IHSG dan Obligasi Kompak Memerah Imbas Lonjakan Harga Minyak Global

AKURAT.CO Pasar finansial Indonesia melemah tajam untuk hari kedua berturut-turut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 3,38% atau 249,12 poin ke level 7.129,49, diikuti tekanan di pasar obligasi yang tercermin dari kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) di seluruh tenor.
Tekanan di pasar saham dipicu aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Penurunan terdalam terjadi pada BBCA (-5,84%), DSSA (-10,22%), BREN (-6,29%), BBRI (-2,85%), dan BMRI (-2,81%).
Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun naik 8 basis poin ke level 6,78%, sementara tenor 5 tahun meningkat ke 6,61% dari sebelumnya 6,52%. Dari sisi nilai tukar, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp17.300 per dolar AS sebelum ditutup menguat tipis 0,33% ke Rp17.229 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways di 7.500–7.600, Ternyata Ini Pemicunya
Bank Indonesia menegaskan langkah stabilisasi akan diperkuat. “Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tulis riset Eastspiring Investment, Jumat (24/4/2026).
Geopolitik Picu Dinamika Global
Tekanan pasar domestik tidak terlepas dari dinamika global. Harga minyak dunia kembali bertahan di atas USD100 per barel, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Jalur ini diketahui menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga setiap eskalasi berpotensi memicu lonjakan harga energi.
Secara historis, lonjakan harga minyak di atas USD100 sering kali diikuti peningkatan volatilitas pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi serupa pernah terjadi pada periode 2011–2014 dan awal 2022 saat konflik geopolitik memanas.
Dampak Lonjakan Harga Minyak Global
Kenaikan harga minyak memberikan tekanan ganda bagi Indonesia. Pertama, dari sisi fiskal, subsidi energi berpotensi meningkat jika harga minyak bertahan tinggi. Ini dapat memperlebar defisit anggaran.
Kedua, tekanan terhadap rupiah meningkat seiring kenaikan kebutuhan impor energi. Pelemahan nilai tukar juga berdampak pada inflasi, terutama dari komponen energi dan transportasi.
Di pasar keuangan, kombinasi pelemahan IHSG dan kenaikan yield SBN mencerminkan pergeseran preferensi investor global dari aset berisiko ke aset yang lebih aman. Hal ini juga menandakan meningkatnya premi risiko terhadap pasar domestik.
Dalam jangka pendek, pasar diperkirakan masih akan bergerak volatil seiring minimnya katalis domestik dan tingginya ketidakpastian global. Stabilitas rupiah dan arah harga minyak akan menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan pasar berikutnya.
Otoritas moneter dan fiskal diperkirakan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 8Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon
- 10Hakim Tolak Batalkan Dakwaan Febrie Adriansyah, Perkara Emas 74 Kilogram dan Valas Dilanjutkan ke Pembuktian








