Tekstil RI Dituntut Penuhi Standar Baru demi Genjot Ekspor

AKURAT.CO Persaingan industri tekstil global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga. Pembeli internasional mulai menjadikan aspek keberlanjutan, transparansi rantai pasok, dan kepatuhan terhadap standar internasional sebagai syarat utama dalam memilih pemasok.
Perubahan tersebut dinilai menjadi tantangan baru bagi industri tekstil Indonesia yang tengah berupaya memperluas pasar ekspor di tengah membaiknya permintaan global.
Direktur Pelaksana Bisnis I Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Anton Herdianto mengatakan transformasi industri menjadi kebutuhan agar produk tekstil Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional.
Baca Juga: Ekspor Tekstil RI Diproyeksi Tumbuh hingga 4% pada 2027, Ini Faktor Pendorongnya
"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan," ujar Anton melalui keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).
Menurut dia, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat, mulai dari biaya tenaga kerja yang kompetitif hingga struktur industri tekstil yang telah terintegrasi dari hulu ke hilir.
Namun, keunggulan tersebut perlu diimbangi dengan modernisasi mesin produksi, peningkatan produktivitas, serta penerapan standar keberlanjutan yang kini menjadi tuntutan pasar global.
Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan terhadap produk tekstil berkelanjutan terus meningkat, terutama pada segmen premium. Tren tersebut diperkirakan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekspor tekstil nasional hingga 2027.
Untuk mendukung proses transformasi industri, LPEI menyediakan berbagai instrumen pembiayaan ekspor, penjaminan, serta asuransi perdagangan guna membantu eksportir mengurangi risiko bisnis.
Baca Juga: Purbaya: Peredaran Pakaian Bekas Ilegal Ganggu Industri Tekstil Nasional
Langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya mendorong revitalisasi industri tekstil dan alas kaki melalui penyediaan pembiayaan yang lebih terjangkau guna memperbarui mesin produksi dan meningkatkan daya saing global.
Direktur Utama PT Ungaran Sari Garments, Maniwanen, mengatakan fasilitas pembiayaan dan asuransi dari LPEI membantu perusahaan menjaga kelancaran ekspor.
"Fasilitas LPEI sangat membantu operasional ekspor kami. Selain mengurangi beban pembiayaan, produk asuransinya juga memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sehingga kami lebih percaya diri dalam memperluas pasar ekspor," ujarnya.
Pelaku industri menilai kolaborasi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan dunia usaha menjadi salah satu faktor penting agar industri tekstil Indonesia mampu mempertahankan daya saing di tengah perubahan lanskap perdagangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 7Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 8Link Download Kalender 2027 PDF Lengkap dengan Tanggal Merah, Libur Nasional, dan Cuti Bersama
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok








