026, 07:30 WIB
Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Pantau AS-Iran dan The Fed
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran, arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta pergerakan dolar AS di pasar global.

Pengamat mta uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih menghadapi sejumlah sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakannya. Salah satunya berasal dari perkembangan hubungan AS dan Iran yang saat ini masih dalam tahap negosiasi melalui mediasi Qatar.

"Rupiah masih akan bergerak fluktuatif karena pasar mencermati perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta arah kebijakan The Fed," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga: BI Luruskan Isu Intervensi Spot Rupiah Dipangkas Jadi 30 Persen

Iran sebelumnya mengajukan proposal periode pembangunan kepercayaan selama tujuh hari yang disebut dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim apabila sejumlah persyaratan terpenuhi.

Proposal tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pemerintah AS melalui mediator Qatar. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi dijadwalkan membahas tanggapan tersebut di Teheran.

Perbedaan antara kedua pihak saat ini disebut terutama berkaitan dengan urutan pelaksanaan sejumlah langkah dalam proposal tersebut. Rencana itu mencakup langkah konkret terkait program nuklir Iran serta upaya membawa kedua negara kembali pada kesepahaman yang sebelumnya telah dibahas.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Setiap eskalasi ketegangan berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dan mendorong volatilitas harga komoditas.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga?

Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian.

Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams mengatakan, The Fed tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Menurutnya, stabilitas harga merupakan fondasi bagi perekonomian dan tekanan inflasi diperkirakan dapat mereda setelah dampak sejumlah guncangan ekonomi berlalu.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem menilai kebijakan moneter saat ini masih bersifat akomodatif. Gubernur The Fed Michael Barr juga menekankan perlunya kalibrasi ulang kebijakan, sementara Austan Goolsbee mengingatkan bahwa inflasi yang persisten dapat menjadi risiko bagi perekonomian.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.