Rupiah Masih Tertekan Konflik Timur Tengah, Risiko Impor Makin Besar

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini setelah dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.885 per USD.
Pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan penguatan indeks dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang menekan rupiah. Menurut dia, meningkatnya tensi antara Iran dan Amerika Serikat serta potensi meluasnya konflik ke kawasan Lebanon mendorong pelaku pasar kembali memburu aset-aset berbasis dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.805 di Tengah Libur Panjang Berkat Sentimen Repatriasi DHE
"Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Kondisi ini membuat indeks dolar AS menguat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," kata Ibrahim di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang kembali menandatangani perubahan tarif impor untuk sejumlah komoditas industri seperti tembaga, aluminium, dan baja.
Kebijakan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek perdagangan global dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah dinilai semakin sensitif karena Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi.
Data Kementerian ESDM menunjukkan konsumsi minyak nasional berada jauh di atas kapasitas produksi domestik.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia sebelumnya mengungkapkan, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Nilai impor minyak dan LPG bahkan mencapai sekitar Rp500 triliun per tahun.
Sementara itu, sejumlah data sektor migas menunjukkan kebutuhan energi nasional yang terus meningkat membuat ketergantungan impor masih menjadi tantangan struktural.
Volume impor minyak Indonesia juga tercatat meningkat sepanjang 2025, baik untuk minyak mentah maupun produk hasil kilang.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah langsung berdampak pada kebutuhan devisa untuk membayar impor energi.
"Ketika harga minyak dunia naik dan rupiah melemah, kebutuhan dolar AS untuk impor otomatis meningkat. Ini menjadi tekanan tambahan terhadap nilai tukar," ujarnya.
Pemerintah sendiri baru saja menerbitkan regulasi yang memungkinkan lembaga negara melakukan impor minyak dan LPG dalam kondisi tertentu untuk menjaga ketahanan energi nasional. Kebijakan tersebut menunjukkan pentingnya pasokan energi di tengah dinamika pasar global.
Ibrahim menilai dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada sektor energi. Sejumlah komoditas yang masih bergantung pada bahan baku impor berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi.
Komoditas seperti kedelai, jagung, pupuk hingga berbagai bahan baku industri dinilai rentan mengalami kenaikan harga apabila tren pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama.
"Ketika rupiah melemah, biaya impor naik. Pada akhirnya akan mempengaruhi harga barang di tingkat konsumen dan menekan daya beli masyarakat," katanya.
Kekhawatiran tersebut muncul ketika sejumlah indikator konsumsi rumah tangga masih menunjukkan pemulihan yang belum merata. Tekanan harga pangan dan biaya hidup berpotensi menjadi tantangan tambahan bagi kelompok masyarakat berpendapatan menengah dan bawah.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah memiliki hubungan erat dengan pergerakan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik global. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia cenderung menghadapi tekanan ganda ketika harga minyak naik bersamaan dengan penguatan dolar AS.
Kondisi serupa pernah terjadi pada periode 2022 hingga 2024 saat lonjakan harga energi global mendorong kenaikan biaya impor dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi domestik.
Di sisi lain, pemerintah saat ini tengah mendorong optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka menengah.
Pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Jika tekanan nilai tukar berlanjut dan memicu kenaikan inflasi impor, ruang pelonggaran suku bunga dapat menjadi lebih terbatas.
Bank Indonesia sebelumnya menegaskan fokus utama kebijakan moneter tetap pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi sesuai target yang ditetapkan pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 7Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 8Kisi-Kisi Bahasa Inggris TKA SMA 2026 Lengkap dengan Contoh Soal
- 9Pemerintah Tegaskan Perekonomian Indonesia Masih Positif Jelang Akhir Tahun
- 10Ketua KPK Ingatkan Nusron Wahid Penuhi Panggilan Penyidik Tanpa Harus Dijemput Paksa









