Impor Minyak Naik, Defisit Transaksi Berjalan RI Tembus USD12,5 Miliar

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari perkembangan geopolitik global, terutama meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi kembali mengganggu pasar minyak dunia.
Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan rencana Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap Iran menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar.
Menurut Ibrahim, Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengumumkan rangkaian sanksi terhadap Iran. Bessent bahkan menyebut akan segera terjadi "D-Day ekonomi" bagi negara tersebut.
Baca Juga: Perlinsos Digital Berpotensi Hemat Anggaran Negara hingga Triliunan Rupiah
"AS menyatakan akan mengumumkan rangkaian sanksi paling keras yang pernah ada terhadap Iran pada hari Senin," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Rencana tersebut muncul ketika ketegangan di sekitar Selat Hormuz masih berlangsung. Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kawasan tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Ibrahim mengatakan Iran telah merespons rencana sanksi baru Amerika Serikat. Pemerintah Iran sebelumnya juga memperingatkan kemungkinan penghentian ekspor minyak apabila tekanan ekonomi terus berlanjut.
"Menurut sumber-sumber perdagangan, penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di Tiongkok telah menurun dan harganya melonjak karena blokade AS telah memangkas pengiriman dari Teheran," ujarnya.
Perkembangan tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan kebutuhan impor minyak dan pada akhirnya menambah tekanan terhadap neraca eksternal.
Tekanan tersebut juga terjadi ketika defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar menjadi USD12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu meningkat dibandingkan defisit USD3,6 miliar atau 1% PDB pada kuartal sebelumnya.
Ibrahim menilai kenaikan harga minyak dan kuatnya volume impor minyak menjadi salah satu faktor yang dapat mempertahankan tekanan terhadap transaksi berjalan Indonesia.
"Para analis memperingatkan bahwa kesenjangan transaksi berjalan Indonesia ini mungkin akan terus berlanjut seiring dengan tetap tingginya harga minyak mentah, volume impor minyak yang tetap kuat, serta melemahnya ekspor akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global," kata Ibrahim.
Selain faktor energi, pasar juga mencermati kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ibrahim mengatakan aktivitas sektor jasa AS masih solid.
Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus tercatat 56,8, naik dari 54,6 pada bulan sebelumnya. Namun, PMI Manufaktur turun dari 53,9 menjadi 53,2.
Baca Juga: Modal Asing Masuk USD1,8 Miliar, Rupiah Menguat ke Rp17.855
Kondisi tersebut membuat pasar tetap memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve. Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan risiko inflasi sehingga berpotensi memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral AS.
"Di sisi lain, kekhawatiran akan inflasi akibat harga energi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah dapat memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) dalam beberapa bulan mendatang," ujar Ibrahim.
Kombinasi penguatan dolar AS, risiko kenaikan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik kemudian menjadi faktor yang perlu dicermati terhadap pergerakan rupiah.
Pada perdagangan sore, Ibrahim mencatat rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.721 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.694. Sebelum melemah, rupiah sempat menguat 2 poin ke level Rp17.721.
Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720-Rp17.770," kata Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









