Pengertian dan Perbedaan Saham dan Obligasi yang Perlu Dipahami Sebelum Berinvestasi

AKURAT.CO Investasi menjadi salah satu cara yang banyak dipilih untuk mengembangkan aset dan mencapai tujuan keuangan di masa depan.
Saat mulai mengenal dunia investasi, dua instrumen yang sering dibandingkan adalah saham dan obligasi. Keduanya sama-sama populer, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.
Bagi investor pemula, memahami perbedaan saham dan obligasi sangat penting sebelum menempatkan dana.
Kesalahan dalam memilih instrumen investasi dapat membuat seseorang memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan tujuan maupun profil risikonya.
Meskipun sama-sama diperdagangkan di pasar modal, saham dan obligasi menawarkan mekanisme, keuntungan, serta tingkat risiko yang berbeda. Oleh karena itu, calon investor perlu memahami karakteristik masing-masing instrumen sebelum mengambil keputusan investasi.
Baca Juga: Pengertian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Fungsinya
Apa Itu Saham?
Saham adalah tanda kepemilikan seseorang atau badan usaha terhadap suatu perusahaan. Ketika membeli saham, investor secara tidak langsung menjadi salah satu pemilik perusahaan sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki.
Sebagai pemegang saham, investor memiliki kesempatan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham maupun pembagian dividen. Namun, keuntungan tersebut tidak selalu pasti karena bergantung pada kinerja perusahaan dan kondisi pasar.
Harga saham dapat mengalami kenaikan maupun penurunan setiap waktu. Oleh karena itu, saham sering dianggap sebagai instrumen investasi dengan potensi keuntungan tinggi sekaligus risiko yang lebih besar.
Apa Itu Obligasi?
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan untuk memperoleh pendanaan dari investor. Dalam instrumen ini, investor bertindak sebagai pihak yang memberikan pinjaman kepada penerbit obligasi.
Sebagai imbalannya, investor akan menerima pembayaran bunga atau kupon secara berkala sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Selain itu, pokok investasi akan dikembalikan saat obligasi mencapai tanggal jatuh tempo.
Karena memiliki pendapatan yang relatif lebih stabil, obligasi sering dipilih oleh investor yang menginginkan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan saham.
Mengapa Penting Memahami Perbedaan Saham dan Obligasi?
Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik yang berbeda. Pemahaman yang baik akan membantu investor menentukan pilihan investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan.
Selain itu, mengetahui perbedaan keduanya dapat membantu investor mengelola risiko dengan lebih baik. Dengan begitu, keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih terencana dan rasional.
Baca Juga: Perbedaan Obligasi Negara dan Obligasi Korporasi dari Segi Risiko yang Perlu Diketahui
Perbedaan Saham dan Obligasi
Meskipun sama-sama termasuk instrumen pasar modal, saham dan obligasi memiliki sejumlah perbedaan yang cukup mendasar. Berikut beberapa aspek yang membedakan keduanya.
1. Status Kepemilikan Investor
Ketika membeli saham, investor menjadi pemilik sebagian perusahaan. Semakin banyak saham yang dimiliki, semakin besar pula porsi kepemilikan terhadap perusahaan tersebut.
Sebaliknya, investor obligasi tidak memiliki kepemilikan atas perusahaan atau institusi yang menerbitkan obligasi. Investor hanya berperan sebagai pemberi pinjaman hingga masa jatuh tempo berakhir.
2. Sumber Keuntungan
Keuntungan saham umumnya berasal dari capital gain dan dividen. Capital gain diperoleh ketika harga jual saham lebih tinggi dibandingkan harga belinya.
Sementara itu, keuntungan obligasi berasal dari pembayaran kupon atau bunga yang diberikan secara berkala. Pendapatan ini biasanya telah ditentukan sejak awal penerbitan obligasi.
3. Tingkat Risiko
Saham memiliki tingkat risiko yang relatif lebih tinggi karena harga pasar dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat. Faktor ekonomi, kondisi perusahaan, dan sentimen pasar dapat memengaruhi pergerakan harga saham.
Di sisi lain, obligasi cenderung memiliki risiko yang lebih rendah karena memberikan pendapatan yang lebih stabil. Namun, obligasi tetap memiliki risiko tertentu seperti risiko gagal bayar dan perubahan suku bunga.
4. Potensi Imbal Hasil
Saham menawarkan potensi keuntungan yang lebih besar dibandingkan obligasi. Dalam kondisi tertentu, kenaikan harga saham dapat memberikan keuntungan yang signifikan bagi investor.
Obligasi biasanya memberikan imbal hasil yang lebih stabil tetapi tidak sebesar potensi keuntungan saham. Karena itu, instrumen ini lebih sering dipilih oleh investor yang mengutamakan kestabilan pendapatan.
5. Jangka Waktu Investasi
Saham tidak memiliki tanggal jatuh tempo sehingga dapat dimiliki selama investor menginginkannya. Investor dapat menjual saham kapan saja selama pasar sedang beroperasi.
Sebaliknya, obligasi memiliki masa berlaku tertentu yang disebut jatuh tempo. Setelah periode tersebut berakhir, penerbit akan mengembalikan dana pokok kepada investor.
Amalia Febriyani (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon








