HSBC Ungkap Sektor Pilihan di Bursa Indonesia Saat Suku Bunga Tinggi: Bukan Tambang

AKURAT.CO Suku bunga tinggi biasanya menjadi kabar yang kurang nyaman bagi pasar saham. Imbal hasil obligasi meningkat, biaya pendanaan ikut menjadi perhatian, sementara investor memiliki lebih banyak pilihan aset untuk menempatkan dananya.
Namun, dampaknya tidak sama bagi setiap sektor. Di tengah kondisi tersebut, HSBC justru melihat sektor perbankan sebagai salah satu bagian dari Bursa Indonesia yang patut diperhatikan.
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research Herald van der Linde mengatakan suku bunga yang lebih tinggi dapat memberikan ruang bagi bank untuk memperoleh margin yang lebih besar. Pandangan ini muncul ketika pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan dari tingginya yield obligasi, meski pertumbuhan laba perusahaan tetap bertahan.
HSBC melihat sektor perbankan sebagai salah satu sektor pilihan di Bursa Indonesia ketika suku bunga masih tinggi. Alasannya berkaitan dengan potensi margin bunga bank. Sementara itu, sektor tambang tetap memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba perusahaan Indonesia, tetapi Herald van der Linde lebih menyoroti perbankan dalam konteks kondisi suku bunga saat ini.
Baca Juga: HSBC: Rupiah ke Rp18.000 per Dolar AS Belum Tentu karena Ekonomi Indonesia Melemah
Baca Juga: Bukan Selalu Beban, HSBC Ungkap Sisi Lain Suku Bunga Tinggi bagi Ekonomi Indonesia
Suku Bunga Tinggi Ternyata Tidak Selalu Jadi Musuh Bank
Ada paradoks dalam kondisi suku bunga tinggi. Bagi banyak perusahaan, bunga yang mahal dapat meningkatkan biaya pendanaan. Bagi bank, kenaikan bunga juga dapat membuka peluang peningkatan pendapatan dari kredit, selama biaya dana dan risiko kredit tetap terkendali.
Herald melihat karakter tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perbankan lebih menarik diperhatikan dalam kondisi pasar saat ini.
Pernyataan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks. Herald tidak mengatakan seluruh saham bank akan naik atau bahwa sektor perbankan pasti memberikan keuntungan lebih tinggi daripada sektor lain.
Pandangan tersebut lebih menunjukkan preferensi sektoral HSBC berdasarkan bagaimana perubahan suku bunga memengaruhi model bisnis bank.
Mengapa HSBC Justru Melirik Saham Bank?
Bisnis perbankan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tingkat suku bunga.
Bank menghimpun dana dari nasabah, kemudian menyalurkannya dalam bentuk kredit. Selisih antara pendapatan bunga dari kredit dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dana menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan margin.
Dalam istilah pasar perbankan, investor mengenal indikator net interest margin (NIM). Secara sederhana, NIM menggambarkan seberapa besar kemampuan bank memperoleh pendapatan bunga bersih dari aset produktifnya.
Ketika suku bunga meningkat, bank bisa memperoleh kesempatan untuk menaikkan bunga kredit. Jika kenaikan pendapatan bunga lebih besar dibandingkan peningkatan biaya dana, margin dapat memperoleh dukungan.
Itulah bagian dari mekanisme yang membuat suku bunga tinggi tidak otomatis menjadi kabar buruk bagi bank.
Namun, kondisi tersebut tidak berlaku secara otomatis untuk seluruh bank. Besarnya manfaat tetap bergantung pada struktur dana, komposisi kredit, kemampuan bank mengelola biaya dana, hingga kualitas aset.
Bukan Berarti Suku Bunga Tinggi Selalu Menguntungkan Bank
Ada sisi lain yang perlu diperhatikan.
Kenaikan suku bunga dapat membuat nasabah membayar bunga kredit lebih tinggi. Jika berlangsung terlalu lama, kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan kredit dan kemampuan sebagian debitur memenuhi kewajibannya.
Bank juga menghadapi persoalan cost of funds, yakni biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh dana. Ketika persaingan mendapatkan dana nasabah meningkat, bank dapat menaikkan bunga deposito atau instrumen simpanan lainnya.
Jika biaya dana naik terlalu cepat, keuntungan dari kenaikan bunga kredit dapat berkurang.
Risiko lain berasal dari kualitas aset. Bunga yang tinggi dapat meningkatkan beban pembayaran bagi debitur, sehingga kemampuan bank menjaga kualitas kredit menjadi semakin penting.
Karena itu, membaca sektor bank hanya dari arah suku bunga tidak cukup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 5Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun






