Laporan Keuangan Asuransi Berubah, Ini yang Perlu Diperhatikan

AKURAT.CO Laporan keuangan perusahaan asuransi mulai memasuki fase baru setelah penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 tentang Kontrak Asuransi.
Perubahan ini tidak sekadar mengubah tampilan laporan keuangan, tetapi juga cara membaca pendapatan dan kinerja perusahaan asuransi.
Tahun 2026 menjadi momentum penting karena perusahaan asuransi di Indonesia mulai mempublikasikan laporan keuangan tahun buku 2025 yang disusun berdasarkan PSAK 117.
Standar tersebut merupakan adopsi dari International Financial Reporting Standard (IFRS) 17 dan berlaku efektif di Indonesia sejak 1 Januari 2025.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Emira E. Oepangat mengatakan perubahan tersebut membuat pemahaman atas laporan keuangan menjadi semakin penting, khususnya bagi masyarakat dan media.
Baca Juga: AAJI Literasi Asuransi ke Anak TK Lewat Dongeng Anak
“Dalam waktu dekat, masyarakat termasuk media akan membaca laporan keuangan tahun buku 2025 audited perusahaan asuransi yang disusun berdasarkan PSAK 117. Pemahaman yang baik terhadap perubahan standar pelaporan keuangan akan mendukung penyajian informasi yang lebih akurat, berimbang, dan sesuai dengan konteks,” kata Emira.
Salah satu perubahan paling mendasar terlihat dari cara perusahaan asuransi mengakui pendapatan.
Akademisi Akuntansi Universitas Padjadjaran Ersa Tri Wahyuni menjelaskan, pada standar sebelumnya, informasi mengenai premi bruto masih dapat ditemukan dalam laporan keuangan.
Namun, dalam laporan berbasis PSAK 117, angka tersebut tidak lagi menjadi dasar pengukuran pendapatan seperti sebelumnya.
“Pendapatan tidak diukur berdasarkan penerimaan arus kas premi, melainkan berdasarkan pelepasan liabilitas seiring berjalannya waktu ketika perusahaan asuransi memberikan jasanya,” jelas Ersa dalam workshop AAJI bertajuk 'Memahami Laporan Keuangan Industri Asuransi di Era PSAK 117'.
Dengan perubahan tersebut, pembaca laporan keuangan tidak dapat lagi menggunakan besarnya premi bruto sebagai satu-satunya gambaran mengenai kinerja perusahaan.
Perhatian kemudian bergeser pada pendapatan layanan asuransi atau insurance revenue serta hasil jasa asuransi atau insurance service result.
Insurance revenue mencerminkan pendapatan yang berasal dari layanan asuransi yang diberikan, sedangkan insurance service result menggambarkan kinerja operasional inti bisnis asuransi.
Di sisi lain, hasil investasi atau investment result menjadi komponen tersendiri yang perlu dibaca untuk melihat kontribusi aktivitas investasi terhadap kinerja perusahaan.
Selain itu, terdapat contract service margin (CSM), yakni komponen yang berkaitan dengan nilai jasa asuransi masa depan. Pergerakan CSM dapat dipengaruhi antara lain oleh bisnis baru maupun perkembangan portofolio yang sudah ada.
Perubahan cara membaca laporan tersebut merupakan bagian dari tujuan PSAK 117 untuk meningkatkan konsistensi dan keterbandingan laporan keuangan ant perusahaan asuransi. Sebelumnya, PSAK 62 dinilai masih memberikan ruang terhadap perbedaan praktik pelaporan karena belum mengatur sejumlah aspek secara lebih terperinci.
Menurut Ersa, penerapan PSAK 117 juga mengubah sejumlah aspek laporan keuangan, mulai dari penyajian laporan laba rugi, pengukuran liabilitas kontrak asuransi hingga penyajian aset dan liabilitas.
Perubahan tersebut membuat angka laba tidak lagi menjadi satu-satunya informasi yang harus diperhatikan ketika menilai sebuah perusahaan asuransi.
Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa mengatakan PSAK 117 mendorong perubahan paradigma dalam melihat kinerja industri.
“Implementasi PSAK 117 bukan sekadar perubahan standar akuntansi, tetapi perjalanan transformasi bernilai bagi seluruh industri asuransi. Tidak hanya melihat laba bersih, tapi juga kualitas, keberlanjutan dan sumber nilai layanan masa depan,” kata Meylindawati.
Dengan demikian, laporan keuangan asuransi berbasis PSAK 117 menuntut pembaca melihat lebih dari sekadar angka laba bersih. Insurance revenue, insurance service result, investment result, pergerakan CSM serta rasio keuangan seperti New RBC menjadi sejumlah indikator yang perlu diperhatikan secara bersama-sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 6Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








