Rupiah Diprediksi Fluktuatif, Pasar Pantau AS-Iran dan The Fed

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran, arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta pergerakan dolar AS di pasar global.
Pengamat mta uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih menghadapi sejumlah sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakannya. Salah satunya berasal dari perkembangan hubungan AS dan Iran yang saat ini masih dalam tahap negosiasi melalui mediasi Qatar.
"Rupiah masih akan bergerak fluktuatif karena pasar mencermati perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta arah kebijakan The Fed," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: BI Luruskan Isu Intervensi Spot Rupiah Dipangkas Jadi 30 Persen
Iran sebelumnya mengajukan proposal periode pembangunan kepercayaan selama tujuh hari yang disebut dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim apabila sejumlah persyaratan terpenuhi.
Proposal tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pemerintah AS melalui mediator Qatar. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi dijadwalkan membahas tanggapan tersebut di Teheran.
Perbedaan antara kedua pihak saat ini disebut terutama berkaitan dengan urutan pelaksanaan sejumlah langkah dalam proposal tersebut. Rencana itu mencakup langkah konkret terkait program nuklir Iran serta upaya membawa kedua negara kembali pada kesepahaman yang sebelumnya telah dibahas.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Setiap eskalasi ketegangan berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dan mendorong volatilitas harga komoditas.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Apakah BI Akan Naikkan Suku Bunga?
Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan The Fed. Sejumlah pejabat bank sentral AS memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter masih akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi perekonomian.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams mengatakan, The Fed tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Menurutnya, stabilitas harga merupakan fondasi bagi perekonomian dan tekanan inflasi diperkirakan dapat mereda setelah dampak sejumlah guncangan ekonomi berlalu.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem menilai kebijakan moneter saat ini masih bersifat akomodatif. Gubernur The Fed Michael Barr juga menekankan perlunya kalibrasi ulang kebijakan, sementara Austan Goolsbee mengingatkan bahwa inflasi yang persisten dapat menjadi risiko bagi perekonomian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







